MASJID AL-MUSABBIHIN

MASJID AL-MUSABBIHIN
Sumber Dakwah dan Informasi DKM AL-MUSABBIHIN PERUM KOMPAS INDAH TAMBUN
Latest Post

Tadarus Al-Qur'an Bid'ah???

Written By rudi yanto on Jumat, 17 Juni 2016 | 6/17/2016

Disadur dari :https://generasisalaf.wordpress.com/2016/06/07/tadarusan-bidah/
Persis di awal-awal bulan Ramadan seperti ini. Beberapa tahun lalu. Suatu diskusi berlangsung sangat hangat di kelas daurah atau short course yang diselenggarakan oleh Universitas Umm Al-Qura Mekah.
Peserta diskusi adalah dosen-dosen dari berbagai universitas Islam di Indonesia. Narasumbernya saat itu adalah guru besar bidang fikih pada kampus yang tak jauh dari Masjidilharam tersebut. Karena pesertanya juga para dosen, sang guru besar tentulah bukan orang sembarangan. Dia bahkan tercatat banyak berkecimpung dalam kegiatan perfatwaan di Mekah, terutama Masjidilharam, yang memang banyak melibatkan dosen-dosen Umm Al-Qura, termasuk para imamnya.
Apa yang membuat diskusi saat itu menghangat dan menarik perhatian semua yang hadir? Ternyata topik yang dibicarakan adalah persoalan tadarusa yang kebetulan ditanyakan oleh salah seorang dosen dari Kalimantan. Mulanya diskusi biasa-biasa saja. Namun, setelah dosen pengasuh salah satu pesantren terbesar di Kalimantan itu menanyakan hukum tadarusan, suasana sedikit lebih menghangat.
Mendengar pertanyaan itu, sang guru besar fikih ini spontan menyebut bahwa hukum tadarusan itu bidah. Nah, jawaban sang guru besar inilah yang kemudian memunculkan respons dari dosen-dosen yang menganggap aneh jawaban itu, termasuk kami salah satunya.
Kami sempat bertanya, “Ya Syekh, di manakah letak bidahnya? Kami menganggap tidak ada varian ibadah baru dalam tadarusan. Tadarusan yang dilakukan di Indonesia adalah bagian dari cara belajar Alquran selama bulan Ramadan. Waktunya bisa setelah tarawih, bisa setelah salat dhuha, bisa setelah salat zuhur, atau bisa juga setelah salat asar.”
“Dalam tadarusan, jamaah yang sudah lancar bacaan Alquran plus tajwidnya, membimbing dan mengoreksi jamaah yang belum lancar baca Alquran. Mohon dijelaskan kepada kami letak bidahnya di mana?” lanjut kami bersemangat saat itu.
Mendengar respons kami tersebut, rupanya sang guru besar tersebut agak terkejut. Beliau tidak menyangka kegiatan yang sudah dinilainya bidah itu ternyata tak sesederhana yang dijelaskan oleh sang penanya. Setelah terdiam beberapa saat, beliau kemudian menanggapi apa yang kami sampaikan.
“Kalau begitu (tadarus) bukan bidah,” tanggapnya. Tanggapan sang syekh inilah yang kemudian membuat dosen-dosen yang mengikuti kelas itu bergemuruh. Kami yang berada di ruangan itu kontan cukup kaget bahwa hukum bidah pada tadarusan itu dalam sekejap berubah menjadi tidak bidah, setelah beliau mendengar penjelasan lebih detail mengenai tadarusan dari kami.
Namun, kami justru menilai di situlah letak kedalaman pengetahuan sang guru besar. Beliau justru menunjukkan pemahaman beliau yang baik bahwa dalam kaidah Ushul Fiqh-nya memang disebutkan semua hukum itu tergantung pada ada dan tidaknya alasan yang mendasarinya (al-hukm yadur ma’a ‘illatihi wujudan wa ‘adaman).
Inilah yang kemudian menguatkan pandangan kami bahwa semakin dalam pengetahuan seseorang justru membuatnya tidak kaku dalam melihat sesuatu, terutama dalam kaitan memberi pandangan hukum.
Dosen-dosen Universitas Umm Al-Qura Mekah yang menjadi narasumber pada kegiatan itu, nyatanya semua mau menerima argumen yang berbeda dengan yang mereka sampaikan. Mereka tidak berpretensi memonopoli kebenaran dalil yang mereka ajukan. Karena, memang begitulah akhlak akademik semestisnya. Itu pula yang mestinya menjadi akhlak seorang ulama.
Khusus terkait persoalan hukum bidah tadarusan yang kemudian berubah menjadi tidak bidah, kami menjadi ingat pesan almarhum Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub. “Kita sekarang hidup pada masa di mana orang menghukumi bidah apa yang tidak diketahuinya. Jadi, definisi bidah itu menjadi hukum mengenai apa yang tidak diketahuinya.”
Apa yang disampaikan Pak Kiai tersebut berkaitan waktu itu dengan adanya orang yang mengkhukumi bacaan Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas sebanyak 7 kali setelah salat Jumat, yang dianggapnya bidah. Padahal, menurut Pak Kiai, ada hadis sahih mengenai hal itu.
Atas dasar itu pulalah, ketika ditanya mengenai pandangan kami terkait bersalaman setelah salat maktubah, kami menganggapnya bukan bidah, selama tidak menganggap bersalaman itu bagian dari salat. Apalagi memang ada hadis sahih mengenai fadhilah bersalaman setiap kali bertemu sesama Muslim.
Dalil Amaliyah Tadarus Di Bulan Ramadlan 
Pelaksanaan Tadarus atau mengaji al-Quran di masjid sudah dilaksanakan di masa Sayidina Umar:
“Diriwayatkan dari Abi Ishaq al-Hamdani: Ali bin Abi Thalib keluar di awal Ramadlan, lentera dinyalakan dan kitab Allah di baca di masjid-masjid. Ali berkata: Semoga Allah menerangimu, wahai Umar dalam kuburmu, sebagaimana engkau terangi masjid-masjid Allah dengan al-Quran” (Riwayat Ibnu Syahin)
Hal tersebut berdasarkan hadis:
“Dari Ibn Abbas RA bahwa Rasululah SAW adalah orang yang paling pemurah. Sedangkan saat yang paling pemurah bagi beliau pada bulan Ramadhan adalah pada saat malaikat jibril mengunjungi beliau. Malaikat jibril selalu mengunjungi Nabi setiap malam bulan ramadhan, lalu melakukan mudarasah (tadarus) al-Qur‟an bersama Nabi. Rasul SAW ketika dikunjungi malaikat jibril, lebih dermawan dari angin yang berhembus.” (Musnad Ahmad [3358])
Syeikh Nawawi al-Bantani mengatakan:
“Termasuk membaca al-Qur‟an (pada malam Ramadhan) adalah mudarasah (tadarus), yang sering disebut pula dengan idarah. Yakni seseorang membaca pada orang lain. Kemudian orang lain itu membaca pada dirinya. (yang seperti ini tetap sunnah) sekalipun apa yang dibaca (orang tersebut) tidak seperti yang dibaca orang pertama.” (Nihayah alZain, 194-195)
Begitu pula:
“(Dan disunatkan) dengan kesunatan yang kokoh (di bulan ramadhan tadarus al-Qur’an), yaitu seseorang membaca al-Qur’an dihadapan orang lain dan orang lain membaca alQur’an dihadapannya, berdasarkan hadits dua kitab shahih (artinya) “Malaikat Jibril menjumpai Nabi SAW pada setiap malam dari bulan ramadhan, lalu tadarus al-Qur’an bersama beliau” (Raudl ath-Thalib).
Tadarus di Malam Hari Dengan Suara Keras
Keutamaan membaca al-Quran di bulan Ramadlan dijelaskan dalam riwayat hadis, sahabat, ulama Salaf dan lainnya. Mengapa biasa dibaca di malam hari?
ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻣﻮﺳﻰ، ﻗﺎﻝ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: ” ﺇﻧﻲ ﻷﻋﺮﻑ ﺃﺻﻮاﺕ ﺭﻓﻘﺔ اﻷﺷﻌﺮﻳﻴﻦ ﺑﺎﻟﻘﺮﺁﻥ ﺣﻴﻦ ﻳﺪﺧﻠﻮﻥ ﺑﺎﻟﻠﻴﻞ، ﻭﺃﻋﺮﻑ ﻣﻨﺎﺯﻟﻬﻢ ﻣﻦ ﺃﺻﻮاﺗﻬﻢ ﺑﺎﻟﻘﺮﺁﻥ ﺑﺎﻟﻠﻴﻞ، ﻭﺇﻥ ﻛﻨﺖ ﻟﻢ ﺃﺭ ﻣﻨﺎﺯﻟﻬﻢ ﺣﻴﻦ ﻧﺰﻟﻮا ﺑﺎﻟﻨﻬﺎﺭ . رواه البخاري ومسلم
Nabi shalla Allahu alaihi wa sallama bersabda: “Sungguh aku mengenal suara kelompok Kabilah Asyari dengan bacaan al-Quran di malam hari. Aku tahu tempat mereka dari suara bacaan al-Quran di malam hari, meski aku tak melihat ketika mereka singgah di siang hari” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Dari hadis ini al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:
ﻭﻓﻴﻪ ﺃﻥ ﺭﻓﻊ اﻟﺼﻮﺕ ﺑﺎﻟﻘﺮﺁﻥ ﺑﺎﻟﻠﻴﻞ ﻣﺴﺘﺤﺴﻦ ﻟﻜﻦ ﻣﺤﻠﻪ ﺇﺫا ﻟﻢ ﻳﺆﺫ ﺃﺣﺪا ﻭﺃﻣﻦ ﻣﻦ اﻟﺮﻳﺎء . فتح الباري
“Hadis ini menjelaskan bahwa mengeraskan bacaan al-Quran di malam hari adalah bagus, namun selama tidak mengganggu orang lain dan jauh dari pamer” (Fath al-Bari, 7/487)
Referensi :
da1da2da3da4



Kajian Tentang Tradisi Ruwahan

Written By rudi yanto on Selasa, 17 Mei 2016 | 5/17/2016



Saat ini kita berada di bulan Sya’ban atau orang jawa menyebutnya dengan bulan Ruwah. Pada bulan ini ada tradisi yang dilestarikan sampai sekarang dan masih dijalankan terutama di daerah pinggiran atau pedesaan. Orang mengenalnya sebagai tradisi Ruwahan atau Arwahan yaitu tradisi yang berkaitan dengan pengiriman kepada arwah orang-orang yang telah meninggal dengan cara dido’akan bersama dengan mengundang tetangga kanan kiri yang pulangnya mereka diberi ”berkat” sebagai simbol rasa terima kasih. Oleh karena itu, jika bulan Ruwah tiba pasar-pasar tradisional akan kebanjiran order untuk selamatan ruwahan, diantaranya beras, bumbu dapur, lauk semuanya laris untuk kebutuhan selamatan Ruwahan.
Yang patut dipahami bahwa doa dari orang yg hidup kepada orang-orang  yang telah mati itu bermanfaat. Dalil yang mendukungnya adalah firman Allah,
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa:
“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.“
(QS. Al Hasyr: 10).
Ayat di atas menunjukkan bahwa di antara bentuk kemanfaatan yang dapat diberikan oleh orang yang masih hidup kepada orang yang sudah meninggal dunia adalah do’a. Ayat ini mencakup umum, yaitu ada doa yang ditujukan pada orang yang masih hidup dan orang yang telah meninggal dunia.
Dari Ummu Darda’, ia berkata bahwa Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata:
“Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim).
Dalam kamus bahasa Indonesia, tradisi berarti suatu adat kebiasaan yang diturunkan oleh nenek moyang yang masih dijalankan oleh masyarakat sampai sekarang, sesuatu yang dianggap bermakna baik atau luhur sampai dengan saat ini. Nah, demikian pula untuk tradisi Ruwahan. Tradisi ruwahan sebenarnya merupakan tradisi peninggalan nenek moyang kita. Ritualnya sendiri meliputi ritual keliling desa, ritual bersih desa hingga bersih kubur, ritual kenduri, ritual ziarah kubur dan berakhir dengan ritual padusan/mandi. Dalam tradisi tersebut yang diagungkan adalah roh nenek moyang dan para dewa.
Ketika islam pertama kali diperkenalkan kepada nenek moyang kita oleh para wali, tradisi ruwahan ini tetap dipertahankan khususnya nilai-nilai luhur yang sejalan dengan ajaran Islam secara ibadah horizontalnya, namun sudah dibedakan NIAT-nya untuk bukan lagi mengagungkan roh atau dewa, namun semata-mata ibadah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam bentuk ukhuwah, shodaqoh, ziarah kubur, doa anak shaleh, dan sebagainya.
Dalam ajaran para wali songo tradisi ruwahan tersebut telah banyak bergeser ke ajaran Islam dengan pemaknaan tertentu, misalnya
1. Tradisi nyadran (ziarah kubur), dimanifestasikan untuk mengingat kepada datangnya kematian dan memicu kesiapan bekal kita untuk masa hidup setelah kematian tersebut.
2. Tradisi nyadran juga dimanifestasikan sebagai wujud amalan bakti anak yang shaleh kepada orangtuanya, sebagai amal yang tak putus-putus (birul walidain).
3. Bersih desa, lebih menitikberatkan kepada kegotong royongan dan guyub rukunnya warga untuk memelihara lingkungannya (ukhuwah) agar jadi bersih dan lebih indah ketika bulan puasa nantinya. Kebersihan sendiri merupakan salah satu wujud keimanan, bukan?
4. Kenduri dan megengan (kirim2 hantaran makanan; yang di tradisi Aceh harus dengan daging = “meugang”) adalah manifestasi dari paktik do’a bagi semua keluarga sanak saudaranya yang masih hidup dengan saling bersilaturahmi, saling memaafkan dan membantu untuk siap memasuki ibadah puasa dengan rasa yang suci penuh suka cita menjadi kesadaran orang Islam Jawa.
5. Pada acara nyadran bebungaan ditaburkan di atas pusara mereka yang kita cintai, karena itu nyadran juga disebut nyekar (menghantarkan bunga). Indahnya warna-warni bunga dan keharumannya menjadi simbol bagi orang Jawa untuk selalu mengenang semua yang indah dan yang baik dari diri mereka yang telah mendahului.
6. Mandi untuk mensucikan diri dari hadats besar, sehingga lengkaplah kesiapannya menapaki ibadah puasa nantinya.
Dengan demikian, ritus itu memberikan semangat bagi yg masih hidup untuk terus berlomba-lomba demi kebaikan (fastabiqul khoirat). Bahkan di daerah kota santri di pantura, Tradisi megengan di bulan Ruwah yang bisa jadi berlangsung seminggu sebelum Puasa tidak hanya menciptakan relasi kesalehan sosial di masyarakat Jawa, namun tradisi ini juga menumbuhkan relasi putaran perekonomian. Pasar kaget ruwahan seperti halnya Dugderan di Semarang atau Dhandangan di Kudus, muncul sebagai dampak kebutuhan masyarakat pada waktu itu untuk menyemangati anak-anak dan keluarganya, misalnya untuk membelikan sarung, mukena, jilbab dan peci yang baru, kitab Qur’an yang baru, dan kain-kain untuk mengganti mihrab di surau dan masjid desa, atau agar dapat membeli bahan2 kebutuhan selama awal-awal minggu di bulan puasa. (Masih ingat kan dulu pasar tak setiap hari atau setiap jam buka seperti sekarang?)
Di dalam masyarakat Jawa sendiri setiap tindakannya erat sekali dengan simbol-simbol, dalam rangka untuk lebih memaknai suatu ibadahnya. Sebagai misal dalam tradisi megengan biasanya ada hantaran ke tetangga atau kerabat saudara, isi hantaran tradisi megengan di Jawa ini tidak pernah meninggalkan tiga sajian makanan yakni ketan, kolak, dan apem. Makna dari ketiga makanan itu adalah :
1. Ketan yang lengket merupakan simbol mengeratkan tali silaturahmi,
2. Kolak yang manis bersantan mengajak persaudaraan bisa lebih ‘dewasa’ dan barokah penuh kemanisan, dan
3. Apem berarti jika ada yang salah maka sekiranya bisa saling memaafkan. Apem dari kata afwan minhum (arab) yang berarti kata maaf dari mereka. Bahkan di beberapa tempat yang mayoritas warganya bekerja atau bertempat tinggal di luar daerahnya, di dalam tradisi ruwahan juga mengenal Mudik Ruwahan. Mudiknya orang Jawa untuk ruwahan tak ubahnya sedang mereplika sirah Nabi Muhammad ketika beliau dan para sahabatnya hijrah ke Yatsrib atau Madinah, yakni mudik untuk melakukan tiga hal yang dibangun untuk mengukuhkan iman keislaman yakni mendirikan masjid, pasar, dan mengikat tali persaudaraan.
Nah, begitu kiranya dasar pelaksaan tradisi ruwahan tersebut dalam kaca mata islam. Selama ibadah tersebut berarah horizontal, perbedaan pelaksanaan antara daerah satu dengan lainnya tentu tak layak jika serta merta dituding sebagai penyakit TBC (Takhayul, Bidáh dan Churafat). Ingat kan bahwa kunci dari semua amalan adalah NIATNYA?
Dari ‘Umar bin Al Khottob, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).
Beberapa faedah fikih yg bisa ditarik:
1. Tidak mungkin suatu amalan itu ada kecuali sudah didahului niat. Adapun jika ada amalan yang tanpa niat, maka tidak disebut amalan seperti amalan dari orang yang tertidur dan gila. Sedangkan orang yang berakal tidaklah demikian, setiap beramal pasti sudah memiliki niat. Oleh karenanya, Ibnu Qudamah mengatakan,
لو كلَّفنا الله عملاً بلا نيَّة لكان من تكليف ما لا يُطاق
“Seandainya Allah membebani suatu amalan tanpa niat, maka itu sama halnya membebani sesuatu yang tidak dimampui. [Kitab Dzammul Muwaswisin karya Ibnu Qudamah, hal. 15].
2. “Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan”, maksud hadits ini adalah setiap orang akan memperoleh pahala sesuai kadar niatnya. Jika niatannya baik, maka diganjar dengan kebaikan. Sebaliknya, jika niatannya jelek, diganjar pula dengan kejelekan.
3. Niat itu berarti bermaksud dan berkehendak. Letak niat adalah di dalam hati. Niat tidak perlu dilafazhkan untuk amalan apa pun berdasarkan kata sepakat para ulama (baca: ijma’). Sebagian ulama Syafi’iyah belakangan menganjurkan melafazhkan niat.
4. Niat ada dua macam: (1) niat amalan, (2) niat pada siapakah ditujukan amalan tersebut.
Niat amalan ada dua fungsi: (1) membedakan ibadah dan non-ibadah, (2) membedakan ibadah yang satu dan ibadah lainnya.
Sedangkan yang dimaksud dengan niat jenis kedua adalah niat tersebut ditujukan untuk mengharap wajah Allah dan kehidupan akhirat. Inilah yang dimaksud dengan niat yang ikhlas.
5. Manusia diganjar bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkatan niatnya.
6. Jika manusia dalam keadaan udzur untuk beramal, ia akan tetap diganjar. Karena seandainya ia tidak ada udzur atau halangan, tentu ia akan beramal. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
“Jika seorang hamba sakit atau bersafar, maka dicatat baginya amalan seperti ia dalam keadaan mukim dan sehat” (HR. Bukhari no. 2996).
7. Jika berbeda antara yang diucap dengan yg diniatkan dalam hati, maka yang jadi patokan adalah niatan di hati.
8 Masalah niat pada masuk dalam setiap bab fikih karena niat adalah syarat untuk setiap amalan. Sehingga sebagian ulama berkata,
لو صنَّفتُ الأبوابَ ، لجعلتُ حديثَ عمرَ في الأعمالِ بالنِّيَّةِ في كلّ بابٍ
“Seandainya aku menulis berbagai bab, maka aku akan jadikan hadits ‘Umar ini di awal setiap bab.” Inilah perkataan ‘Abdurrahman bin Mahdi sebagaimana dibawakan oleh Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab Jami’ul wal Hikam.
Oke kalau begitu, kita harus bisa membedakan mana yang termasuk niat (ibadah) ruwahan dan mana tradisi dan budaya (non ibadah) yang hanya menjadi simbol atau kiasan dari sebuat amalan ibadah seperti kue apem, kolak dan ketan yang telah saya sebutkan diatas, dan mari kita sambut Ramadhan dengan suasana yang lebih maju dan modern lagi. Yuk beli ipad atau gadget lain untuk memudahkan menghafal Qur’an, minimal Juz Amma lah. Atau beli Quran yang lengkap dengan terjemah per-kata dan asbabun nuzul dan haditsnya yang sesuai. Hantaran ke tetangga pakai Bebek Goreng pak Slamet, gudheg Yu Jum, atau Kepiting Cak Gundul pun boleh. Yang penting, lillahi taálla.
Demikian Ibnu Mas’ud At-Tamamini menjelaskan dalam kajiannya dan semoga bermanfa’at. Aamiin
والله الموفق الى اقوم الطريق
Sumber : Kontributor Sarkub Kiyai Ibnu Mas’ud At-Tamanmini, MKub


Simak di: http://www.sarkub.com/kajian-tentang-tradisi-ruwahan/#ixzz48tX7iNpc
Powered by Menyansoft 
Follow us: @T_sarkubiyah on Twitter | Sarkub.Center on Facebookr

MENJAWAB SYUBHAT-SYUBHAT TENTANG MAULID NABI

Written By rudi yanto on Rabu, 23 Desember 2015 | 12/23/2015

disadur dari : https://generasisalaf.wordpress.com/2015/12/23/menjawab-syubhat-syubhat-tentang-maulid-nabi/#more-9074

Hoax Larangan
Oleh : KH. Bakhtiar,M.Rum,Lc.MA
1. Syubhat pertama:
Maulid Nabi tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tidak juga sahabat serta tabiin. Kalau sekiranya maulid itu satu kebaikan tentu mereka lebih dahulu mengerjakannya di banding kita!!
Jawab:
قصة مشابهة :
قال أبوبكر لعمر- رضي الله عنهما – عندما استشاره في أمر جمع القرآن ، : كَيْفَ أَفْعَلُ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟»
فَقَالَ عُمَرُ: هُوَ وَاللَّهِ خَيْرٌ.
صحيح البخاري ، باب لقد جاءكم رسول من أنفسكم -.
Abu bakar RA berkata kepada Umar bin Khattab RA ketika mereka bermusyawarah terkait boleh atau tidak al-Qur’an disatukan dalam satu mushaf. Abu Bakar berkata, bagaimana aku melakukan sesuatu yg Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mengerjakannya. Umar menjawab : Demi allah ini ( mengumpulkan al-Quran menjadi satu) pekerjaan yg baik.
Shahih Bukhari bab : لقد جاءكم رسول من انفسكم
Istinbath hukum dari riwayat di atas: Bahwa setiap kebaikan dianjurkan, meskipun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak melakukan apalagi para sahabat dan tabiin.
2. Syubhat kedua:
Perayaan maulid Nabi, mengurangi kemulian Nabi shallallahu alaihi wasallam, karena hanya mengingatnya pada satu hari tertentu saja tidak di hari-hari yg lain.
Jawab:
Kita tidak mengkhususkan pujian pujian terhadap Nabi shallallahu alaihi wasallam pada hari lahirnya saja. Malah kita menambah pujian pujian terhadapnya pada hari tsb. Bukankah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengkhususkan tambahan rasa syukur pada hari kelahirannya dengan puasa sunnah di hari Senin ? ( Shahih Muslim no ( 1162).
Maka apakah kita mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hanya membatasi rasa syukur terkait hari kelahirannya pada hari tertentu, atau sebaliknya kita mengatakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menambah rasa syukurnya pada hari itu??.
Kemudian bagaimana kita menjawab tentang puasa ‘Asyura sebagai tanda syukur Nabi Musa dari kejaran Firaun? Apakah maknanya membatasi syukur atau malah bertambah rasa syukurnya??
3. Syubhat ketiga:
Bagaimana mungkin kita merayakan hari kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam tanggal 12 Rabiul Awal sementara hari yg sama juga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diwafatkan?
Jawaban ringkasnya:
Kesamaan hari lahir dan hari wafat tidak mengurangi keutamaan hari kelahiran.
Berdasarkan hadits dalam Sunan Nasa’i (no : 1374) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda :
إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة فيه خلق آدم عليه السلام ، وفيه قبض”
Sesungguhnya diantara hari yg paling utama adalah hari Jum’at , hari itu Nabi Adam diciptakan dan diwafatkan .
Meskipun hari Jum’at adalah hari yg sama antara hari lahir dan hari wafat Nabi Adam tapi tidak mengurangi keutamannnya.
4. Syubhat keempat:
Sekiranya perayaan maulid ini baik tentu sudah di lakukan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Apakah kalian mencintai Nabi shallallahu alaihi wasallam melebihi sahabat nya ? Padahal tidak satupun sahabat melakukan maulid.?!
Jawaban ringkas:
1. Ada sebuah riwayat shahih:
عن عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ :
” مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سَبَّحَ سُبْحَةَ الضُّحَى وَإِنِّي لأُسَبِّحُهَا ( أي أصليها )
Dari Aisyah RA, beliau berkata : Saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam mengerjakan shalat dhuha , tapi saya tetap mengerjakannya.
Kenapa tidak di katakan kepada Aisyah RA : Kenapa kamu tetap mengerjakan dhuha sementara kamu mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak mengerjakannya .?! Kalau sekiranya dhuha itu baik tentu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengerjakannya .!( انظر صحيح البخاري، باب من لم يصل الضحى ورآه واسعا رقم 1177)
2. Imam Syafii berkata:
Saya melihat di depan pintu rumah Imam Malik sekumpulan kuda Khurasan dan bighal Mesir. Saya berkata: Alangkah bagusnya hewan-hewan ini!! Imam Malik berkata: Ini hadiah untuk mu. Saya berkata: Tidak … ini untuk mu saja, bisa dipakai sebagai tunggangan sehari hari. Imam Malik menjawab: Saya malu kepada Allah berjalan di tanah Nabi shallallahu alaihi wasallam ini ( kota Madinah) dengan telapak kuda.
Dalam kisah ini Imam Syafii tidak berkata kepada Imam Malik: Engkau mencintai Nabi shallallahu alaihi wasallam melebihi sahabatnya. Sementara mereka mencintai Nabi shallallahu alaihi wasallam tapi tetap berkendaraan kuda. Apakah mereka semua lupa sementara engkau ingat?? (- انظر ترتيب المدارك 2-53 )
3. Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata:
Saya pernah mendengar Ibnu Taimiyah berkata: Siapa yg membiasakan dzikir : يا حي يا قيوم لا إله إلا أنت setiap hari 40 kali antara qabliyah subuh dan shalat subuh maka Allah subhanahu wata’ala akan hidupkan hatinya.
Imam Ibnu Taimiyah melakukan sesuatu yg tidak ada riwayat dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, juga tidak sahabatnya. Kenapa kita tidak pernah mendengar kicauan mereka yg mengingkarinya?? Kenapa mereka tidak berkata: Kalau sekira itu suatu kebaikan tentu didahului Rasulullah dan para sahabat melakukannya? Apakah mereka lupa sementara kalian ingat?( – انظر مدارج السالكين 3-264).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ulama yg selalu menjadi rujukan “kelompok yang membid’ahkan Maulid Nabi” dalam kitabnya : اقتضاء الصراط المستقيم مخالفة اصحاب الجحيم juz’ 2 halaman 126 menganjurkan perayaan Maulid Nabi. Bagi siapa yg melakukannya dengan niat mengagungkan Rasulullah SAW insyaallah dapat pahala yg besar.
Kenapa mereka tidak mengatakan Syaikhul Islam sebagai pelaku bid’ah??
Sebagaimana mereka membid’ahkan yg Maulid?
Saya coba artikan nash yang tertera di kitab اقتضاء:

“Maka merayakan Maulid Nabi dan menjadikannya kegiatan rutin tahunan, dilakukan sebagian kalangan. Insyaallah mendatangkan pahala besar karena baik niat dan maksudnya, apalagi karena mengagungkan Rasulullah SAW. Sebagaimana yang telah saya katakan bahwa maulidan adalah amalan yg baik bagi sebagian kalangan.”
Ibnu Taimiyah menganjurkan perayaan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sependapat dengan para ulama besar lainnya dari kalangan ahli hadits.
Source: scc-kepri.com

Jangan Jadikan Bid’ah sebagai Alasan Perpecahan Ummat

Written By rudi yanto on Jumat, 11 September 2015 | 9/11/2015



Khutbah Jum’at
Oleh: Ustdz. Aris Habibuddin Syah, S.Hi
(Ruteng-Flores-NTT)
الحمد لله الحمد لله نحمده و نستعينه و نستغفره و نتوب إليه, و نعوذ بالله من شرور أنفسنا و من سيئات أعمالنا, من يهده الله فلا مضل له و من يضلل فلا هادي له, و أشهد أن لا إله الا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمد عبده و رسوله لا نبي بعده, اللهم صلي و سلم و بارك علي سيدنا و نبينا محمد سيد المرسلين و إمام المتقين و خاتم النبيين و علي أله الطاهرين و أصحابه الطيبين الطاهرين و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين, أما بعد فيا عباد الله أصيكم و اياي بتقوالله و قد فاز المتقون, اتقوا الله حق تقاته و لا تموتن الا و أنتم مسلمون. قال الله تعالي في القرأن الكريم..أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسم الله الر حمن الرحيم. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً.
Ma’asyirol muslimin jamaah jumah rahimakumullah…
Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberi kita nikmat Iman dan Islam sehingga berkat hidayah ‘inayah serta taufiq Nya hingga saat ini kita selalu dapat menjalankan syariat-syariat yang telah digariskan olehNya salah satunya dengan menjalankan ibadah wajib berupa sholat jum’at yang sedang kita laksanakan saat ini.
Sholawat ma’as salam sudah seharusnya tak henti-hentinya kita haturkan ke haribaan junjungan kita, Pamungkas para Nabi dan Rasul sekaligus pemberi syafaat kepada ummatnya di hari kiamat nanti, Rasulullah Muhammad SAW. Semoga kita termasuk di dalam golongan orang-orang yang akan mendapat syafaat beliau. Amin yaa robbal alamin.
Selanjutnya untuk mengawali khutbah singkat izinkan khotib berwasiat kepada diri khotib khususnya dan kepada hadirin jamaah sholat jum’ah umumnya untuk selalu bertaqwa dan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar taqwa, dengan melaksanakan segala perintah Allah dengan ikhlas sekaligus menjauhi segala yang tidak disukai oleh Allah serta meninggalkan segala seusuatu yang dilarang oleh Allah SWT, seraya berharap kita dapat mengakhiri hidup yang hanya sementara ini dengan husnul khotimah.
Ma’asyirol muslimin jamaah jumah rahimakumullah…
Akhir-akhir ini kaum muslimin dihadapkan dengan sebuah ujian berat berupa ancaman perpecahan mengatasnamakan perbedaan aliran, syariat, bahkan perbedaan aqidah. Sadar atau tidak sadar, hal ini sudah seharusnya kita hindari, karena jika kita terlena terhadap perbedaan-perbedaan tersebut maka umat muslim sendiri lah yang akan menanggung segala akibatnya, dan akan semakin membuat musuh-musuh Islam tertawa dan berpesta serta semakin memojokkan posisi kaum muslimin.Perbedaan-perbedaan tersebut semakin hari kian meruncingkan masalah dengan saling mempersalahkan satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh ada suatu golongan yang mencibir amaliah golongan lain dengan menganggap apa yang tidak sesuai dengan yang mereka kerjakan serta mereka yakini adalah sebuah perbuatan bid’ah yang ganjarannya adalah neraka. Lebih parahnya lagi mereka yang mencibir tidaklah sepenuhnya memahami apa yang mereka pedomani. Mereka bahkan tidak mau menerima argument dari golongan lain serta menganggap paham mereka lah yang paling benar. Oleh karenanya dalam kesempatan yang singkat ini khotib akan sedikit mengulas tentang fasal bid’ah berserta dasar-dasar hokum yang berkaitan dengan bid’ah, khotib berharap dengan pemaparan ini kita semua dapat membuka hati kita untuk lebih dapat menerima pandangan orang lain, membuka cakrawala pemikiran kita bahwa ada pendapat mengenai bid’ah dengan versi lain dari apa yang pernah kita ketahui dan kita yakini, sehingga kedepan kita tidak terjebak dalam perdebatan-perdebatan tidak berujung.
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah…
Dalam kamus Al Munawir kata بِدْعَةٌ yang merupakan jama’ dari kata بِدَعٌsecara lughowi diartikan sebagai “perkara baru dalam agama”. Sedangkan secara istilahi terdapat bermacam-macam makna diantaranya seperti yang termaktub dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah karya Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari. Dalam kitab tersebut istilah “bid’ah” ini disandingkan dengan istilah “sunnah”. Seperti dikutip Syeikh Hasyim Asy’ari, menurut Syaikh Zaruq dalam kitab ‘Uddatul Murid, kata bid’ah secara syara’ adalah munculnya perkara baru dalam agama yang kemudian mirip dengan bagian ajaran agama itu, padahal bukan bagian darinya, baik formal maupun hakekatnya. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW yang terdapat dalam kitab Riyadlus Sholihin Hal. 62 disebutkan :
عَنْ أُمِّ اْلمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : مَنْ أَحْدَثَ فىِ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. (متفق عليه)
Artinya : ”Barangsiapa memunculkan perkara baru dalam urusan kami (agama) yang tidak merupakan bagian dari agama itu, maka perkara tersebut tertolak”.
Nabi juga bersabda yang termaktub dalam kitab Riyadlus Solihin hal. 62:
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله, وَ خَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ, وَ شَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا, وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. رواه مسلم
Yang artinya : ”Amma ba’du, maka sesungguhnya perkataan yang paling baik adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah hal yang baru dan setiap bid’ah adalah sesat”.
Menurut para ulama’, kedua hadits ini tidak berarti bahwa semua perkara yang baru dalam urusan agama tergolong bidah, karena mungkin saja ada perkara baru dalam urusan agama, namun masih sesuai dengan ruh syari’ah atau salah satu cabangnya (furu’). Al Imam Al Hafiz Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya menyatakan bahwa perbuatan bid’ah yang dimaksud dalam hadist tersebut adalah hal-hal yg tidak sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum.
Bid’ah dalam arti lainnya adalah sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya, sebagaimana firman Allah SWT:
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ …الأية
Yang artinya : “Allah yang menciptakan langit dan bumi”. (Al-Baqarah 2: 117).
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah…
Terdapat sebuah hadist Nabi juga yang berbunyi كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٌ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ yang artinya : “Semua bid’ah itu adalah sesat dan semua kesesatan itu di neraka”.
Jika kita memahami redaksi hadist ini secara lafdziah maka sudah pasti dapat diambil kesimpulan bahwa segala sesuatu yang baru dalam agama (dalam hal ini segala sesuatu yang tidak pernah ada pada zaman nabi) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah sudah pasti sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.
Namun demikian, mari coba kita kaji dari sudut pandang ilmu balaghogh. KH. A.N. Nuril Huda, dalam “Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) Menjawab” menjelaskan kajian terhadap hadist tersebut Menurut ilmu balaghogh. Dalam kajian ilmu balaghogh disebutkan bahwa setiap benda pasti mempunyai sifat, tidak mungkin ada benda yang tidak bersifat, sifat itu bisa bertentangan seperti baik dan buruk, panjang dan pendek, gemuk dan kurus.
Mustahil ada benda dalam satu waktu dan satu tempat mempunyai dua sifat yang bertentangan, kalau dikatakan benda itu baik, mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan jelek; kalau dikatakan si A berdiri mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan duduk.
Bid’ah itu merupakan kata benda, yang sudah barang tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas. Hal seperti ini dalam Ilmu Balaghah dikatakan; حدف الصفة على الموصوف yaitu “membuang sifat dari benda yang bersifat”. Seandainya kita tulis sifat bid’ah maka akan terjadi dua kemungkinan: Kemungkinan pertama; كُلُّ بِدْعَةٍ حَسَنَةٍ ضَلاَ لَةٌ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ Yang artinya : “Semua bid’ah yang baik sesat, dan semua yang sesat masuk neraka”. Hal ini tidak mungkin, bagaimana bisa sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua; كُلُّ بِدْعَةٍ سَيِئَةٍ ضَلاَ لَةٌ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّاِر Yang artinya : “Semua bid’ah yang jelek itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka”.
Hal yang sama dengan kajian ilmu balaghogh diatas terjadi pula dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah membuang sifat kapal dalam firman-Nya pada QS Al-Kahfi : 79 yang berbunyi :
وَكَانَ وَرَاءهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْباً ﴿٧٩﴾
artinya: “Di belakang mereka ada raja yang akan merampas semua kapal dengan paksa”.
Dalam ayat tersebut Allah SWT tidak menyebutkan kapal baik apakah kapal jelek; karena dalam kondisi normal kapal yang jelek tidak akan diambil oleh raja. Maka lafadh كل سفينة sama dengan كل بد عة tidak disebutkan sifatnya, walaupun pasti punya sifat, ialah kapal yang baik كل سفينة حسنة.
Kemudian kajian lain terhadap hadist tersebut adalah pendapat dari Al-Imam Al-Hafidz Al-Nawawi yang menyatakan dalam kitab Syarh-nya atas kitab Shohih Muslim, bahwa kata كل adalah bermakna sebagian besar bukan bermakna seluruh, sehingga hadist itu oleh beliau dimaknakan “sebagian besar perbuatan bid’ah itu adalah sesat”. Pemaknaan lafadz كل dengan makna sebagian juga terdapat dalam kajian ilmu lughotil arobiyah.
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah…
Bertolak dari paparan terkait dengan pengertian bid’ah sebagaimana telah khotib uraikan diatas, Timbul suatu pertanyaan, Apakah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW pasti jeleknya? Jawaban yang bijaksana adalah, belum tentu! Ada dua kemungkinan; mungkin jelek dan mungkin baik. Kapan bid’ah itu baik dan kapan bid’ah itu jelek?. Khotib akan mengutip 2 pendapat ulama’ besar yang mewakili 2 zaman berbeda yaitu Imam Syafi’i dari kalangan ulama salaf dan Prof. Dr. As Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani dari kalangan ulama kholaf. Menurut Imam Syafi’i:
اَلْبِدْعَةُ ِبدْعَتَانِ : مَحْمُوْدَةٌ وَمَذْمُوْمَةٌ, فَمَاوَافَقَ السُّنَّةَ مَحْمُوْدَةٌ وَمَاخَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمَةٌ
Yang artinya : “Bid’ah ada dua, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela, bid’ah yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji dan bid’ah yang bertentangan dengan sunnah itulah yang tercela”.
Sedangkan menurut sebuah kutipan yang dinukil dari sebuah kitab yang berjudul : Dzikrayaat wa Munaasabaat karya Prof. Dr. As Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani yang dialih bahasakan oleh KH. Muhammad Bashori Alwi dalam sebuah bukunya disebutkan : bukan semua yang tidak diamalkan oleh ulama’ salaf dan belum terjadi pada masa pertama (zaman nabi) itu adalah bid’ah yang diingkari lagi jelek, yang diharamkan orang melakukannya dan wajib diingkarinya. Tetapi hal-hal baru yang terjadi itu haruslah dihadapkan kepada dalil-dalil syar’i. Lantas apa yang mengandung maslahat hukumnya adalah wajib. Atau yang mengandung keharaman maka hukumnya haram. Atau yang mengandung kemakruhan maka hukumnya makruh. Atau yang mengandung kemubahan maka hukumnya mubah. Atau yang mengadung mandub (sunnah) maka hukumnya adalah mandub (sunnah).
Hal
ini juga diperkuat oleh hadist Nabi yang termaktub dalam kitab Riyadlus Sholihin Halaman 63 yang berbunyi :
مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئٌ, وَمَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَ وِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِاَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئٌ. رواه مسلم
Yang artinya : “Barang siapa yang mengada-adakan satu cara yang baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun, dan barang siapa yang mengada-adakan suatu cara yang jelek maka ia akan mendapat dosa dan dosa-dosa orang yang ikut mengerjakan dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun”.
Dan hadist Nabi yang lain yang termaktub dalam kitab Sunan Ibnu Majah Juz I hal. 414 :
إِنَّ أُمَّتِي لَنْ تَجْتَمِعَ عَلَى ضَلاَلَةٍ فَإِذَا رَأَيْتُمُ اخْتِلاَفًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ اْلأَعْظَمِ. رواه ابن ماجة عن انس ابن مالك
Yang artinya : “Bahwa ummatku tidak akan sepakat dalam kesesatan, bila kamu melihat perbedaan pendapat diantara kalian, maka ikutilah pendapat mayoritas”. HR Ibnu Majah dari Anas bin Malik.
Dalam Kitab Fathul Bari dijelaskan : “Pada mulanya, bid’ah dipahami sebagai perbuatan yang tidak memiliki contoh sebelumnya. Dalam pengertian syar’i, bid’ah adalah lawan kata dari sunnah. Oleh karena itu, bid’ah itu tercela. Padahal sebenarnya, jika bid’ah itu sesuai dengan syariat maka ia menjadi bid’ah yang terpuji. Sebaliknya, jika bi’ah itu bertentangan dengan syariat, maka ia tercela. Sedangkan jika tidak termasuk ke dalam itu semua, maka hukumnya adalah mubah: boleh-boleh saja dikerjakan. Singkat kata, hukum bid’ah terbagi sesuai dengan lima hukum yang terdapat dalam Islam”.
Dari semua pembahasan diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa secara garis besar bid’ah dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu : Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyiah. Dan untuk mengkategorikan sebuah perbuatan bid’ah itu tergolong hasanah atau sayyiah maka diperlukan kajian mendalam dengan berdasarkan dalil-dalil syar’i baik qoth’i maupun dzonny dengan tetap mempertimbangkan maqoshid asy syar’iyyah dari perbuatan-perbuatan yang dinilai bid’ah tersebut.
Ma’asyirol muslimin rahimakumullah…
Sebelum khotib mengakhiri khutbah siang hari ini perlu kiranya bagi khotib untuk memberikan beberapa contoh perbuatan bid’ah yang pernah dilakukan sahabat-sahabat terdekat nabi yang termasuk khulafaur rasyidin, perbuatan-perbuatan dimaksud adalah :
1. Pembukuan Al-Qur’an pada masa Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq atas usul Sayyidina Umar ibn Khattab yang kisahnya sangat terkenal.
2. Pemberian titik-titik dan syakal/baris-baris pada tulisan Al Qur’an yang baru dilakukan pada masa kekholifahan Sayyidan Ustman bin Affan.
3. Apa yang dilakukan oleh Sayyidina Umar ibn Khattab ketika mengumpulkan semua umat Islam untuk mendirikan shalat tarawih berjamaah. Tatkala Sayyidina Umar melihat orang-orang itu berkumpul untuk shalat tarawih berjamaah, dia berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”.
4. Sayyidina Utsman ibn Affan menambah adzan untuk hari Jumat menjadi dua kali. Imam Bukhari meriwatkan kisah tersebut dalam kitab Shahih-¬nya bahwa penambahan adzan tersebut karena umat Islam semakin banyak. Selain itu, Sayyidina Utsman juga memerintahkan untuk mengumandangkan iqamat di atas az-Zawra’, yaitu sebuah bangunan yang berada di pasar Madinah.
Dari keempat contoh diatas, mari kita focus terhadap dua contoh pertama yang tentunya yang tidak pernah diperdebatkan yaitu mengenai kodifikasi (pembukuan) Al Qur’an dan pemberian titik-titik dan syakal pada tulisan Al Qur’an. Kedua hal tersebut merupakan contoh konkrit bid’ah hasanah, karena pada zaman Rasulullah SAW Al Qur’an hanya dihafal atau setidak-tidaknya ditulis di pelepah-pelepah kurma dan juga batu-batu (tanpa titik dan tanda baca) dalam keadaan tercerai berai, tidak tersusun sistematis dalam bentuk surat-surat dan Juz-juz seperti yang kita jumpai pada mushaf Al Qur’an yang ada saat ini. Bagaimana jadinya jika Al Qur’an baik secara tulisan maupun penggandaan kondisinya masih tetap seperti pada zaman Rasulullah SAW. Jika hal itu terjadi khotib rasa akan sulit bagi orang Indonesia khususnya membedakan apakah itu merupakan huruf (ب, ت, atau ي) dan itu akan berakibat fatal dengan berubahnya makna dari ayat yang dibaca. Terhadap kasus kodifikasi Al Qur’an ini apakah masih ada yang menggap ini adalah dlolalah (sesat)?
Akhirnya untuk menutup khutbah pada siang hari ini, khotib mengajak kepada diri khotib pribadi dan para jamaah sekalian untuk selalu berpikir jernih dan tidak mudah memperolok orang atau golongan lain terhadap amaliah yang mereka kerjakan selama amalan itu memiliki dasar hukum. Jangan bersifat sombong dengan beranggapan bahwa amaliah yang kita lakukan adalah yang paling benar dan telah sesuai dengan sunnah Rasul, karena sifat sombong adalah hanya milik Allah SWT. Mari kita berpikir ‘arif menyikapi setiap perbedaan yang terjadi diantara kita. Jangan jadikan perbedaan menjadi pemicu perpecahan. Mari kita ingat sebuah pesan Rasulullah SAW bahwasannya perbedaan yang terjadi pada ummatku adalah sebuah rahmat, tentunya pesan Nabi tersebut hanya berlaku bagi orang-orang yang mau berfikir, sedangkan bagi orang-orang yang malas berfikir sudah barang tentu perbedaan akan menghadirkan perpecahan ummat. Semoga kita selalu diberi petunjuk oleh Allah SWT dan selalu berada dalam naungan rahmat dan rahimNYA, dan mendapat syafaat baginda Rasulullah SAW di hari akhir nanti. Amin. Wallahu a’lam bisshowaab.
بارك الله لي و لكم في القرأن العظيم و نفعني و اياكم بما فيه من الأيات و ذكر الحكيم و تقبل مني و منكم تلاوته انه هو السميع العليم أقول قولي هذا واستغفر الله العظيم لي و لكم و لسائر المسلمين و المسلمات و المؤمنين و المؤمنات فاستغفروه انه هو الغفور رحيم
KHUTBAH KEDUA
الحمد لله…الْحَمْدُ لِلّهِ مُوَفِّقِ اْلعَامِلِيْنَ. و أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له وَلِيُّ اْلمُتَّقِيْنَ و أشهد أن سيدنا محمدا عبده و رسوله صادق الوعد اللأمين. اللهم صل على سيدنا محمد و على اله و أصحابه أجمعين. أما بعد فيا عباد الله اتق الله…اتق الله وَاعْلَمُوْا أَنَّ الله أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِه, وَ ثَنىَّ بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِه, وَ أَيَّدَ اْلمُؤْمِنِيْنَ مِنْ عِبَادِه, فقال و لم يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً.
وقال رسول الله صلي الله عليه و سلم من صلي علي صلاة صلي الله عليه بها عشرا.
اللهم صل علي سيدنا محمد و علي ال سيدنا محمد, كما صليت على سيدنا إبراهيم و على أل سيدنا إبراهيم, و بارك على سيدنا محمد و على أل سيدنا محمد, كما باركت على سيدنا إبراهيم و على أل سيدنا إبراهيم, فى العالمين إنك حميد مجيد. وارض اللهم عن الخلفاء الراشدين, ساداتنا إبي بكر و عمر و عثمات و على و عن بقية أصحاب رسول الله أجمعين, و التابعين و تابعيهم بإحسان إلى يوم الدين و ارض عنا معهم برحمتك يا أرحم الراحمين.
اللهم اغفر للمسلمين و المسلمات و المؤمنين و المؤمنات الأحياء منهم و الأموات انك سميع قريب مجيب الدعوات يا قاضي الحاجات يا أرحم الراحمين, اللهم اَلِّفْ بين قُلُوْبِهِمْ و أَصْلِحْ ذَاتَ بينِهِم و انْصُرْهم على عَدُوِّكَ وَ عَدُوِّهِمْ. اللهم إنا نسألك رضاك و الجنة و نعوذ بك من سخطك و النار, اللهم إنك عفو كريم تحب الغفو فاعف عنا يا كريم. اللهم ادفع عنا الغلاء و البلاء والوباء و الربي و الزني و الزلازل و المحن و سوء الفتن ما ظهر منها و ما بطن عن بلدنا هذا خاصة و عن سائر بلاد المسلمين عامة يا رب العالمين, رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ و أدخلنا الجنة مع الأبرار يا عزيز يا غفار يا رب العالمين و الحمد لله رب العالمين.
عباد الله إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ, وَأَوْفُواْ بِعَهْدِ اللّهِ إِذَا عَاهَدتُّمْ وَلاَ تَنقُضُواْ الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ, و لذكر الله اكبر و الله يعلم ما تصنعون.
اقم الصلاة!!!!

Penelitian Ilmiah Barat Penyembelihan Hewan Secara Islam

Written By rudi yanto on Kamis, 10 September 2015 | 9/10/2015

Masya Allah, semakin Maju Penelitian Ilmiyah Semakin Membuktikan Kebenaran Islam. Jelang Hari Raya Idul Adha atau hari raya kurban, jangan pernah makan daging sapi tanpa disembelih, ternyata syariat Islam ini membuat orang barat terkejut.
Simak penelitian ini;
1. Rasulullah tak pernah belajar cardiology tapi syari’atnya membuktikan penelitian ilmu modern.
2. Melalui penelitian ilmiah yang dilakukan oleh dua staf ahli peternakan dari Hannover University, sebuah universitas terkemuka di Jerman. Yaitu: Prof.Dr. Schultz dan koleganya, Dr. Hazim. Keduanya memimpin satu tim penelitian terstruktur untuk menjawab pertanyaan: Manakah yang lebih baik dan paling tidak sakit, penyembelihan secara Syari’at Islam yang murni (tanpa proses pemingsanan) ataukah penyembelihan dengan cara Barat (dengan pemingsanan)?
3. Keduanya merancang penelitian sangat canggih, mempergunakan sekelompok sapi yang telah cukup umur (dewasa). Pada permukaan otak kecil sapi-sapi itu dipasang elektroda (microchip) yang disebut Electro-Encephalograph (EEG). Microchip EEG dipasang di permukaan otak yang menyentuh titik (panel) rasa sakit di permukaan otak, untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit sapi ketika disembelih. Di jantung sapi-sapi itu juga dipasang Electro Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar karena disembelih.
4. Untuk menekan kesalahan, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG maupun ECG yang telah terpasang di tubuhnya selama beberapa minggu. Setelah masa adaptasi dianggap cukup, maka separuh sapi disembelih sesuai dengan Syariat Islam yang murni, dan separuh sisanya disembelih dengan menggunakan metode pemingsanan yang diadopsi Barat.
5. Dalam Syariat Islam, penyembelihan dilakukan dengan menggunakan pisau yang tajam, dengan memotong tiga saluran pada leher bagian depan, yakni: saluran makanan, saluran nafas serta dua saluran pembuluh darah, yaitu: arteri karotis dan vena jugularis.
6. Patut pula diketahui, syariat Islam tidak merekomendasikan metoda atau teknik pemingsanan. Sebaliknya, Metode Barat justru mengajarkan atau bahkan mengharuskan agar ternak dipingsankan terlebih dahulu sebelum disembelih.
7. Selama penelitian, EEG dan ECG pada seluruh ternak sapi itu dicatat untuk merekam dan mengetahui keadaan otak dan jantung sejak sebelum pemingsanan (atau penyembelihan) hingga ternak itu benar-benar mati.
Nah, hasil penelitian inilah yang sangat ditunggu-tunggu!
8. Dari hasil penelitian yang dilakukan dan dilaporkan oleh Prof. Schultz dan Dr. Hazim di Hannover University Jerman itu dapat diperoleh beberapa hal sebagai berikut:
Penyembelihan Menurut Syariat Islam Hasil penelitian dengan menerapkan praktek penyembelihan menurut Syariat Islam menunjukkan:
Pertama, Pada 3 detik pertama setelah ternak disembelih (dan ketiga saluran pada leher sapi bagian depan terputus), tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG. Hal ini berarti bahwa pada 3 detik pertama setelah disembelih itu, tidak ada indikasi rasa sakit.
Kedua, Pada 3 detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara bertahap yang sangat mirip dengan kejadian deep sleep (tidur nyenyak) hingga sapi-sapi itu benar-benar kehilangan kesadaran. Pada saat tersebut, tercatat pula oleh ECG bahwa jantung mulai meningkat aktivitasnya.
Ketiga, Setelah 6 detik pertama itu, ECG pada jantung merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Hal ini merupakan refleksi gerakan koordinasi antara jantung dan sumsum tulang belakang (spinal cord). Pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yang terputus di bagian leher tersebut, grafik EEG tidak naik, tapi justru drop (turun) sampai ke zero level (angka nol).
Hal ini diterjemahkan oleh kedua peneliti ahli itu bahwa: “No feeling of pain at all!” (tidak ada rasa sakit sama sekali!).
Keempat, Karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat (daging yang sehat) yang layak dikonsumsi bagi manusia. Jenis daging dari hasil sembelihan semacam ini sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practise (GMP) yang menghasilkan Healthy Food.
Penyembelihan Cara Barat
Pertama, segera setelah dilakukan proses stunning (pemingsanan), sapi terhuyung jatuh dan collaps (roboh). Setelah itu, sapi tidak bergerak-gerak lagi, sehingga mudah dikendalikan. Oleh karena itu, sapi dapat pula dengan mudah disembelih tanpa meronta-ronta, dan (tampaknya) tanpa (mengalami) rasa sakit. Pada saat disembelih, darah yang keluar hanya sedikit, tidak sebanyak bila disembelih tanpa proses stunning (pemingsanan).
Kedua, segera setelah proses pemingsanan, tercatat adanya kenaikan yang sangat nyata pada grafik EEG. Hal itu mengindikasikan adanya tekanan rasa sakit yang diderita oleh ternak (karena kepalanya dipukul, sampai jatuh pingsan).
Ketiga, Grafik EEG meningkat sangat tajam dengan kombinasi grafik ECG yang drop ke batas paling bawah. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan rasa sakit yang luar biasa, sehingga jantung berhenti berdetak lebih awal. Akibatnya, jantung kehilangan kemampuannya untuk menarik dari dari seluruh organ tubuh, serta tidak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh.
Keempat, Karena darah tidak tertarik dan tidak terpompa keluar tubuh secara maksimal, maka darah itu pun membeku di dalam urat-urat darah dan daging, sehingga dihasilkan unhealthy meat (daging yang tidak sehat), yang dengan demikian menjadi tidak layak untuk dikonsumsi oleh manusia. Disebutkan dalam khazanah ilmu dan teknologi daging, bahwa timbunan darah beku (yang tidak keluar saat ternak mati/disembelih) merupakan tempat atau media yang sangat baik bagi tumbuh-kembangnya bakteri pembusuk, yang merupakan agen utama merusak kualitas daging.
Bukan Ekspresi Rasa Sakit!
Meronta-ronta dan meregangkan otot pada saat ternak disembelih ternyata bukanlah ekspresi rasa sakit! Sangat jauh berbeda dengan dugaan kita sebelumnya! Bahkan mungkin sudah lazim menjadi keyakinan kita bersama, bahwa setiap darah yang keluar dari anggota tubuh yang terluka, pastilah disertai rasa sakit dan nyeri.
Terlebih lagi yang terluka adalah leher dengan luka terbuka yang menganga lebar…! Hasil penelitian Prof. Schultz dan Dr. Hazim justru membuktikan yang sebaliknya. Yakni bahwa pisau tajam yang mengiris leher (sebagai syariat Islam dalam penyembelihan ternak) ternyata tidaklah ‘menyentuh’ saraf rasa sakit. Oleh karenanya kedua peneliti ahli itu menyimpulkan bahwa sapi meronta-ronta dan meregangkan otot bukanlah sebagai ekspresi rasa sakit, melainkan sebagai ekspresi ‘keterkejutan otot dan saraf’ saja (yaitu pada saat darah mengalir keluar dengan deras).  Mengapa demikian? Hal ini tentu tidak terlalu sulit untuk dijelaskan, karena grafik EEG tidak membuktikan juga tidak menunjukkan adanya rasa sakit itu. Subhanallah…

Penyakit sapi gila (Mad Cow) bisa menular ke manusia
Inggris dan Perancis adalah 2 jawara produsen (eksportir) daging sapi terbesar di dunia dan selalu saja terjadi perang dagang di antara keduanya. Menurut orang Inggris, pedagang Perancis bermain curang. Mereka mengirimkan suatu virus mematikan yang bisa menular antar ternak dan berpotensi menular ke manusia.
Virus tersebut disebut Bovine Spongioform Enchephalopathy (BSE) yang sering pula disebut sebagai Virus Sapi Gila atau di negara asalnya lebih dikenal dengan istilah Mad Cow. David Schardt, ahli gisi dari Center for Science in the Public Interest (CSPI) Amerika, melaporkan bahwa ada beberapa daging beef steak dan hamburger yang dimakan orang Amerika saat ini yang mengandungmateri/bagian otak. Apabila otak yang tercemar virus BSE ini dimakan oleh manusia, maka sangatlah mungkin orang tersebut tertular penyakit ini.
Para ahli bekerja keras menelusuri asal muasal kisah material otak tersebut bisa sampai ke daging. Hasil penelitian menunjukkan bahwa material/jaringan otak tersebut dapat sampai ke daging sebagai akibat proses pemingsanan (stunning) sebelum disembelih. Sebagaimana pernah diberitakan Kantor Berita Inggris – Reuter, bahwa pada saat di-stunning, otak yang semula compact pecah selaputnya karena getaran dan tekanan yang sangat hebat.
Akibat pemukulan tersebut, jaringan otak goyah, sehingga banyak material jaringan otak yang pecah berhamburan. Material otak tersebut kemudian terbawa darah mengalir menuju beberapa organ tubuh.
CSPI juga menyebutkan bahwa peneliti di Universitas Texas A&M dan Canada’s Food Inspection Agency (Badan Pemeriksa Makanan Kanada) menemukan kenyataan bahwa metode yang dikenal sebagai Pneumatic Stunning dapat mengakibatkan pecahnya jaringan otak dan terbawa dalam sistem jaringan tubuh sapi.
Lebih lanjut Tam Garlan, ahli Bidang Kedokteran Hewan dari Universitas Texas A&M menyatakan di CSPI’s July Newsletter, bahwa pneumatic stunning tersebut mengakibatkan partikel mikroskopis jaringan otak pecah dan serpihannya terbawa oleh darah ke paru-paru, hati, serta beberapa organ tubuh lainnya.
Bagaimana dengan penyembelihan sesuai Syari’at Islam?
Leila Corcoran (BICNews, 25 Juli 1997) menulis suatu artikel yang berjudul Cattle Stun Gun May Heighten “Madcow” Risk (Senjata Pemingsan Sapi dapat Meningkatkan Resiko Penularan Penyakit ’Sapi Gila’).
Beliau menyimpulkan bahwa tidak ada lagi yang meragukan bahwa metode penyembelihan (tanpa pemingsanan) lebih baik dibandingkan cara yang lain. Metode ini ditetapkan di dalam Al Qur’an. Allah adalah Pencipta Kitab Suci Al-Qur’an dan Allah SWT sangat mengerti apa yang terbaik bagi kita! Sebagai hamba yang beriman, kita harus yakin dengan Syari’at Islam dan tiada keraguan di dalamnya (QS. Al Baqoroh: 2).
Sumber : http://atelandtick.blogspot.com/2013/02/penyembelihan-secara-syariat-islam


Simak di: http://www.sarkub.com/2015/penelitian-ilmiah-barat-penyembelihan-hewan-secara-islam/#ixzz3lIrztkq7
Powered by Menyansoft
Follow us: @T_sarkubiyah on Twitter | Sarkub.Center on Facebook
 
Contact Support: Twitter | Facebook
Copyright © 2012. AL-MUSABBIHIN - All Rights Reserved
Published by TakadaTapiono Creative