MASJID AL-MUSABBIHIN

MASJID AL-MUSABBIHIN
Sumber Dakwah dan Informasi DKM AL-MUSABBIHIN PERUM KOMPAS INDAH TAMBUN
Latest Post

PERBEDAAN SALAF, SALAFI & SALAFIYAH

Written By rudi yanto on Kamis, 01 Februari 2018 | 2/01/2018

PERBEDAAN SALAF, SALAFI & SALAFIYAH

Posted: Januari 26, 2018 in NGAJI ONLINE, SUNNAH - ADAB & NASIHAT, TAFSIR & QOUL ULAMA

Membicarakan makna “salaf” tidak hanya terpaku pada satu makna. Sebagaimana yang kita tahu bahwa Bahasa Arab itu memiliki banyak makna dalam satu kata bakunya yang jika dikembangkan ke berbagai wazan, maka artinya pun beda, begitu juga denga perbedaan harakat.
Istilah ini sejak dulu sudah digunakan di Indonesia, contohnya pesantren salafiyah yang berarti metodenya masih menggunakan metode salaf dalam proses menyalurkan pengetahuan, yaitu sorogan dan bandongan atau dalam istilah ilmu hadits yaitu tahammul wal ada’ via qira’ah ‘ala syaikh (murid membaca kepada guru) atau sima’ min syaikh (guru yang membaca dan murid yang mendengarkan).
Akhir-akhir ini pula banyak kelompok yang mendakwahkan dirinya sebagai pengikut salafi. Jika ada sebagian orang desa mendengar istilah itu, maka langsung terbersit makna pesantren salafiyah yang tersebar di desa mereka, atau santri-santri pondok tersebut, padahal yang dimaksud bukanlah itu.
Mengutip dari kitab Nazarat fi Jauharatit Tauhid (yang disusun oleh Dr Abdul Hamid Ali Izz Al-Arab, Dr Shalah Mahmud Al-‘Adily, dan Dr Ramadhan Abdul Basith Salim, ketiganya dosen Al-Azhar Mesir), kita perlu membedakan ketiga istilah di atas karena satu di antara tiga istilah itu berbeda dengan yang lainnya.
Adapun istilah “Salaf” yaitu para sahabat, tabi’in dan atba’it tabiin yang hidup sampai batas 300 H. Merekalah sebaik-baiknya generasi, sebagaimana termaktub dalam hadits nabi SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dengan sanad dari Abdullah bin Mas’ud dari nabi SAW:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَجِئُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمَيْنُهُ وَ يَمَيْنُهُ شَهَادَتُهُ
Artinya, “Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku (sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’in), kemudian yang setelahnya lagi (atba’it tabi’in), kemudian akan datang suatu kaum yang persaksiannnya mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya.”
Meskipun definisi mereka sampai batas 300 H, di sini ada catatan penting yaitu keselarasan mereka dengan Al-Quran dan Hadits. Jika hanya hidup pada rentang masa 300 H tetapi kontradiksi dengan kedua pedoman ini, maka tidak disebut sebagai salaf. Salah satu contohnya adalah sekte musyabbihah yang hidup pada masa itu.
Musyabbihah adalah kelompok tekstualis dalam membaca Al-Quran dan hadits yang meyakini bahwa Allah serupa dengan makhluk-Nya, yaitu memiliki anggota tubuh antara lain bertangan, berkaki, bermulut, bermata, dan seterusnya.
Adapun “salafi” adalah mereka (ulama maupun orang biasa) yang datang setelah 300 H dan dinisbahkan pada kaum salaf yang telah disebutkan di atas, juga menganut manhajnya (metode). Istilah ini dapat dikaitkan dengan semua orang yang yang mengikuti manhaj salaf, bahkan kita pun bisa, namun itu terjadi jika memang benar-benar perilaku dan manhajnya berdasarkan salaf, bukan hanya menyandang titel salafi tetapi perilakunya berbeda.
Terakhir adalah salafiyyah yang difondasikan dan disusun oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) dan muridnya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah (751H) dari Al-Quran, Hadits, perbuatan serta perkataan ulama salaf dan mengodifikasikannya dalam bentuk kitab khusus dan prinsip yang tetap. Unsur-unsur dalam kitab kedua ulama itu memang sudah ada sebelumnya, namun masih berserakan terpisah, kemudian barulah dikumpulkan.
Setelahnya munculah Muhammad bin Abdil Wahhab (1206 H) yang menyebarkan apa yang disusun oleh kedua ulama tadi, Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahumallah di jazirah arab, ia berpegang teguh pada beberapa risalah dan ikhtisar yang dikutip dari kitab-kitab Ibnu Taimiyyah.
Mengutip dari kitab Nazarat fi Jauharatit Tauhid, terdapat catatan yang menurut saya penting dari perkataan salah seorang peneliti di dalam kitab Al-Fikrul Islamy Al-Hadits karya Dr Abdul Maqshud Abdul Ghani, “Jika kita membandingkan antara pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab dan Ibnu Taimiyyah dalam beberapa masalah akidah hampir keduanya sama dan tidak berbeda, kecuali Ibnu Taimiyyah telah merinci pendapatnya dan menguatkannya dengan dalil-dalil dan hujjah, serta membantah pendapat orang yang berseberangan dengannya dengan dalil dan sanad. Sedangkan Muhamad bin Abdul Wahhab hanya mennyebutkan keterangannya secara singkat saja.”
Hal yang menonjol dari ketiganya hanya dari segi waktu dan pijakan dalam berpegang pendapat, jika salafy itu memang orang-orang yang menisbahkan dirinya sebagai pengikut manhaj salaf atau Ahlussunah wal Jamaah, salafiyyah lebih condongnya disebut usaha regenerasi, meskipun dalam beberapa realitanya tidak begitu.
Sebagai warga Indonesia, banyak istilah naturalisasi dari bahasa lain yang kita gunakan di kehidupan keseharian secara umum, seperti tadi pondok pesantren salafiyah. Lagi-lagi kita harus mencermati suatu istilah berdasarkan makna, substansi, dan intisarinya. Jangan terpaku pada sisi zahirnya saja. Adakalanya suatu istilah berbeda antara praktik dan substansinya. Wallahu a’lam. (Amien Nurhakim)
Source: Nu.or.id

Sholat Khusuf/Gerhana Bulan , Masjid Al Musabbihin 31 January 2018

Sholat Khusuf  (Gerhana Bulan) , Masjid Al Musabbihin 31 January 2018



DKM Al Musabbihin , Mengadakan sholat gerhana bulan, 31 January 2018, dimana Gerhana bulan ini sendiri adalah suatu Fenomena langka  yang menurut para ahli terjadi 152 Tahun Sekali.

MAKNA TASYABBUH/MENYERUPAI

Written By rudi yanto on Jumat, 05 Januari 2018 | 1/05/2018

MAKNA TASYABBUH/MENYERUPAI

disadur dari : Grup Facebook :Nahdhatul Ulama

Jangan salah paham ya.....


SREEET==========

Masih ttg TASYABBUH yg lg nge trend saat ini : dibaca lagi, dipikir lagi kemudian di share ya....

Sudrun tahun barunan

Malam di tahun baru itu, sudrun kelihatan tdk spt biasanya. Sambil berselimut sarung di gardu pojok kampung tdk jauh dr rumah kyai Asmuni, Sudrun kelihatan murung. Kyai Asmuni yg baru turun dr mushola setelah menunaikan sholat isya pun menghampirinya.

“Knp kamu drun? Kok kelihatan jengkel begitu?”
“Tidak apa2 yai, hanya agak sedikit sedih saja”
“Lha kenapa? Bertengkar sm istrimu ya?”
“Kok yai tahu?” Jawab Sudrun dgn ekspresi kaget.
“Selimutan sarung itu tandanya kamu hbs berantem sm istrimu. Pintunya dikunci ya?” Tanya kyai asmuni sambil tersenyum.

Dan sambil tersenyum malu sudrun pun menganggukkan kepala.

“Knp kok pintunya dikunci?”
“Anu yai... istri dan anak saya ngajak keluar untuk tahun barunan, tp saya tdk mau yai..”
“Knp kamu tdk mau?”
“Lha kan haram yai..”
 Kyai asmuni pun tersenyum kecil mendengar jawaban sudrun.

“Lha kalau gitu sana ajak istri dan anakmu bajar jagung atau bakar ikan, biar anakmu senang dan istrimu tdk marah lagi”
“Tidak yai, katanya bakar2 juga haram..”
“Lha kok bakar2 haram, alasannya apa?”
“Katanya TASYABBUH sm orang kafir bisa menjadikan kita berdosa, jd drpd saya kena dosa mjd kafir lbh baik saya di kunci pintu..”
“Oalahhhh... katanya santri, guru madrasah ibtidai’yah lha kok stres kyk gini. Ya sudahlah kalau kamu mau selimutan sarung di gardu sampe besok pagi, ya gak pa2..” Jawab kyai asmuni.

Kyai asmuni pun melangkahkan kaki diatas bakiak kesayangan menuju rumah beliau... dan sudrun hanya bisa bengong melihat kyai asmuni meninggalkannya sendirian di gardu pojok kampung itu. Hingga tdk lama kemudian sudrun mulai bergegas memakai sandal jepit Lily yg di bawanya untuk mengikuti kyai asmuni menuju rumah beliau.

SREEET__________

Begitu sampai di rumah kyai asmuni, sudrun pun duduk di kursi kayu tua yg berada di teras rumah beliau. Dan setelah berganti pakaian, kyai asmuni duduk menemani sudrun sambil menyalakan rokok kobot kesayangannya spt biasa.

“Sudah bosan di gardu drun?” Tanya kyai asmuni
Sudrun pun hanya bisa menjawab dgn Anggukan sambil tersenyum kecil.

“Kamu dengar haram itu drmn?”
“Dari kabar berita yai..”
“Siapa yg memberi kabar?”
“ ya.... ustad2 yg ada di Fb yai..”
“Kamu sudah pernah ktemu sm ustad Fb itu? Gurunya siapa? Pernah mondok diman? Sedalam apa ilmunya?”
“Hehehe.... belum yai”

Jawab sudrun sambil tersenyum. Setelah menghisap rokok kobotnya dalam2, kyai asmuni pun melanjutkan bicaranya.

“Oalahhhh..... ya kyk gini pada akhirnya kalau ada HP lbh pintar drpd yg punya HP. Tapi ya mmg harus maklum, anak sekarang suka micin semua. Gara2 Fb dan wa, gurunya sendiri yg mengajar alif ba’ ta tdk diperhatikan, kyai yg sudah mengajarkan ilmu agama dilupakan, lbh suka sm ustad dadakan di Fb yg jelas tdk arahnya malah dibela. Ustad yg tdk jelas asal usul ilmunya malah di dengarkan. Hanya karena suka dgn penampilan yg memukau. Padahal tahunya cuma dr Fb....

Sudrun pun hanya bengong mendengar ucapan kyai asmuni sambil bergumam “betul sekali yai... kidz zaman now yai..” dan sudrun yg berkecamuk pertanyaan seputar perayaan tahun baru akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada kyai asmuni.

SREET______

“Maaf yai.... Apakah benar kalau TASYABBUH dgn orang kafir itu hukumnya haram spt ucapan ustad2 di dunia maya yai?”

Mendengar pertanyaan sudrun, kyai asmuni kembali minum kopi yg sudah tampak dingin setelah menghisap rokok kobot beliau.

“Di madrasahmu memakai kalender Hijriyah atau Masehi?”
“Masehi yai...” jawab sudrun sambil tersenyum.
“Lhaa Masehi itu kalendar Islam atau bukan?”

Sudrun pun mulai mengerutkan keningnya sambil berfikir keras. Melihat itu kyai asmuni pun melanjutkan ucapannya.

“Sekarang bagaimana dgn anakmu, memakai celana, istrimu memakai BH, kamu sendiri memakai celana, apa tidak meniru orang kafir? BH dan celana dalam itu asalnya dr orang kafir juga. Tapi TASYABBUH jenis itu hukumnya wajib. Drpd anakmu tdk pakai celana akhirnya burungnya kemana2, payudara istrimu juga melorot semua, kamu kalau tdk mau pake celana pas mengajar di MI apa cuma mau pakai sarung saja, dalamnya plong2an?”

Kyai Asmuni pun menyela pembicaraan dengan minum kopi sambil melihat Sudrun yg tertawa kecil sambil menutup mulut karena malu.

Kamu lihat masjid desa, masjid Jami’? Itu kubahnya bulat meniru bangunan gereja di Eropa. Menara masjid yg diatas yg buat tempat speaker adzan itu juga meniru persis tempat api buat sembahan orang Majusi. Tapi TASYABBUH itu bagus dan digalakkan.

Sudrun yg dr td mendengar sambil bengong pun bertanya.

“Tapi kok bisa ya TASYABBUH dgn orang kafir Lgs dibilang haram yai?”

Kyai Asmunipun menghisap rokok beliau sejenak dan kemudian melanjutkan penjelasannya.

SREEEET________

لكل مقال مقام ولكل مقام مقال
"Halal haram itu ada illat dan sebab, tdk serta merta Allah memberi label. Makanya jangan disma rata harus dipahami maknanya, sebab setiap hukum ada alasannya, setiap ucapan ada konteksnya, dan setiap perbuatan ada niat dan tujuannya..”

Setelah menghisap rokok kobotnya kyai Asmuni pun berkata.....

من تشبه بقوم فهو منهم
“Inti ajaran penjelasan td, perbuatan jelek jgn ditiru, biar tdk ikut jelek. Perbuatan haram jgn sampe dijalani biar tdk berdosa, tapi perbuatan mubah jgn sampai dikatakan haram kala perbuatan tsb tdk membawa mudhorot pada diri kita. Apa gara2 libur tahun baru kita mjd Nasrani? Apa gara2 meniup terompet istrimu jd Yahudi? Apa gara2 anakmu menyalakan mercon jd orang Majusi?”
“Ya tidak yai..” jawab Sudrun sambil senyum.

“Walaupun lbh bagus lg kalau tahun baru kita dzikir dirumah biar tdk boros, tp ketika kamu mengajak istri dan anakmu jalan2 kuliner malam tahun baru membeli cilok di alun2, dengan niat menuruti keinginan istri untuk merawat cinta kasih apakah itu sebuah dosa, menyenangkan istri? Kuliner beli cilok juga hukumnya mubah, apalg cuma sekedar bakar2an jagung..”

SREEET_______

Mendengar jawaban itu Sudrun langsung bergegas beranjak kedepan kyai Asmuni lalu mengambil tangan beliau dan menciumnya. Kyai Asmunipun berkata...

“Lha kamu Knp kok buru2 pamit, mau kemana?”
“Mau menyenangkan anak istri mumpung baru jam 8 lebih, drpd nanti tidur di gardu gara2 saya dikunci pintu sama istri mending jalan2 cari cilok atau cari jagung bakar yai..”
“Terus gak jd dzikir di gardu?”
“Dzikir ttp yai Asmuni saja... mohon maaf yai..hehhehe”
“ ya sudah sana, jgn lupa nanti istrimu diajak sholat tahajud, awas jgn lupa sholat subuhnya ya....”
“Beres yai....”

Sudrun pun bergegas meninggalkan kyai Asmuni yg masih duduk di kursi sambil memegang rokok kobot kesayangannya.

9 KOMANDAN PERANG NU

Written By rudi yanto on Rabu, 27 Desember 2017 | 12/27/2017

9 KOMANDAN PERANG NU

Disadur  dari: https://www.facebook.com/HIZBUT.TAHLIL.NU

Kontribusi Nahdlatul Ulama dalam membebaskan bumi pertiwi dari penjajahan, tidak dapat ditanggalkan begitu saja dari alur sejarah kemerdekaan Indonesia. Hizbullah menjadi salah satu motor penggerak para pejuang kala itu. Dari pergolakan perjuangan inilah muncul nama-nama besar para komandan perang NU yang patut kita teladani bersama.




1. KH. ZAINUL ARIFIN

Postur tubuhnya yang tegap, gagah dan berparas tampan menguatkan profil dirinya sebagai seorang pejuang sejati. Pria kelahiran Barus, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada tahun 1909 ini memang identik dengan Hizbullah. Tampuk kepemimpinan organisasi ini juga pernah dijabatnya sejak awal Januari 1945. Sebagai seorang komandan dirinya selalu memberikan contoh yang baik kepada para bawahannya.

Geliat perjuangannya memang tidak terekam jelas dalam sejarah. Namun, dengan diangkatnya Kiai Zainul sebagai Komandan Hizbullah menandakan dirinya berperan besar dalam pergulatan perjuangan NU melawan penjajah. Pria yang masih keturunan dari Raja Barus (Sutan Ramali Pohan bin Sutan Sahi Alain) ini juga telah banyak terkontribusi baik bagi NU maupun negara. Jabatan sebagai Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Kerja III (1962-1963) menjadi satu komitmen khusus kesetiaannya kepada negara. Di akhir hayatnya (2 Maret 1963) ia tercatat sebagai Pahlawan Nasional dan penyandang penghargaan Mahaputera dari pemerintah.

2. KH. MASJKUR

Lahir di Singosari, Malang, 1315 H/30 Desember 1900 M. Masa mudanya banyak ia habiskan untuk merantau dari pesantren ke pesantren. Pengembaraannya dimulai dari Pesantren Bungkuk di Singosari, berlanjut ke Pondok Sono, Siwalanpanji, Tebuireng hingga berguru kepada Syaikhona Cholil Bangkalan.

Di masa-masa perjuangan revolusi pembebasan atas penjajahan, Kiai Masjkur aktif turut berjuang sebagai seorang pejuang. Tak ayal jabatan sebagai Ketua Markas Tertinggi Sabilillah (1945-1947) diamanahkan kepada dirinya. Dan di masa Mr. Amir Syarifuddin ia ditunjuk secara resmi untuk menjadi anggota Badan Pembela Pertahanan Negara.

Banyak perjuangan lain yang ia tunjukkan demi mengabdi pada negara. Bahkan dirinya juga tercatat pernah menjabat sebagai seorang Menteri Agama hingga 4 kabinet. Pada 19 Desember 1992 dirinya harus berpulang ke Rahmatullah. Dan di waktu pemakaman itulah dirinya mendapat penghormatan secara militer, berkat jasa-jasanya yang besar terhadap negara.

3. KH. MUNASIR ALI

Dilahirkan di daerah Modopuro, Mojasari, Mojokerto pada 2 Maret 1919 dari seorang ayah bernama H. Ali yang merupakan seorang kepala desa yang dihormati di daerahnya. Selama perang kemerdekaan meletus Kiai Munasir aktif sebagai seorang pejuang dan berkarir di dunia kemiliteran.

Karirnya dimulai dengan mengikuti latihan kemiliteran prajurit Jepang dengan masuk sebagai anggota penerangan Heiho. Aktif sebagai pasukan Hizbullah dengan menjadi Komandan Batalyon Condromowo dan turut andil dalam mendirikan Hizbullah Cabang Mojokerto. Dan ketika Hizbullah melebur ke dalam barisan TNI, Kiai Munasir juga terdaftar sebagai anggota aktif, hingga dirinya diangkat menjadi Komandan Batalyon 39 TNI AD.

Di akhir hayatnya pada 1 Januari 2002 pelbagai penghargaan pernah diberikan kepadanya mulai dari Satya Lentjana peristiwa Perang Kemerdekaan I dan II, Bintang Gerilya dan lain sebagainya.

4. KH. SULLAM SYAMSUN

Dia adalah satu-satunya penyandang pangkat tertinggi kemiliteran dari para tokoh NU yang pernah aktif di sana. KH. Sullam Syamsun begitulah nama lengkapnya dilahirkan di Malang 29 April 1922.

Pada masa karir keaktifannya di dunia kemiliteran pelbagai jabatan telah ia rengkuh mulai dari Komandan Kompi I merangkap Wakil Batalyon I Brigade IV Brawijaya, Komandan Keamanan Malang Kota, Komandan Batalyon 523, 514, Pa Teritorium V/Brawijaya dan pada tahun 1977 pensiun penuh dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI.

5. KH. ISKANDAR SULAIMAN

Terlahir dari nasab keturunan bangsawan yang kaya raya. Iskandar Sulaiman tak menampakkan sedikitpun raut kepongahan. Justru ia dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan.

Selepas perjalanannya menimba ilmu di Pesantren Tebuireng, dengan kekayaannya digunakannya untuk memakmurkan masyarakat sekitar sekaligus memperkenalkan NU kepada masyarakat. Beberapa unit pendidikan seperti madrasah dan kegiatan penunjang lain turut didirikannya.

Namun, karirnya tidak hanya berhenti sebagai seorang pengajar saja. Di masa menjelang dan setelah masa kemerdekaan ia aktif di dunia kemiliteran. Semangat nasionalisme selalu terpancar dari sosoknya. Perjuangan itu terus ia lakukan hingga pangkat terakhir yang pernah ia raih sebagai seorang kolonel.

6. KH. HASYIM LATIEF

Dilahirkan di daerah Sumobito, Jombang pada 17 Mei 1928. Nama lengkapnya ialah Hasyim Latief, ia dikenal sebagai seorang tokoh Hizbullah. Awal karirnya di Hizbullah ia mulai di kala ia berstatus sebagai peserta pada pelatihan opsir Hizbullah di Cibarusa, Bogor (1945) Se-Jawa dan Madura.

Di saat Hizbullah Jombang didirikan, Kiai Hasyim Latief lansung menjabat sebagai seorang komandan latihan. Dan ketika kisaran tahun 1947 terjadi peleburan antara TNI dengan Hizbullah, ia masuk ke dalam resimen 293 dengan komandan Letkol KH. A. Wahib Wehab. Pangkat terakhimya yang ia panggul adalah Komandan Kompi I Yon Munasir. Sayang, perjuangannya harus terhenti pada Mei 2005, pada usia 77 tahun dirinya dipanggil Sang Khalik.

7. KH. ZAINAL MUSTOFA

Nama kecilnya adalah Hudaeni. Lahir dari keluarga petani berkecukupan, putra pasangan Nawapi dan Nyonya Ratmah, di kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna. Dikenal sebagai salah satu tokoh NU yang memiliki banyak pengikut (baik dari kalangan santri dan masyarakat) sekaligus getol dalam menyemangatkan gerakan perlawanan terhadap penjajahan.

Ia selalu menyerang kebijakan politik kolonial Belanda yang kerap disampaikannya dalam ceramah dan khutbah-khutbahnya. Di masa penjajahan Jepang dirinya juga mengatur strategi perlawanan terhadap Jepang. Dengan semangat jihad membela kebenaran agama dan memperjuangkan bangsa, KH. Zaenal Mustafa merencanakan akan mengadakan perlawanan terhadap Jepang pada tanggal 25 Pebruari 1944 (1 Maulud 1363 H).

Ia juga turut serta mengomandoi perlawanan terhadap Jepang di Sukamanah Tasikmalaya. Namun sayang perjuangannya harus berakhir di balik jeruji besi. Pesantren yang didirikannya harus ditutup oleh Jepang. Dan atas jasa-jasa itulah kini KH. Zainal Mustofa diangkat sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 064/TK/Tahun 1972.

8. H. ABDUL MANAN WIJAYA

Namanya cukup melegenda di wilayah Kotatif Batu. Itu karena namanya telah dijadikan sebagai nama jalan, tepatnya Jl. Manan Wijaya, yang membentang di sepanjang daerah Pujon. Nama aslinya Rumpoko, lahir di Pujon pada 1910. Ayahnya seorang mandor jalan. Manan Wijaya adalah alumni Pesantren Tebuireng Jombang.

Ketika PETA dibentuk, ia langsung bergabung dengan kesatuan militer Jepang tersebut meski sebagai tentara aktif, namun sosok santri selalu tampak. Ia juga rutin berlangganan Suara NU dan Suara Ansor dari Surabaya.

Setelah menjadi pembicara dalam rapat akbar di Tebuireng (1967) dan menyebut “Hamid Roesdi itu Ketua Ansor” ia diMabeskan hingga pensiun.
Pensiun dengan pangkat terakhir Brigjen. Jenazah dimakamkan di Desa Sisir Kecamatan Batu, atas permintaan sendiri, karena tidak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.

9. HAMID ROESDI

Nama Hamid Roesdi telah menjadi legenda pahlawan masyarakat Kota Malang, sama halnya nama Bung Tomo untuk masyarakat Surabaya. Bahkan nama Hamid Roesdi tidak hanya dijadikan sebagai nama jalan di pusat kota, tapi juga nama terminal di Kedungkandang. Patungnya juga dapat dilihat di Malang.

Lahir di Sumbermanjing Kulon (Pagak) Malang Selatan pada 1917. Ia putera ke empat H. Umar Roesdi.

Di masa penjajahan Jepang ia masuk pendidikan perwira Bo Ei Gyugun Kanku Kyokutai di Bogor, kemudian menjadi Cudancho PETA di Malang Syu Dai I Daidan (Dai I Cudan) yang berkedudukan di Glagah Aren Sumbermanjing.

Awal 1947 diangkat sebagai komandan Resimen Infantri 38 Divisi VII Untung Suropati dan sebagai Komandan Pertahanan Daerah Malang berkedudukan di Pandaan Pasuruan. Pada waktu penumpasan PKI Muso (Madiun Affair) ia menjabat Komandan Komando Penumpasan PKI Muso di daerah Malang Selatan (Turen-Donomulyo).

Menghadapi Clash II Belanda menjabat Komandan Sub Wherkreise I dan memimpin gerilya di daerah pendudukan Malang Timur dengan pangkat mayor. Pada 8 Maret 1949 ia gugur bersama pasukannya di daerah Wonokoyo, Kedungkandang pukul 03.00 dinihari.

Dikutip dari Majalah AULA Edisi November 2012 hal. 58-59

Klik link asal di sini:

http://www.kangluqman.com/2013/03/sembilan-komandan-peran-nu.html

Maulid Nabi Muhammad SAW, 16 Dec 2017

Written By rudi yanto on Senin, 18 Desember 2017 | 12/18/2017

Maulid Nabi Muhammad SAW, 17 Dec 2017

Alhamdulillah , pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad SAW, tanggal 16 Dec 2017, berlangsung meriah walaupun  berjalan dengan kesederhanaan, seluruh jama'ah antusias dan khusyu' mengikuti rangkaian acara yang ada. Dimana acara dimulai dari Pembacaan Istighosah oleh Al Ustazd Firmansyah LC.MA, lalu disambung Pembacaan Maulid Al-Barzanji oleh Rudi Yanto, dan Tausiah di sampaikan oleh Ustazd Munib LC.





Semoga  Acara ini akan selalu ada dan lestari hingga generasi yang akan datang.
Shollu Ala Muhammad.



 
Contact Support: Twitter | Facebook
Copyright © 2012. AL-MUSABBIHIN - All Rights Reserved
Published by TakadaTapiono Creative