MASJID AL-MUSABBIHIN

MASJID AL-MUSABBIHIN
Sumber Dakwah dan Informasi DKM AL-MUSABBIHIN PERUM KOMPAS INDAH TAMBUN
Latest Post

Keutamaan Puasa Syawal dan Tata Caranya

Written By Unknown on Rabu, 29 Agustus 2012 | 8/29/2012

Keutamaan Puasa Syawal dan Tata Caranya

Assalamualaikum Wr Wb
Demi merawat ketakwaan setelah Ramadhan, kita dianjurkan untuk melanjutkannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal. Agar motivasi kami kuat dalam melaksanakannya, dapatkah kiranya Ustaz jelaskan kepada saya apa keutamaan puasa enam hari di bulan Syawal itu? Bagaimanakah tata cara pelaksanaannya sesuai tuntunan Rasulullah SAW?


Jawab
Waalaikumussalam Wr Wb

Ada banyak kekurangan dan kelalaian kita selama bulan suci Ramadhan, maka jadikanlah puasa enam hari bulan syawal sebagai penyempurna Ramadhan sekaligus sarana pembuktian apakah kita orang yang sukses meraih takwa Ramadhan atau tidak. Mulailah dengan memohon dan bermunajat pada Allah agar diberikan kekuatan untuk konsisten dan terus termotivasi dalam melakukan ketaatan kepada Allah.

(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia)." (QS Ali Imran [3]: 8).

Tata Cara Puasa Syawal
Berpuasa enam hari di bulan Syawal yang paling utama adalah bila dimulai pada awal bulan secara berturut-turut. Namun dibenarkan pula jika tak mampu di awal bulan dan tidak melaksanakannya secara berturut-turut. Apabila ada hutang puasa Ramadhan sebaiknya dibayarkan terlebih dahulu baru setelah itu puasa syawal.
Dari Abu Ayyub al-Anshari RA, Nabi SAW bersabda, "Barang siapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan, lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun." (HR Muslim).

Lebih utama jika puasa ini dilakukan segera setelah hari raya Idhul Fithri, karena termasuk bersegera dalam kebaikan, menunjukkan kecintaan kepada ibadah puasa serta tidak bosan mengerjakannya, dan supaya nantinya tidak timbul halangan untuk mengerjakannya jika ditunda[1].

Melakukan puasa Syawwal menunjukkan kecintaan seorang muslim kepada ibadah puasa dan bahwa ibadah ini tidak memberatkan dan membosankan, dan ini merupakan pertanda kesempurnaan imannya[2].
Ibadah-ibadah sunnah merupakan penyempurna kekurangan ibadah-ibadah yang wajib, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits yang shahih[3].
Tanda diterimanya suatu amal ibadah oleh Allah, adalah dengan giat melakukan amal ibadah lain setelahnya[4].

Mengapa orang yang melanjutkan puasa Ramadhannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal dianggap telah berpuasa selama setahun?

Perhatikan hadis berikut: Imam Ahmad dan an-Nasa'i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi SAW bersabda, "Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal) pahalanya sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh." (Hadis riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam kitab shahih keduanya).

Hadis ini menjelaskan bahwa satu hari berpuasa dibalas Allah minimal dengan ganjaran pahala selama sepuluh hari. Betapa meruginya jika menyia-nyiakan kesempatan besar tersebut. Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda, "Barang siapa berpuasa Ramadhan lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, ia bagaikan telah berpuasa selama setahun." (HR al-Bazzar). Wallahu a'lam bish shawab.

Referensi :
Ustaz Bachtiar Nasir, Lc
Ust. Abdullah Taslim, MA
[1] Lihat kitab Ahaadiitsush Shiyaam, Ahkaamun wa Aadaab (hal. 158).
[2] Ibid (hal. 157).
[3] Ibid (hal. 158).
[4] Ibid (hal. 157).

Manfaat Gerakan Sholat bagi kesehatan

  1. Gerakan Mengangkat Kedua Tangan

Pada dasarnya, tubuh manusia dapat mengalami pembengkokan pada bagian pungung, penekukan pada pundak, dan pembungkukan pada punggung. Penyakit tersebut mengakibatkan penyempitan ruang gerak paru-paru.

Berdasarkan hasil penelitian medis, persentase oksigen merupakan seperlima dari udara, sehingga terdapat hubungan antara kapasitas paru-paru dengan kadar oksigen. Jika kapasitas rongga pernafasan berkurang, maka oksigen yang terserap kedalam paru-paru juga semakin kecil. Kapasitas paru-paru kecil maka supply darah juga kecil. Karena oksigen yang masuk sedikit, dan kukantitas darah yang membawa sisa-sisa pembakaran ke seluruh sel tubuh akan berkurang pula. Akibatnya proses pembersihan tubuh dari sisa-sisa pembakaran menjadi lambat. Bahkan hingga supply dan pembersihan sisa-sisa pembakaran di otak juga akan menjadi lambat mengakibatkan otak akan cepat mengalami stress.

Seseorang yang mengangkat kedua tangan ketiak shalat dengan cara menyejajarkan kedua tangan dengan kedua pundak, mengarahkan telapak tangan ke kiblat, dan siku menyamping, dan dilakukan secara rutin dalam shalat akan melindungi dan menjadi terapi dari gangguan pembungkukan.

Dengan mengangkat kedua tangan dapat menambah lapang rongga dada. Volume paru-paru dan kuantitas darah yang penuh oksigen juga akan bertambah. Hasilnya otak tidak akan cepat lelah. Dengan demikian kebugaran tubuh akan terjaga.

Rasululloh SAW, mengangkat kedua tangannya dengan lurus. Maksudnya adalah kedua tangan direntangkan dan jari-jari diluruskan. Sekalipun sangat sederhana, namun hal ini merupakan latihan yang baik bagi jari-jari tangan untuk melancarkan sirkulasi darah sampai ke ujung jari.

  1. Letak Kedua Tangan

Rasululloh SAW selalu meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya dan tempatnya adalah di dada, yaitu antara tulang rusuk dan pusar. Menurut Hembing Wijayakusuma (1995) hal ini berpengaruh terhadap beberapa factor :

Pertama, dilihat dari segi anatomi tubuh, letak dua tangan di dada merupakan posisi paling baik bagi lengan.
Kedua, posisi tangan kanan di atas tangan kiri berarti mempertahankan kesejajaran kedua pundak. Ketika meletakkan dua tangan seperti itu maka lengan berapa pada posisi sudut yang sama. Pundak juga pasti berapa pada sudut yang sama. Dengan demikian posisi ini mampu memperkuat kedua pundak.

Selain itu, posisi tangan seperti itu juga dapat menguatkan posisi dua telapak kaki. Hal ini karena keduanya juga bertumpu pada sudut dataran yang sama, yaitu tanah, sebagaimana merapatkan kedua pundak juga dapat membagi konsentrasi beban tulang pinggul pada dua sisi bagian bawah. Letak tangan seperti ini dapat menghalangi timbulnya efek pembengkokan susunan pada tulang punggung

Penguatan terhadap keseimbangan kedua telapak kaki, tulang pinggul, dan kedua pundak dapat mencegah kemiringan kepala atau leher ke salah satu sisi, atau yang dikenal dengan kaku leher atau pengerasan tulang leher. Dengan demikian, posisi berdiri dengan tangan di dada adalah posisi yang paling baik untuk menghindarkan diri dari membengkoknya tulang punggung.

  1. Berdiri dalam Sholat

Seseorang yang shalat hendaknya berdiri, dua kakinya direnggangkan sejajar dengan kedua pundak, jari-jari sejajar pada satu garis lurus dan menghadap ke arah kiblat, sedangkan titik tumpunya adalah pada dua tumit dan bagian depan telapak kaki. Dengan begitu berat badan tidak akan tertumpu pada urat bawah kaki saja, karena hal ini dapat menyebakan lekukan kaki rusak. Selain itu, tangan kakan diletakkan di atas pergelangan tangan kiri.

Adapun pandangan mata tidak boleh melebihi batas tempat shalat dan tidak boleh melihat ke selain tempat sujud. Mengapa demikian ? jika seseorang menopang sesuatu yang berat di dua lengannya, badannnya akan sedikit miring ke belakang, karena dia menanggungn beban sesuatu yagn digendong tdai dan beban dirinya sendiri. Seluruh beban ini bertumpu pada titik yang sama, yaitu dua kakiyang terentang. Tingkat kemiringan badan itu juga tergantung pada beban yang ditanggung. Semakin berat beban yang ditopang, semakin miring pula badan yang menopang.

Dua lengan itu sendiri memiliki berat sehingga ketika seseorang mengangkat kedua lengannya ke depan, maka tubuhnya akan miring ke belakang, akibat berat dua tangn dan tubuhnya sendiri. Seluruh beban ini juga bertumpu pada penyangga yang sama, yaitu dua kaki yang terentang. Karena dua lengan itu tidak terlalu berat, maka tubuh juga tidak terlalu miring ketika menanggungnya

  1. Gerakan Ruku

Gerakan ruku sedemikian penting karena memiliki daya yang luar biasa yang tidak terdapat dalam gerakan lainnya. Seseorang yang melakukan ruku, otot-otot bagian depan tubuh seperti otot dada, perut, dan kaki bagian depan akan berelaksasi. Sedangkan otot-otot tubuh bagian belakang seperti otot punggung, bagian belakang kaki, dan pinggul secara perlahan akan berkontraksi. Karena badan relative berat, maka otot-otot ini mencurahkan energi yang besar untuk menjaga stabilitas tubuh pada saat ruku.

Ketika ruku punggung harus lurus. Untuk mencapai posisi demikian, kaki harus sedikit melengkung ke belakang, karena titik pusat berat badan bergeser ke pusat penyangga tubuh. Lengkungan kaki ini menyebabkan tekanan yang kuat terhadap otot kaki bagian belakang sehingga otot-otot kaki bagian belakang mengencang. Otot yang mengencang ini sebanding dengan otot kaki bagian belakang yang mengerut berulang kali ketika berjalan atau berlari. Otot yang mengencang ini hanya dapat terjadi pada saat ruku atau sejenisnya. Sementara pada gerakan lain, tidak sesempurna ketika ruku. Otot kaki bagian belakang yang mengencang ini dapat menambah vitalitas otot-otot bagian belakang.

Otot yang semakin mengencang dan memanjang tersebut juga menambah kelenturan yang merupakan salah satu unsur kebugaran tubuh. Kelenturan ini memungkinkan persendian-persendian tubuh bergerak secara maksimal.

Otot bagian belakang kaki yang mengencang dan disertai tulang pinggul yang menekuk ke depan dapat menyebabkan tulang di sekitar lumbal semkain cekung. Semain longgar rongga pada bagian lumbal ini maka ia semakin memberikan tekanan pada otot bagian belakang dua kaki. Ini lah yang dikenal dengan penyakit asam urat pada lumbal. Selain itu, tekanan pada sisi luar dari tulang rawan yang ada disekiar lumbal juga bertambah. Inilah yang menimbulkan pergeseran pada tulang cakram di anara ruas tulang belakang.

Dua kaki yang sedikit menekuk ke belakang dan badan yang membungkuk ke depan dan lurus dapat mengurangi kemiringan tulang pinggul di bagian tulang belakang, sekaligus menjaga agar punggung tetap lurus. Otot punggung mengerahkan energi yang kuat untukmenahan berat badan. Sementara ia sendiri dalam keadaan menencang akibat harus mengauatkan otot-otot itu sendiri yan tidak mungkin terjadi apabila rongga tulang pinggul semakin lebar.

Dalam gerakan ruku, kita meletakkan kedua tangan di atas lutut. Untuk kebaikan :

            Pertama, meletakkan kedua tangan di antara kedua paha mengakibatkan kedua pundak melengkkung dan punggung pun ikut menjadi cembung. Hal initidak sesuai dengna peintah agar punggung lurus. Selain itu, hal ini pun dapat menyesakkan rongga dada, sehingga akan membuat sulit bernafas, ruang aktif paru-paru pun menyempit, padahal ia merupakan tuang menghirup dan menghembuskan udara. Bila rongga paru-paru menyempit, otomatis oksigen yang terserap akan semakin sedikit, kuanitas darah yang kaya okssigen dan darah yang mengalirkan makanan ke sel dan otot semakin sedikit, pembersihan sisa-sisa pembakaran dalam tubuh akan lambat, dan darah yag mengalirkan sari makanan dan oksigen ke otak pun akan sedikit, termasuk proses pembersihan sisa pembakaran di dalamnya. Dalam waktu yang relatif singkat, semua itu dapat menyebabkan kelelehan pada otot dan pikiran.

            Kedua, meletakkan kedua tangan di antara kedua paha mengharuskan seseorang memindah salah satu kakinya merapat ke kaki yang lain sehingga sesuai dengan posisi tangan. Apabila kaki merapat, berarti jarak kaki tidak lagi sejajar dengan dua pundak. Posisi demikian mengakibatkan hilangnya keseimbangan tubuh dan pada saat ruku akan goyah. Hal ini tidak sesuai dengan tuntunan kekhusyukan dan ketenangan dalam beribadah kepada Alloh SWT.

Meletakkan kedua tangan di lutut dan merenggangkan jari-jarinya hingga ke betis dapat menjamin kekencangan lutut secara sempurna. Tanpa hal itu, posisi ruku tidak dapat mengencangkan otot bagian belakanga kaki.

Merenggangkan jari di atas lutut juga dapat mengokohkan posisi tulang tempurung pada lutut. Tidak seperti sebagian orang yang menekan lutut, jari jempolnya mengarah ke dalam dan jari lainnya mengarah ke sisi yang lain, posisi seperti ini akan menyebabkan tekanan pada bagian atas tempurung lutut, hingga akhirnya lutut bisa bergeser dari tempatnya semula.

Berdasarkan tuntunan Rasululloh SAW ketika ruku, dua siku harus renggang atau jauh dari dua lambung. Posisi ini berbeda bagi wanita. Wanita dianjurkan merapatkan siku dan lambungnya  agar dapat menutupi tubuhnya.

  1. Berdiri dari Ruku

Seusai melakukan gerakan ruku, seseorang lalu bangun dan berdiri tegak. Ketika seseorang hendak kembali berdiri tegak setelah rukku maka otot-otot punggung, pinggul, dan bagian belakang kaki akan mengerut. Sebaliknya otot-otot bagian dada, perut, dan bagian depan kaki mengendor. Hal ini terjadi dikarenakan seluruh otot-otot tersebut menahan tubuh dari gaya gravitasi bumi. Kekuatan otot-otot ini memang dikenal mampu menghadapi tantangan yang berbeda-beda. Karena berdiri dari ruku mengharuskan otot-otot tersebut menahan tubuh dari tekanan gaya gravitasi bumi maka efeknya adalah terjadinya peningkatan kekuatan pada otot-otot, terutama pada bagian belakang dua kaki, pinggul, dan pungung.

Jadi, kalau kita perhatikan, ketika ruku, otot-otot punggung relatif lebih mengalami peningkatan kekuatan dari pada otot-otot perut. Demikian pula ketika dalam posisi bangun dari ruku.

Manusia pada umumnya membungkuk ke depan, pandangan jatuh ke bawah, karena itu kepala sedikit demi sedikit miring ke depan yang akhirnya banyak menekan bagian atas tubuh ke bawah. Dan kondisi ini membuat otot punggung melemah dan kendor.

Karena itu manusia lebih membutuhkan penguatan tulang punggung untuk menghindari membungkuk ke depan. Inilah yang ingin dicapai oleh gerakan ruku dan bangun dari ruku.

Sementara bangun dari ruku ikut mengangkat tangan seperti takbiratul ihram, yaitu mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua pundak, sedang ujung-ujung jari sejajar dengan ujung bagian atas daun telinga dan jari-jari jempol sejajar dengan ujung daun telinga bagian bawah.

  1. Gerakan Menunduk saat Sujud

Ketika seseorang hendak sujud dan mendahulukan kedua lutut daripada kedua tangannya, berarti punggungnya tetap dalam keadaan lurus dan tulang punggung tetap dalam posisi asalnya. Tetapi, apabila mendahulukan kedua tanganya dari kedua lututnya, terpaksa dia harus membungkukkkan badannya ke depan dan menghadapkan ke tanah dengan bertumpu pada kedua telapak tangan. Gerakan semacam ini menjadikan tulang punggung melengkung ke belakang. Meskipun gerakan ini sebentar, namun tulang punggung yang melengkung ke belakang itu mengakibatkan tertekanya tulang-tulang rawan di sekitar punggung. Tekakan ini muncul akibat berat badan dan pungung yang meleengkung ke belakang tadi.

Ketika ruku, otot-otot belakanga kaki mengencang dengan sempurna, dan darah memenuhi seluruh pembuluh di dalamnya. Tetapi setelah ia bangun dan kemudian bergerak untuk sujud, otot-otot kaki mengerut. Otot-otot ini memompa darah dengan kuat ke jantung, dibantu oleh gerakan menunduk untuk sujud. Gerakan ini berfungsi melancarkan sirkulasi darah di pembuluh otot yang terdapat di kaki hingga terhindar dari pembengkakan pembuluh darah di betis maupun katup pembuluh darah di betis.

Mendahulukan lutut dari kedua tangan ketika hendak sujud mengharuskan seseorang bertumpu pada telapak kaki bagian depan. Kemudian ruas persendian jari kaki akan terdorong ke belakang sehingga tulang pada kaki semakin melengkung. Saluran pembuluh darah dan saraf kaki akan terjaga oleh lengkungan kaki tersebut.

Kekuasaan Alloh SWT sajalah yang telah menjadikan panjang jari-jari kaki tidak rata, tetapi berjenjang. Jenjang jari-jari kaki ini selaras dengan kedalaman lengkungan sisi telapak kaki. Jika kita perhatikan sisi dalam telapak kaki, lengkungan sisi telapak kaki akan nampak jelas. Ia lurus dengan jari kaki yang paling besar dan kuat. Kemudian semakin ke arah luar, jari-jari semakin pendek. Pada jari yang terpendek, lengkungan sudah tidak ada lagi sehingga ia bersentuhan langsung dengan tanah. Jenjang jari dan kekkuatannya selaras dengan kedalaman lengkungan sisi telapak kaki. Karena itu, ketika seseorang hendak sujud dan bertumpu pada jari kaki, maka ruas persendian kaki ini terdorong ke belakang secara otomatis, sesuai dengan urutan panjang jari-jari tersebut.

Titik tumpu pada jari kaki yang paling besar lebih kuat daripada jari lainnya. Karena itu, tekanan pada ruas jari tersebut juga semakin kuat, sesuai dengan kedalaman lengkungan sisi kaki yang lurus dengan jari tersebut. Kemudian, tekanan pada ruas jari tersebut semakin berkurang pada tiga jari berikutnya sesuai dengan semakin rendahnya lengkungan sisi kaki bagian luar. Sementara jari kelingking, ketika jari lainnya menjadi titik tumpu, hampir tidak menyentuh tanah sehingga ruas jari ini tidak mengalami tekanan apapun, sesuai dengan posisinya yang lurus dengan tulang yang tidak ada lagi lengkungannya.

Maka, tampaklah hikmah mengapa jari kaki tidak rata dan berjenjang. Akan tampak pula hikmah lain ketika jari-jari kaki menjadi titik tumpu saat sujud, bangun dari sujud, dan duduk diantara dua sujud. Semua ini demi memperkuat jaringan otot yang dapat menjaga lengkungan alami pada kaki. Hal ini juga menjadi latihan untuk menjaga agar telapak kaki tidak rata akibat terlalu banyak berjalan atau mengangkat beban.

Otot pada kedua kaki merupakan salah satu otot terbesar pada tubuh manusia, terutama empat ruas otot yang tedapat di paha bagian depan. Karena itu otot-otot ini membutuhkan latiihan dan beban yang lebih berat untuk memperkuatnya. Menjatuhkan diri ketika sujud dengan dua lutut dan tangan mengharuskan otot-otot ini mengerahkan tenaga cukup untuk menopang berat badan mulai dari menunduk hingga meletakkan lutut di tanah. Tenaga yang dikeluarkan untuk menopang tubuh ini mampu menambah kekuatan otot kaki. Meskipun waktu gerakan untuk sujud tidak lama, tetapi pengulangan pada tiap rakaat dapat menambah kekuatan otot kaki tersebut.

Manusia yang kuat butuh olahraga yang lebih banyak dan berat. Sebaliknya, orng lemah memerlukan olahraga yang lebih ringan. Begitu pula anak-anak dan remaja membutuhkan olahraga yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan mereka.

Karena otot kaki menanggung beban berat badan, maka pada setiap orang beban itu berbeda-beda. Otot anak kecil hanya mampu menopang beban tubuhnya yang juga kecil. Begitu pula para olahragawan yang bertubuh besar dan kuat, maka ototnya mampu menanggung beban tubuhnya yang juga besar.

Gerakan-gerakan shalat memperhatikan perbedaan-perbedaan semacam itu, terutama bagi orang yang sedang sakit atau tak mampu melaksanakan gerakan shalat secara normal.

Gerakan menunduk untuk sujud ini dilakukan dengan cepat, maka gerakan ini menambah suplai darah ke kepala. Dan ketika bangun dari ruku, darah terpompa dari jantung ke kepala. Dan ketika merunduk untuk sujud, aliran darah ke kepala semakin cepat disebabkan gerakan reflek darah. Hal inilah yang menambah suplai darah ke kepala

Bertambahnya suplay darah ke kepala berarti bertambahnya oksigen sebagai hasil dari bertambahnya kuantitas darah yang kaya oksigen. Berarti juga semakin cepatnya pembersihan dari proses kimiawi, bersama darah yang mengalir kembali dari kepala ke jantung. Hasilnya dapat menyembuhkan rasa pusing akibat penumpukan sisa-sisa proses kimiawi di otak maupun karena minimnya oksigen yang terserap ke otak. Selanjutnya, vitalitas otak akan segera kembali.

Adapun bagi para penderita tekanan darah rendah, kurang darah, maupun kondisi lemah yang biasanya menyertai tekanan darah rendah, keadaannya bisa semakin buruk. Maksudnya, semakin sedikit suplai darah ke kepala akibat penyakit-penyakit tersebut, dapat mengakibatkan rasa pusing yang luar biasa. Hal in akibat dari kurangnya oksigen dan menumpuknya sisa-sisa pembakaran di otak. Akibat lainnya adalah pandangan kabur, mata berkunang-kunang, dan tidak fokus. Bahkan dapat menghilangkan daya pikir sehingga vitalitas tubuh dan otak menurun, disamping penurunan drastis pada fungsi-fungsi vital dalam tubuh lainnya.

  1. Rahasia Sujud

Sujud merupakan bentuk ibadah paling luhur, karena hal tersebut menunjukkan sikap tunduk, patuh, dan berserah diri kepada Alloh SWT. Sujud adalah jalan paling baik untuk mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Selain itu, sujud pun merupakan puncak gerakan dalam shalat yang paling banyak memberikan manfaat. Gerakan-gerakan lain dalam shalat, seperti berdiri, ruku, i’tidal, dan lainnya adalah gerakan penyiapan otot-otot sebelum melaksanakan puncak gerakan shalat yaitu sujud itu sendiri.

Banyak hadits yang menjelaskan posisi sujud mengharuskan seseorang bertumpu pada kedua telapak tangannnya, jari-jarinya menghadap kiblat, dan tedapat jarak yang renggang antara siku dan lambung. Mengapa demikian ?

Ketika seseorang bertumpu pada telapak tangan dan jarak renggang antara siku dan lambung, maka otot-otot lengan mengerahkan tenaga yang besar untuk menopang berat badan bersama dengan otot-otot leher. Pinggul yang terangkat tinggi juga menambah beban pada otot-otot lengan dan leher ini. Berbeda dengan pinggul rendah dan perut tertahan kedua paha, maka beban lengan relatif ringan. Dengan begitu, otot-otot lengan tidak semakin kuat, karena beban perut yang biasanya ditanggung lengan beralih ke paha.

Semakin berat beban yang ditanggung otot lengan dan otot leher, maka semakin kukat pula kedua otot tersebut. Kekuatan otot ini dikenal berfungsi menahan dan mengatasi beban yang datang dari luar. Dalam hal ini, otot lengan dapat mengatasi dan menyangga berat badan bersama dengan otot leher. Begitu pula ketika titik tumpu berada di kening dan telapak tangan, maka ada kesempatan untuk saling berbagi beban antar lengan dan leher. Bila sujud ini berlangsung lama, maka otot lengan maupun leher tidak akan cepat mengalami tekanan atau kelelahan, karena adanya pembagian beban antara keduanya selama sujud.

Pembagian beban antara lengan dan leher ini juga memberi kesempatan untuk membersihkan sisa-sisa pembakaran yang ada di otot akibat pengerahan tenaga. Selain itu, hal ini pun mencegah terbentuknya asam laktik yang secara perlahan dapat memeutuskan sinyal-sinyal syarat dan otot sehingga mengakibatkan seseorang tidak akan mencapai manfaat dari sujud.

Nabi SAW, memerintahkan kita memperbanyak sujud dan berdoa pada saat sujud. Hal ini karena sujud yang lama dapat meningkatkan daya tahan, terutama pada otot-otot lengan dan leher. Daya tahan ini merupakan salah satu unsur kebugaran tubuh. Maksudnya, tubuh memiliki kekuatan terus menerus melakukan gerakan tertentu dalam waktu yang sangat lama.

Semua manfaat positip tersebut bisa saja dicapai tanpa harus membuat jarak renggang antara siku dan lambung. Tetapi, mengapa diperintahkan karena gerakan lengan berkaitan erat dengan gerakan tulang belikat yang ada di belakang pundak. Tulang inilah yang menentukan bungkuk atau lurusnya punggung. Bungkuk dibagian punggung adalah penyakit yang biasa menimpa orang-orang yang bekerja di kantor.

Ketika seseorang merenggangkan kedua tangannya, kedua lengan bagian atas sejajar dengan pundak. Dengan demikian, sisi luar tulang belikat tertekan kebelakang dan sebaliknya bagian dalam tertekan ke depan sehingga posisi punggung kembali seperti semula. Hal ini selain dapat menyembuhkan punggung bungkuk, juga menguatkan otot pundak karena terus menerus menekan punggung yang bungkuk. Ruang pernafasan juga semakin longgar akibat rongga dada yang semakin lega dan punggung lurus. Hasilnya kuantitas darah yang kaya oksigen bertambah, vitalitas pikiran dan organ-organ dalam tubuh meningkat.

Dalam sujud kita meninggikan pinggul dengan cara memosisikan kedua paha tegak lurus di atas tanah. Sementara perut sama sekali tidak menyentuh paha. Dengan begitu, punggung akan tetap lurus meskipun dalam posisi miring mulai dari pangkal paha bagian atas hingga titik posisi kening di tanah.

Selanjutnya otot-otot punggung dan perut menopang kelurusan punggung dan menahan agar tidak terjatuh ke bawah ketika sujud. Dengan kata lain, menahan agar punggung tidak menekuk dan rongga di sekitar pangkal paha (lumbal) bertambah. Bila sujud dalam waktu lama, energi yang dikerahkan otot di sekitar perut dan punggung semakin bertambah untuk menjaga kelurusan punggung. Hal ini dapat mencegah perut buncit dan melebarnya tulang lumbal. Jadi penguatan otot-otot punggung dan perut serta tongga tulang lumbal yang tidak melebar berfungsi melindungi tubuh manusia dari penyakit nyeri punggung. Selain itu dapat pula melindungi manusia dari penyakit asam urat. Rasa nyeri asam urat biasanya terjadi karena semakin melebarnya rongga tulang lumbal sehingga menekan saraf makanan di sekitar belakang kaki.

Posisi telapak kaki yang demikian ini dapat mengencangkan otot perut betis dan menambah kelenturannya, karena otot pada bagian ini biasanya selalu mengerut ketika berjalan atau berlari. Otot ini umumnya juga tidak bisa mengembang secara sempurna, kecuali bila seseorang menggabungkan tulang telapak kakinya mengarah ke betis atau berjalan di atas tumitnya.

Kekencangan otot betis ini tidak hanya menambah kelenturan pada betis saja, tetapi pada sendi pergelangan kaki juga. Maka, kelincahan gerakan kaki akan bertambah sehingga dalam setiap langkah lebih cekatan dan tangkas. Titik tumpu pada telapak kaki mendorong ruas jari di ujung telapak kaki ke arah belakang sehingga lengkungan memanjang dan melintang di telapak kaki semakin bertambah. Kadar tekanan ruas kaki ini selalu sebanding dengan panjang dan kekuatan jari kaki. Contoh, tekanan pada jari kaki yang paling besar itu lebih kuat daripada yang lainnya karena titik tumpu padanya juga paling berat sesuai dengan lengkungan melintang pada telapak kaki yang saat itu melengkung sempurna

Berbeda dengan jari kai yang paling kecil. Titik tumpunya sedikit, bahkan hampir tidak ada beban sama sekali sehingga tekanan pada ruas jari kaki juga tidak ada. Hal ini karena di sepanjang ruas jari bagian luar tidak ada lengkungan memanjang dan melintang. Jadi, kadar kekuatan tekanan pada masing-masing jari itu berbeda sesuai dengan ukuran panjang dan kekuatan masing-masiing jari tersebut. Bertolak dari konsep tersebut, kita dapat melihat hikmah dari perbedaan panjang dan pendek jari-jari kaki.

Selain menambah lengkungan pada telapak kaki, posisi sujud ini juga menguatkan jaringan-jaringan urat yang melindungi lengkungan memanjang maupun melintang. Oleh karena itu, posisi tersebu tidak hanya berfungsi melindungi, tetapi juga mengobati penyakit kaki rata (flat foot), yaitu rasa sakit pada telapak kaki karena terjadi tekanan pada saraf dan pembuluh darah yang memasuk gizi ke telapak kaki, sementara saraf dan pembuluh darah ini berada di bawah perlindungan lengkungan-lengkungan tadi.

Penyakit kaki rata ini juga membuat manusia rentan mengalami goncangan pada otak ketiak melompat dari tempat tinggi karena tidak ada lengkungan telapak kaki yang menahan benturan dengan tanah pijakan. Disamping itu, penyakit ini menyebabkan seseorang tidak mampu berlari cepat dan sulit melakukan lompatan, karena kaki kehilangan ketangkasan dan kecekatan.

Posisi sujud yang berfaedah melindungi lengkungan kaki ini dapat menambah kecepatan seseorang berjalan maupun berlari. Selain itu, hal ini dapat menghindari goncangan pada otak ketika melompat dan menambah ketangkasan dan kelincahan langkah.

Daerah sekitar jari dan ruas kaki, tepatnya persendian antara perut jadi dan perut telapak kaki adalah daerah yang jarang terkena udara dan tampak ke permukaan karena selalu tertutupi ketiak berjalan atau berdiri, apalagi jika memakai kaos kaki atau sepatu. Daerah ini rentan terkena penyakit kulit karena adanya bakteri dan jamur yang dapat mengakibatkan luka borok di sela-sela jari. Kemudian, bertumpu pada perut jari kaki ketika sujud menjadikan daerah ini terkena udara. Air wudhu dapat mengalir rata di seluruh ruas jari sehingga bakteri-bakteri yang ada tersapu bersih. Kondisi ini berfungsi untuk memberikan perlindungan sekaligus pengobatan apabila terdapat penyakit kulit tersebut.

Pada waktu sujud, kening, hidung, dan kedua telapak tangan menyentuh tanah, serta tubuh relatif tidak bergerak. Dalam kondisi seperti ini darah dipengaruhi dua kekuatan, yaitu jantung yang memompa darah dan gravitasi bumi. Dua kekuatan ini bertemu di sekitar dada dan kepala, kemudian jantung memompa darah ke kepala bersamaan dengan kekuatan gravitasi bumi. Jadi, suplai darah ke kepala bertambah, dan pada saat yang sama otot-otot betis bagian belakang sedang mengencang dengan sempurna sehingga urat dan pembuluh dipenuhi darah.

Bertambahnya suplai darah ke otak juga berarti menambah kuantitas sari makanan dan oksigen yang terserap ke otak sehingga vitalitas sel-sel otak juga meningkat dan pembersihan sisa-sia pembakaran semakin cepat. Faedah lainnya adalah dapat menyembuhkan pusing kepala karena kurang oksigen, tekanan darah rendah, kurang darah, lemah jantung, maupun penyakit-penyakit lain yang disebabkan kurangnya suplai makanan dan oksigen melalui darah ke otak. Selain itu, juga dapat memperjelas pandangan bagi mereka yang terkena tekanan darah rendah, kurang darah, dan lainnya.

Pada waktu seseorang bangun dari sujud, darah kembali ke jantung dibantu oleh kekuatan gravitasi bumi. Saat itulah terjadi apa yang disebut dengan pencucian otak dan pembersihan dari zat-zat asam serta sisa-sisa metabolisme. Suplai darah yang cukup ke otak ketika sujud dapat meningkatkan vitalitas tubuh dan fungsi-fungsi dinamis anggota tubuh, sebagai efek alami dari bertambahnya oksigen ke otak dan semakin leluasanya rongga paru-paru.

  1. Duduk diantara Dua Sujud
Duduk diantara dua sujud adalah puncak latihan bagi tulang yang melengkung di telapak kaki. Saat duduk, seseorang bertumpu pada perut, jari telapak kaki, dan duduk di atas dua tumit. Posisi ini memang berat untuk kaki karena berat badan mulai dari paha hingga kepala menjadi tanggungan otot-otot dan urat kaki. Akan tetapi, hal ini baik untuk menjaga kelengkungan tulang telapak kaki agar tidak runtuhdan tidak menjadi kaki rata.

Juga berat bagi kaki karena seluruh berat badan menekan ke tumit sehingga telapak kaki melengkung sedemikian rupa. Dengan kata lain, tubuh dan bumi menjadi dua ujung catut yang menjepit kuat di sepanjang telapak kaki sehingga menambah lengkungan memanjang pada telapak kaki, bahkan melengkung maksimal dengan semakin kuatnya tekanan. Bertambahnya lengkungan memanjang pada telapak kaki ini juga menambah lengkungan melintang di telapak kaki. Hanya saja, lengkungan melintang yang berkembang mulai dari urat bawah kaki bagian dalam ini berkurang pada urat kaki bagian luar, karena tidak ada lengkungan melintang pada sisi luar urat kaki, tepatnya sepanjang jari kelingking. Berjenjangnya jari kaki dan kekuatannya mulai dari jari jempol kaki hingga jari paling kelingking itu sesuai dengan perbedaan ketinggian lengkungan melintang di kaki.

Oleh karena itu, ketika bertumpu pada perut jari kaki, beban berat menjadi terbagi diantara jari-jari itu, sesuai dengan kekuatan masing-masing jari kaki. Jadi, beban paling berat adalah pada jari jempol karena ruas jari ini tertekan kuat ke belakang. Oleh sebab itu, lengkungan melintang pada telapak kaki mencapai puncak ketinggian sepanjang jari jempol ini. Jadi pada jari kelingking hampir tidak ada tekanan berat sama sekali.

Hadits Anas yang mengatakan :”Rasululloh SAW duduk cukup lama setelah sujud hingga kami menyangka beliau ragu,” adalah dalil bahwa duduk diantara dua sujud itu butuh waktu yang cukup lama sehingga otot dan urat kaki juga lebih lama menanggung beban berat badan.

Hal ini mengakibatkan dua hal, pertama otot-otot dan urat kaki menjadi semakin kuat dan kedua tekanan yang cukup lama meningkatkan daya tahan otot dan urat kaki.

Kemudian, berjongkok yang dimaksud dalam hadits riwayat Thawus fungsinya adalah dapat mengencangkan otot-otot pada bagian depan paha. Pengencangan pada bagian ini dapat menambah kelenturan persendian lutut. Saat duduk, persendian lutut menekuk sedemikian rupa, yaitu betis menempel ke paha, dan empat otot yang ada di paha mengencang sehingga otot-otot bagian depan paha semakin lentur. Dengan kelenturan tersebut, persendian lutut menjadi terlatih dan jadi semakin kuat.

Apabila sujud dapat menambah suplai darah ke otak, duduk setelah sujud dapat mengalirkan darah kembali dari kepala ke jantung. Kembalinya darah dari kepala ini menjadi semacam pencucian kepala dan otak, karena darah membawa sisa-sisa proses kimiawi dan pembakaran sari makanan serta zat asam akibat pengerahan pikiran. Dengan demikian, pikiran kembali segar dan siap melakukan aktivitas berpikir lagi. Selain itu, pembersihan otak dari sisa-sisa proses pembakaran dapat memperbaiki kerja otak sehingga vitalitas tubuh semakin baik.

Meletakkan dua tangan di atas paha ketika duduk dapat mengistirahatkan kedua lengan setelah mengerahkan tenaga untuk menopang tubuh ketika sujud. Ujung telapak tangan hendaknya tidak melebihi lutut sehingga dua tulang belikat tetap sejajar dengan punggung. Apabila tangan diletakkan di atas paha akan mengakibatkan dua tulang belikat bengkok ke depan dan ujung segitiga tulang belikat bagian bawah akan menonjol. Tonjolan ini akan menyebabkan pundak bungkuk ke depan sehingga tidak sejajar lagi dengan punggung.

Tulang paha dianggap tulang paling panjang di tubuh manusia, lebih panjang daripada tulang betis, oleh karena itu, ketika paha dan betis rapat, dan yang diduduki adalah tumit, maka sebagian pantat berada tepat di belakang tumit. Hal ini mendorong tulang pinggul hingga miring ke belakang. Selain itu, hal ini dapat mengurangi lekukan pada tulang sekitar pangkal paha. Dalam keadaan seperti ini, tubuh menjadi semacam timbangan. Jika kepala mendongak ke atas atau ke belakang, rongga tulang pangkal paha juga akan melebar. Sebaliknya, jika kepala merunduk ke depan atau ke bawah, rongga pangkal paha juga akan semakin sempit.

Oleh karena itu, Nabi SAW melarang kita memandang ke langit dan menganjurkan agar pandangan tidak melebihi tempat shalat. Kepala yang hanya menunduk sedikit ke depan dapat menjaga rongga pangkal paha sehingga tidak semakin lebar atau menyempit. Bukan hanya mendongakkan kepala saja yag menyebabkan semakin melebarnya rongga pangkal paha ini, tetapi juga mengangkat kedua lengan. Oleh sebab itu, Nabi SAW menuntun kita agar mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram, hendak ruku, dan bangun dari ruku. Akan tetapi, beliau tidak menganjurkannya ketika sujud, karena mengangkat kedua tangan ini dapat menjadikan rongga pangkal paha semakin lebar sehingga rentan terkena penyakit nyeri punggung, terutama pada sekitar pangkal paha. Tidak itu saja, mengangkat tangan ketika sujud juga mengakibatkan tekanan terhadap saraf makanan yang ada di bagian belakang kaki sehingga menimbulkan penyakit asam urat.

  1. Duduk dan Bangkit dari Sujud

Keseimbangan adalah salah satu unsur kebugaran tubuh. Hal ini yang dimaksud dengan keseimbangan adalah kemampuan seseorang untuk menjaga kestabilan tubuhnya, baik ketika diam maupun bergerak, meskipun titik tumpu kecil atau sedikit. Dengan kata lain, kemampuan tubuh untuk menjaga keseimbangannya meskipun ruang lingkup titik tumpu kecil atau sedikit.

Keseimbangan ini sangat penting, terutama ketika seseorang sedang berjalan di atas ketinggian atau berjalan sambil bertumpu hanya pada satu kaki di tempat yang tinggi. Tentu saja dia tidak ingin terjatuh dari tempat tinggi itu. Oleh karena itu, dia harus mampu menjaga keseimbangan tubuhnya guna mengatasi hal itu dan melewatinya dengan selamat. Dengan kata lain, keseimbangan adalah setiap kegiatan yang mengharuskan seseorang menjaga kestabilan tubuhnya agar tidak terjatuh dari tempat yang tinggi.

Semakin sedikit titik tumpu sebuah tubuh, semakin berkurang juga keseimbangannya. Tubuh manusia secara umum tunduk pada kaidah ini, sehingga ketika seseorang berbaring atau telungkup, keseimbangan tubuhnya menjadi kuat karena jarak pondasi tumpunya juga besar. Akan tetapi, ketika berdiri di atas kedua kaki, maka keseimbangannya lebih lemah dari pada berbaring atau telungkup karena kedua kaki yang menjadi titik tumpu, lebih sedikit dari titik tumpu ketika berbaring itu.

Ketika seseorang berdiri dari sujud, maka titik tumpunya berada di ujung telapak kaki, yaitu perut jari-jari kaki, dan sedikit ruas jari kaki. Titik tumpu ini adalah titik tumpu yang paling lemah bagi tubuh manusia, namun tidak menimbulkan gangguan apa-apa. Berbeda dengan jika hanya bertumpu pada satu telapak kaki dapat menyebabkan tulang pinggul dan bagian samping tulang punggung miring. Begitu juga apabila hanya bertumpu pada satu tangan atau ujung slah satu kaki. Akan tetapi, tidak demikian apabila bertumpu pada ujung dua telapak kaki karena posisi itu merupakan titik tumpu paling minimal bagi tubuh manusia dan tidak menimbulkan gangguan apapun. Hal ini terjadi karena tulang pinggul juga bertumpu pada tempat yang sama, yaitu dua telapak kaki. Degan demikian, bankit dari sujud dengan bertumpu pada ujung dua telapak kaki dapat meningkatkan keseimbangan tubuh seseorang.

Sedangkan hadits yang menyatakan bahwa nabi SAW berpegangan pada sebuah tiang, menunjukkan bahwa nabi SAW tidak selalu berdiri dari sujud dengan bertumpu pada ujung telapak kaki.

Keseimbangan ini hanya dibutuhkan apabila seseorang berjalan di tempat yang tinggi atau hanya bertumpu pada benda kecil di tempat yang tinggi. Keadaan ini memang jarang terjadi. Jadi, peningkatan keseimbangan tubuh melalui gerakan sujud yang hanya bertumpu pada ujung kaki telah sesuai dengan kebutuhan manusia yang memang tidak selalu membutuhkan keseimbangan itu. Lagi pula, waktu untuk gerakan berdiri tersebut tidak lama dan sudah sesuai dengan kadar keseimbangan tubuh yang dibutuhkan manusia.

Satu hal yang perlu dicatat, duduk istirahat ini terjadi setelah sujud. Bila sujud dapat menambah suplai darah ke kepala, maka duduk istirahat dapat mengembalikan darah dari kepala ke jantung sehingga membantu bangkit berdiri laksana anak panah. Hal ini karena ketika bangkit berdiri, darah menekan ke bawah akibat gaya gravitasi bumi.

Duduk sebentar sebelum bangkit berdiri ini merupakan persiapan tubuh dalam menghadapi gerak reflek darah. Darah bergerak kembali dari kepala ke jantung, seraya membawa sisa-sia pembakaran dan menekan ke bawah. Inilah yang disebut dengan pencucian otak yang dapat mengembalikan kesegaran dan vitalitasnya, dapat menyembuhkan pusing kepala yang disebabkan karena kurangnya oksigen di otak, memperjelas daya pandang mata, dan mengurangi tekanan pada saluran-saluran darah yang ada di jaringan otak akibat banyaknya aliran darah ke kepala. Dengan kata lain, duduk istirahat ini adalah pemenuhan sekaligus pengosongan saluran darah di otak dan mata sehingga sirkkulasi darah dapat kembali lancar

Bagi penderita tekanan darah tinggi, bangkit berdiri dapat mengurangi tekanan darah di kepala sehingga mengurangi rasa pusing akibat tingginya tekanan darah. Apabila dilakukan berulang-ulang dalam shalat, dapat meminimalisasi terjadinya pecahan pada sebagian saluran darah di otak maupun di jaringan mata.

Bertumpu pada ujung kaki ketika berdiri dari sujud ini dapat menguatkan urat-urat dan otot-otot telapak kaki, sekaligus menjaga lengkungan telapak kaki sehingga lebih kokoh dan lebih cepat ketika berlari.

Satu-satunya perbedaan antara merunduk untuk bangkit berdiri dari sujud dan merunduk untuk sujud adalah ketika merunduk untuk sujud, gaya gravitasi membantu gerakan ini sehingga beban yang ditanggung otot lebih ringan, sementara ketika bangkit beban lebih berat karena gaya gravitasi tersebut.

Jadi berdiri setelah sujud dalam kondisi ini lebih diutamakan dengan cara mengangkat telapak tangan dan meluruskan punggung dulu, seraya duduk sejenak baru kemudian berdiri dengan menekan atau bertumpu pada ujung jari kaki. Bukan berdiri dengan cara telapak tangan belakangan sementara pinggul dan lutut bangkit duluan.

  1. Duduk Tasyahud

Mengapa Nabi membedakan antara posisi duduk tasyahud awal dengan tasyahud akhir ?

Waktu duduk tasyahud awal lebih lama dari pada duduk antara dua sujud tetapi lebih sebentar dari duduk tasyahud akhir. Untuk itu Nabi memberikan contoh dengan duduk di atas telapak kaki kiri yang ditelentangkan dan kaki kanan yang ditegakkan. Menelentangkan telapak kaki kiri ini akan memudahkan seseorang untuk berdiri melanjutkan rakaat berikutnya.

Ketika seseorang duduk di atas telapak kaki kiri, maka tulang pinggul akan miring dan rongga pangkal paha semakin lebar. Tetapi apabila kepala sedikit menunduk ke depan, akan mengurangi semakin melebarnya rongga pangkal paha. Menunduk sedikit ke depan dapat menjaga keseimbangan rongga pangkal paha, karena ia dapat melebar ketika kepala mendongak ke atas dan juga menyempit bila kepala menunduk sedikit sebagaimana posisi saat duduk tasyahud.

Sementara itu, menegakkan kaki kanan seraya jari kaki menghadap ke kiblat dapat membantu menguatkan urat-urat kaki kanan sekaligus menjaga kelengkungannya. Penguatan kaki kanan ini memang sesuai fitrahnya bahwa setiap kegiatan selalu diawali dengan langkah kaki kanan, untuk itu butuh kekuatan lebih bagi kaki kanan.

Kaki kanan harus ditegakkan, karena ketika seseorang duduk di atas kaki kirinya, pantat miring ke kanan disebabkan bagian kirinya terangkat. Menegakkan kaki kanan ini akan membantu mengangkat bagian kanan pantat sehingga sisi kanan dan kiri menjadi seimbang dan sejajar sehingga bilah-bilah tulang punggung juga tidak miring.

Posisi duduk seperti tasyahud awal ini menjadikan otot-otot bagian belakang paha menekan kuat ke otot betis. Begitu juga sebaliknya keduanya saling menekan, sama seperti dalam posisi duduk diantara dua tumit. Posisi tersebut dapat mengosongkan pembuluh-pembuluh darah di betis sehingga bisa melindungi dari varises di betis.

Untuk lebih memahami maka kita perlu membahas sedikit tentang anatomi pembuluh darah di tungkai. Yagn dimaksud dengan tungkai adalah bagian bawah tubuh manusia mulai dari persambungan paha dengan badan hingga telapak kaki. Di tungkai ini terdapat dua macam pembuluh darah. Pertama, pembuluh darah balik (vena), yaitu yang tampak di bawah permukaan kulit. Kedua, pembuluh darah arteri, yaitu yang terdapat di antara otot-otot tungkai yang tidak tampak di bawah kulit.

Setelah darah selesai membawa oksigen dan sari makanan yang dibutuhkan sel-sel tubuh bagian bawah, maka ia kembali lagi ke jantung. Jalan kembali ke jantung ini adalah melalui pembuluh darah. Dari seluruh darah yang sampai ke tungkai, sembilan puluh persen diantaranya kembali lagi ke jantung melalui pembuluh darah balik dalam pembuluh darah utama di tungkai, yaitu pembuluh darah yang ada di paha, sedangkan sepuluh persen sisanya kembali melalui pembuluh darah luar, di dalam jaringan tubuh dan tungkai.

Ada dua pembuluh darah luar di tungkai, yaitu vena yang panjang dan vena yang pendek. Kedua superfisial bersambung erat dengan vena paha melalui vena pendek di bagian atas, yang disebut urat-urat penembus. Dinamakan demikian karena urat-urat tersebut menembus selaput-selaput yang menyebar di otot-otot tungkai sebelum ia sampai di vena paha. Dua vena luar ini mengalirkan darah yang ditampungnya ke arah vena paha. Gerakan otot-otot tungkai ini menekan vena paha sehingga darah yang ada di dalamnya menekan kembali ke atas, tepatnya ke arah jantung. Adapun tekanan otot terhadap vena paha ini tidak bisa menyebabkan darah kembali mengalir ke pembuluh darah balik, karena adanya katup di tempat pertemuan antara vena luar dan vena dalam. Katup ini hanya bisa mengalirkan darah melalui satu arah, yaitu dari vena luar ke vena dalam.

Dengan demikian, varises disebabkan semakin membesarnya pembuluh darah balik, khususnya pada bagian tungkai. Ketika darah kembali lagi ke pembuluh darah balik setelah sampai ke vena dalam, maka katup vena melebar. Apabila hal ini terjadi berulang-ulang, maka otot-otot kaki menekan vena dalam sehingga darah terus menerus bertumpuk di vena luar. Inilah yang menyebabkan vena tersebut melebar dan bengkak sehingga tampak jelas menonjol di bawah kulit menjadi vena yang melingkar-lingkar.

Duduk tasyahud pertama menjadikan otot-otot bagian belakang paha dan otot sembung tungkai saling menekan sehingga terjadi tekanan pada pembuluh darah balik ke tungkai. Dengan tekanan tersebut, vena dalam kosong dari darah kotor, asam profik, asam laktik, dan sisa-sisa pembakaran. Pengosongan vena dalam ini menjadikan darah mengalir dengan lancar dari vena luar ke vena dalam sehingga tidak akan ada darah vena yang membeku di dalam jaringan luar. Dengan demikian, seseorang akan terlindungi dari pembengkakan vena atau pembuluh darah balik di tungkai.

Bagi seseorang yang sudah terlanjur kena varises, hendaknya sering menggunakan kaos kaki yang ketat. Fungsinya adalah untuk menekan vena luar agar tidak memanjang dan menyebar.

Baik ketika duduk diantara dua sujud maupun tasyahud awal, terjadi tekanan pada urat-urat tungkai. Hal ini terjadi berulang-ulang dalam setiap shalat sehingga dapat mengurangi darah beku pada tungkai, tentu tidak akan terjadi varises.

Disebutkan dalam hadits bahwa dalam tasyahud akhir, Rasululloh SAW memasukkan kaki kiri dan tetap menegakkan kaki kanan beliau. Hal ini bertujuan untuk mengurangi potensi terjadinya efek negatif yang muncul akibat tekanan yang terlalu lama atas pembuluh darah pada tungkai.

Mengenai cara meletakkan dua lengan dijelaskan dalam hadits bahwa beliau meletakkan siku kanan di atas paha kanan beliau, lalu menggenggam dua jari beliau dan menautkannya dengan jari tengah, kemudian beliau menunjuk jari tellunjuk. Posisi seperti ini adalah posisi paling baik secara anatomis untuk lengan kanan. Selain itu, posisi paling baik juga adalah ketika lengan diletakkan di depan dada, tepatnya perut lengan bawah menghadap sisi dada.

Orang awam pun dapat mengetahui hal ini melalui percobaan, yaitu dengan meletakkan siku lengan kanan dan jari kelingkingnya di paha. Lalu, ulangi dengan meletakkan siku lengan kanan dengan telapak tangan yang dihadapkan ke paha. Pasti akan dapat dirasakan perbedaan dari kedua posisi itu. Posisi yang pertama akan terasa lebiih rileks. Hal itulah yang dicontohkan oleh Rasululloh SAW.

Berkaitan dengan posisi lengan kiri, sebuah hadits menjelaskan bahwa Nabi SAW meletakkannya di atas paha dan lutut kiri beliau.

Posisi tersebut menyebabkan terjaadinya tekanan pada tulang pinggul sehingga cenderung miring ke kiri. Posisi kedua lengan dapat menjaga keseimbangan ketika duduk dan menambah tekanan pada tulang pinggul ke arah kanan. Hal ini dibantu tekanan ringan tangan kiri terhadap paha kiri. Hal ini juga menjadi penyeimbang tulang pinggul yang cenderung miring ke kiri akibat kaki kanan yang tegak.

  1. Gerakan Salam



Mengapa kita harus menoleh secara sempurna ketika gerakan salam ?
Karena ketika kita memalingkan wajah ke kanan maka urat leher kiri mengencang, dan urat leher kanan berkontraksi secara kuat. Juga sebaliknya, maka untuk keseimbangan harus digerakkan secara sempurna dan perlahan-lahan.

Ketika seseorang salam dan menoleh ke kanan dan ke kiri kelompok-kelompok urat tersebut menguat dan mengencang secara bergantian sesuai dengan kadar energi yang dikeluarkan masing-masing. Keadaan semacam ini sangat jarang, karena penggunaan otot-otot tersebut dalam kehidupan sehari-hari juga jarang. Dengan demikian, gerakan salam ini untuk melatih dan menjaga stamina otot-otot tersebut. Sehingga kelenturan otot-otot ini bisa menjaga dan melindungi semua pembuluh darah di dalamnya.

Dewan Kemakmuran Masjid Al-Musabbihin

Written By Unknown on Senin, 27 Agustus 2012 | 8/27/2012

Assalamaualaikum wwb

      Puji syukur kita senantiasa panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang selalu memberikan kita Rizqi dan kenikmatan sehigga masih diberikan kesepatan untuk berkarya dalam rangka mensyiarkan islam khususnya dilingkungan Kompas Indah RT08 - Tambun .

        Adalah suatu amanah yang sangat besar yang diberikan oleh jamaah masid Al-Musabbihin yang harus kita jaga dalam mengelola dan mengembangkan syiar islam serta penaingkatan wawasan Jamaah yang islami sehingga dapat menjadi bekal kelak diahir nanti, sehingga dalam pelaksananya sangatlah diperlukan figur-figur yang handal yang mempunyai tingkat sosial yang tinggi dan hanya mengharapak ridhlo Illahi semata, Amien


SUSUNAN KEPENGURUSAN
DEWAN KEMAKMURAN MASJID AL-MUSABBIHIN
Period : 2016 ~ 2021


I.            PELINDUNG                 : KETUA RW 08 and Kepala Desa Mekarsari
II.          PENASEHAT                 :
  • Bp. H Soetardjo 
  • Bp. Arya
  • Bp. KH Abdurahman Yusuf

III.        PEMBINA                    : KETUA RT 01 ~ 11
IV.       KETUA UMUM              : Ust. Aprianto Sag
V.            SEKERTAIS                         : Ust. NAN SUKARNA
VI.         BENDAHARA               : Bp. Suradi


VII.      KETUA I                       : Bp. Firmansyah
  •        Iman Rowatib               : Ust Dadaang Rahmat
  •         PHBI                            : Paino
  •          SARANA & PRASARANA : H. RAMANTO

VIII.            KETUA II                  : Bp. Rizkan
·        PENDIDIKAN                 : Ibu RUDY
·        BAZIZ                          : Roediyanto
·        IRMAS                          : IPKI RW 08


ttd
Dewan Syuro Masjid AL-MUSABBIHIN

Sepatah kata pembuka

Written By Unknown on Kamis, 16 Agustus 2012 | 8/16/2012

Assalamualaikum wwb.

     Puji syukur kehadirat allah SWT yang telah memberikan banyak nikmat dan dan diataranya adalah nikmat iman, islam dan kesehatan serta nikmat ilmu yang insyaallah bisa kita gunakan kejalan menuju ridlo illahi.

Shalawat dan salam senantiasa kita sanjungkan kepada jujungan kita, manusia yang agung, manusia yang suci yang menjadi suri dan tauladan kita semua yaitu nabi Muhammad SAW. semoga kita sebagai pengikut dan umatnya akan mendapat syafa'at kelak di hari akhir nanti. amin..

Para pembaca yang insyaallah dirahmati Allah SWT,

Dalam rangka mengembangkan dan mensyiarkan ajaran islam khususnya untuk Jamaah Masjid AL-MUSABBIHIN yang bertempat di RW 08 Kompas Indah -Tambun Selatan, dengan suatu gagasan dari pengurun DKM AL-MUSABBIHIN maka kami mencoba membuat sebuah sarana media komunikasi untuk men-share dakwah melalui media electronik ini.

semoga dengan media ini akan bermanfaat buat kita semua para jamaah khusus nya di lingkungan Masji AL-MUSABBIHIN Kompas-Tambun.

Ini adalah posting perdana blog Masjid AL-MUSABBIHIN dan insyallah dengan istiqomah dan tewakdu kita akan terus perbaiki, jika anda ingin mengunjungi website AL- MUSABBIHIN silahkan buka dkmmusabbihin@blogsport.com
Tentunya banyak hal yang perlu di perbaiki dan bimbingan supaya mencapai kebenaran walapun belum ke titik kesempurnaan.
Jika dalam penyajian makalah atau tulisan banyak kekurangan dan kesalahan tentunya sebagai insan biasa kami mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya karena sesungguhnya kesempurnaan itu hanya milik NYA
Semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan membimbing kita ke jalan yang lurus.
Amin.....................

wasalam wwb
DKM AL-MUSABBIHIN
 
Contact Support: Twitter | Facebook
Copyright © 2012. AL-MUSABBIHIN - All Rights Reserved
Published by TakadaTapiono Creative