MASJID AL-MUSABBIHIN

MASJID AL-MUSABBIHIN
Sumber Dakwah dan Informasi DKM AL-MUSABBIHIN PERUM KOMPAS INDAH TAMBUN
Latest Post

Menggeleng-gelengkan Kepala ketika Berdzikir

Written By Unknown on Sabtu, 15 September 2012 | 9/15/2012

Lazim kita melihat dalam berbagai kesempatan baik dalam tahlil, wirid, ataupun acara lain orang-orang menggeleng-gelengkan kepala ketika berdzikir. Ternyata setelah dipertanyakan asal-usul gerakan tersebut, jarang sekali yang dapat menerangkan. Jangan-jangan hal itu merupakan pengaruh tradisi Yahudi?


Atau memang murni ajaran Rasulullah SAW. mengingat belum ditemukan hadits yang menerangkan hal itu. Hanya saja sebagian masyarakat mengakui bahwa gerakan itu mempermudah konsentrasi dalam berdzikir. Tentunya hal ini sangat bernilai positif. Akan tetapi bila dipertanyakan apakah gerakan itu sunnah, atau makruh atau apapun hukumnya?  maka hal yang positif tidak selamanya sejalan dengan hukum syariat.
Namun demikian, guna mendapatkan informasi mengenai hukum menggeleng-gelengkan kepala dalam berdzikir, patut kiranya menelusuri terlebih dahulu apa itu dzikir.
Dalam al-Baqarah 152 Allah memerintahkan kepada makhluqnya untuk senantiasa mengingat-Nya.

فاذكرونى اذكركم...
“Ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu”

artinya dzikir adalah sebuah tindakan yang bertujuan untuk mengingat Allah swt sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam konteks “ingat kepada Allah” ini umat Islam tidak pernah lepas dari tiga hal: doa, wirid dan zikir. Doa adalah permintaan atau permohonan sesuatu kepada Allah untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat. Wirid merupakan bacaan tertentu untuk mendapatkan 'aliran' berkah dari Allah. Sedangkan zikir adalah segala gerak-gerik dan aktivitas yang berobsesi pada kedekatan atau taqarrub kepada Allah. Me-lafadz-kan atau melafalkan kata-kata tertentu yang mengandung unsur ingat kepada Allah, juga termasuk zikir. Zikir sangat penting karena dalam pandangan kesufian ia merupakan langkah pertama cinta kepada Allah.

Ada dua macam zikir atau ingat kepada Allah: pertama, dzikr bil-lisan, yaitu mengucapkan sejumlah lafaz yang dapat menggerakkan hati untuk mengingat Allah. Zikir dengan pola ini dapat dilakukan pada saat-saat tertentu dan tempat tertentu pula. Misalnya, berzikir di mesjid sehabis salat wajib. Kedua, dzikr bil-qalb, yaitu keterjagaan hati untuk selalu mengingat Allah. Zikir ini dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, tidak ada batasan ruang dan waktu. Pelaku sufi lebih mengistimewakan dzikr bil-qalb ini karena implikasinya yang hakiki. Meskipun demikian, sang dzakir (seseorang yang berzikir) dapat mencapai kesempurnaan apabila ia mampu berzikir dengan lisan sekaligus dengan hatinya.
Dengan demikian, orientasi zikir adalah pada penataan hati atau qalb. Qalb memegang peranan penting dalam kehidupan manusia karena baik dan buruknya aktivitas manusia sangat bergantung kepada kondisi qalb.
Oleh karena itulah semulia-mulia makhluq adalah mereka yang senantiasa berdzikir mengingat Sang Pencipta. Dalam Ali Imran 191 diterangkan bahwa:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Ayat di atas juga dapat digunakan sebagai petunjuk bahwasannya berdzikir kepada Allah swt sangat dianjurkan dalam berbagai kesempatan dan kondisi. Tidak hanya ketika khusyu’ berdiam diri (tuma’ninah) tetapi juga ketika beraktifitas, qiyaman wa qu’udan baik berdiri maupun duduk, bahkan juga ketika berbaring wa a’la junubihim. Apalagi hanya sekedar menggeleng-gelengkan kepala, selagi hal itu memiliki pengaruh yang positif maka hukumnya boleh-boleh saja. bahkan disunnahkan. Hal inilah yang diinformasikan oleh kitab Fatawal Khalili ala Madzhabil Imamis Syafi’i:

... علمت أن الحركة فى الذكر والقرأة ليست محرمة ولا مكروهة بل هي مطلوبة فى جملة أحوال الذاكرين من قيام وقعود وجنوب وحركة وسكون وسفر وحضر وغني وفقر ...

… saya jadi mengerti bahwasannya menggerakkan (anggauta badan) ketika berdzikir maupun membaca (al-qur’an)  bukanlah sesuatu yang haram ataupun makruh. Akan tetapi sangat dianjurkan dalam semua kondisi baik ketika berdiri, duduk, berbaring, bergerak, diam, dalam perjalanan, di rumah, ketika kaya, ataupun ketika faqir…
Dengan demikian teringat kita dengan tarian sufi yang dinisbatkan kepada Jalaluddin Rumi. Bagaimana dzikir juga diapresiasikan dalam seni tari.

Sumber : Nahdlatul Ulama online

Beberapa Cara Mati

Written By Unknown on Selasa, 11 September 2012 | 9/11/2012

Assalamu'alaikum wwb


        Mati adalah sebuah rahasia dan hanya Allah Swt. yang mengetahui kapan seseorang itu mati. Tidak akan ada manusia yang mengetahui saat detik nyawanya dicabut, dan di wilayah bumi mana akan ditemuinya ajalnya itu.
Usia seseorang telah ditentukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ada yang berumur panjang sampai lebih seribu tahun seperti nabi Adam Alaihissalam dan ada pula yang sampai ratusan tahun lamanya seperti nabi Nuh Alaihissalam. Tetapi ada pula yang berumur pendek hanya beberapa detik saja hidup di dunia ini. Junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam berusia 63 tahun saat wafatnya dan Beliau pernah bersabda bahwa umur umatku seperti umurku yaitu antara 60 sampai 70 tahun.
Ada beberapa cara kematian yang menimpa umat manusia. Di antara cara-cara kematian itu adalah:


1.      Allah sendiri yang mematikan.

Ada beberapa ayat yang menerangkan akan hal ini, antara lain :
Surat az Zumar ayat 42
az-zumar42.png 
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.”

Surat Al Hajj ayat 66
al-hajj66.png 
“Dan Dialah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi), Sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat mengingkari nikmat.”

Surat Al Mulk ayat 2
al-mulk2.png 
“yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,”

2.      Dimatikan oleh Malaikat Maut

        Cara kematian yang kedua adalah Allah memerintahkan malaikat maut untuk melakukan pencabutan nyawa makhluk Allah, sebagai Wakil Allah dalam melaksanakan ketentuan Allah itu. Keterengan akan hal ini terdapat dalam beberapa ayat, antara lain :

Surat As Sajadah ayat 11
as-sajdah11.png 
Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.”

3.      Diwafatkan oleh beberapa Malaikat

        Cara kematian yang ketiga adalah dimatikan oleh beberapa Malaikat yang diutuskan Allah untuk mencabut nyawa makhluk-Nya itu. Sehingga tidak usah heran jika terjadi bencana alam, dan ratusan ribu nyawa melayang dalam waktu yang bersamaan, Malikat Pencabut nyawa dapat dengan mudah melakukannya, sebab ada tidak terhingga banyaknya Malaikat yang diserahi tugas mencabut nyawa manusia itu.

Ada beberapa ayat yang menceritakan hal ini, antara lain :
Surat Al An’am ayat 61
 al-anam61.png
Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, dia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat- Malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.”

Sebagian ulama mengatakan para malaikat pencabut nyawa ini adalah tentara-tentara Malaikat Maut yang  membantu mencabut nyawa manusia dan jin.

Surat Al Anfal ayat 50
 al-anfal50.png
“kalau kamu melihat ketika Para Malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar", (tentulah kamu akan merasa ngeri).

         Pada saat nyawa seseorang diambil di saat kematiannya, biasanya mata orang itu akan terbuka dan mengikuti perjalanan ruhnya itu. Sehingga tidak usah heran jika seseorang yang sakit dan tidak mampu lagi membuka kedua matanya selama beberapa hari di saat sakitnya itu, mendadak saat detik detik nyawanya berangkat dia malah dapat membuka matanya itu. Sedangkan arah pandangan matanya mengikuti perjalanan ruhnya yang dicabut Malaikat dari arah ubun ubunnya. Itulah sebabnya mengapa bola matanya mengarahkan pandangannya saat terakhir itu ke arah atas kepalanya.
Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda: “Apakah kalian tidak melihat manusia pada saat mengalami kematiannya matanya terbuka?” Para sahabat menjawab: “Benar”. Nabi bersabda: “Itu terjadi karena pengelihatannya mengikuti kepergian rohnya” (HR. Imam Muslim)

Cara Malaikat Mencabut Nyawa Orang Kafir

        Jika orang mu’min mati dalam rahmat kasih sayang Allah, sebaliknya orang kafir mati dengan azab dan kesakitan yang luar biasa. Malaikat akan memukukl wajah dan punggung mereka karena bencinya terhadap manusia yang seumur hidupnya mendurhakai Allah dan menginjak-injak hukum agama-Nya.
Ada beberapa ayat menerangkan dalam al Qur’an yang menerangkan cara matinya orang-orang kafir, antara lain :

Surat An Nahl Ayat 28
 al-nahl28.png
“(yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh Para Malaikat dalam Keadaan berbuat zalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); "Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatanpun". (Malaikat menjawab): "Ada, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang telah kamu kerjakan".

Surat Al Anfal ayat  50
al-anfal50.png 
“Kalau kamu melihat ketika Para Malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar", (tentulah kamu akan merasa ngeri).”

Surat Muhammad ayat  27
muhammad27.png 
Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul-mukul muka mereka dan punggung mereka?”

Surat Al An’am  ayat 93
al-an'am93.png 
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", Padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah." Alangkah dahsyatnya Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang Para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.”

         Sewajibnya kita kaum muslimin yakin dengan keterangan ayat-ayat Allah ini. Tidak dapat dibayangkan bagaimana menderita mati dalam murka Allah. Padahal saat sakaratul maut saja sudah penuh dengan huru hara. Manusia akan merasakan haus yang amat sangat, lemah badan dan batinnya, ditambah dengan derita rasa sakit jasmani yang dirasa, dan yang paling mengerikan adalah godaan syaitan yang hendak menyesatkannya agar mati dalam kekafiran serta terlepas dari keimanan. Bagaimana  pula jika ditambah dengan pukulan malaikat pada wajah dan punggungnya? Na’udzubillah…..

Semoga Allah menjaga kita saat kematian menjemput kita dan semoga kita mati dengan cara yang aman dan penuh kasih sayang Allah. Allahumma hawwin ‘alaina fi sakaratil maut……. Amin….

Wallahu A’lam bishshawab
Sumber : tengkuzulkarnain.net

Pengajian Al-Qur'an di Masjid Al-Musabbihin

Written By Unknown on Senin, 10 September 2012 | 9/10/2012

Assalamu'alaikum wwb

Alhamdulillahirobbil'alamin...
Puji syukur kita senantiasa panjatkan ke hadirat allah SWT yang selalu senantiasa memberikan Rahmat dan hidayahnya sehingga kita selalu diberi kesehatan dan kenikmatan yang luar biasa. karena dengan nikmat NYA lah kita bisa menambah kan ilmu kita guna memperbaiki amalan-amalan kita buat bekal kelah di akhir jaman nanti. amin


       Al-Qur'an adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril sebagai petunjuk "Hudan" dan Nur "Cahaya" bagi manusia. siapapun yang membaca Al-Qur’an dengan dihayati dan diamalkan maka akan mendapatkan guidance dari Allah SWT
Atas dasar inilah serta dalam rangka memperlancar dan mensyiarkan ilmu tadjwid kita dalam membaca dan mengembangkan pemahaman tentang bacaan Al-Qur'an secara tartil, DKM Al-Musabbihin mengadakan pengajian rutin yang dilaksanakan setiap hari ahad ba'da sholat maghrib sampai menjelang sholat 'isya.
Dalam pelaksanaanya para jamaah di bimbing oleh Ustad Dadang dalam membaca beberapa ayat-ayat suci alqur'an dan kemudian menyebutkan hukum-hukum bacaan tadjwid yang ada pada ayat tersebut. Dengan methode ini diharapkan setiap jamaah mampu dan menghafal dan memahami hukum bacaan yang ada dalam Al-Quran.


Para pembaca yang dirahmati oleh allah SWT........
Al-Quran yang sangat muliya ini memiliki fadilah (benefit) yang tidak ada bandingnya dangan apapun.


Orang yang mengajarkan Al-Qur an pada anaknya pada masa kecil dan selalu membacanya pada masa tuanya akan mendapat perlindungan arasy Allah swt dihari kiamat.

Semoga Allah selalu membukakan hati dan pikiran kita untuk menuju kejalan yang diridloi dan mendapat syafaat di yaumil akhir nanti. dan menjadikan anak-anak kita menjadi penghafal Al-Quran Amin..

Keutamaan Bulan Dzulhijjah

    Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan yang istimewa dalam Islam. Dari dua belas bulan yang ada paling  tidak bulan Dzulhijjah ini termasuk  salah satu dari bulan bulan haji. Allah Azza wa Jalla berfirman:

Ibadah haji itu adalah pada bulan-bulan tertentu”. (QS. Al Baqarah ayat: 197)

    Sudah maklum dan tertulis dalam banyak hadis hadis nabi bahwa bulan-bulan haji adalah : Syawal, Dzulqai’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Artinya, jika seseorang keluar dari rumahnya untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah pada bulan Syawal. Kemudian dia menunaikan ibadah haji dengan dengan memilih haji tamattu’, dan mengerjakan umrah di bulan Syawal itu secara sempurna dan lengkap dengan ditutup tahallul. Kemudian pada tanggal 8 Dzulhijjah orang itu berihram lagi untuk ibadah haji, lalu mencukur rambutnya setelah melakukan jumrah Aqobah pada tanggal 10 Dzulhijjah, untuk mendapatkan tahallul awal. Dan, baru mengerjakan thawaf ifadhah nya pada bulan Muharram sebagai tahallul tsani (tahallul kedua), maka sah lah haji orang itu. Sebab, seluruh rangkaian ibadah hajinya masih dilakukan pada bulan-bulan haji itu.
Selain termasuk salah satu dari bulan bulan haji, Dzulhijjah juga termasuk salah satu dari Bulan-Bulan Haram. Terdapat dalam hadis : Bulan bulan Haram adalah tiga berturut-turut, dan satu terpisah. Yang berturut-turut adalah Dzulqa’idah, Dzulhijjah dan Muharram. Sedangkan yang terpisah adalah Bulan Rajab.
Ada banyak amalan sunat yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada kaum muslimin untuk dilaksanakan di bulan Dzulhijjah ini, di antaranya adalah :

1.  Berpuasa

     Disunatkan berpuasa pada bulan Dzulhijjah ini, terutama sepuluh hari di awal bulan. Hal ini sesuai dengan perintah nabi : “Tiada hari-hari yang mana jika seseorang beramal pada hari-hari tertentu yang lebih afdhal dan lebih dicintai Allah Azza wa Jalla, dibandingkan beramal pada sepuluh hari Dzulhijjah. Sesungguhnya puasa sehari dari salah satu hari yang sepuluh itu menyamai pahalanya dengan puasa setahun. Dan sholat malam pada satu malam daripadanya menyamai pahala sholat di malam “Lailatul Qadar””. (HR Ibnu Majah dan Turmidzi).

Hadis di atas menjelaskan kepada kita bahwa berpuasa sunat di sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah adalah amalan yang bernilai tinggi. Bandingan pahala sehari berpuasa pada salah satu hari yang sepuluh itu, serupa dengan pahala puasa setahun penuh. Sedangkan sholat malam pada salah satu malamnya saja serupa dengan sholat malam di malam “Lailatul Qadar”. Tidak terbayangkan pahala yang akan diperoleh jika keseluruhan siang dan malam dari sepuluh hari pertama Dzulhijjah itu diisi dengan puasa di siang hari dan ibadah sholat di malam harinya. Dalam hadis yang lain dari Ibnu Abbas  Radhiyallahu ‘Anhuma: “ Tidak ada amal yang lebih afdhal dari amal yang dilakukan pada sepuluh hari bulan Dzulhijjah ini. Berkata Shahabat : “Apakah jihad juga kalah dengan amal di hari itu?” Rasul menjawab: “Walaupun jihad akan kalah dengan amalan di sepuluh hari itu, kecuali jika seseorang yang berjihad berjuang dengan diri dan hartanya sendiri, dan tidak kembali lagi ke rumahnya baik nyawa, harta, dan dirinya itu” (HR. Bukhari). Keterangan di atas dapat dilihat pada kitab Ihya’ Ulumuddin karangan Imam Ghadzali, jilid I, halaman 216.
Adapun berpuasa pada hari kesepuluh bulan Dzulhijjah hukumnya tetap sunat, hanya saja puasa itu dilakukan sampai selesai dilaksanakannya sholat Iedul Adha saja, yakni sampai waktu dhuha, bukan sepanjang harinya. Hal ini dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Buraidah Radhiyallahu ‘Anhu:
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak keluar untuk melaksanakan sholat Idul Fithri sebelum beliau makan terlebih dahulu. Dan pada hari Raya Iedul Adha beliau tidak makan sesuatu apapun sampai beliau kembali dari sholat Iedul Adha itu. Setelah pulang, beliau memakan daging korbannya” (HR. Ahmad, Turmidzi, Ibnu Majah, Daruqudni, dan Hakim. Dishohihkan oleh Imam Hakim).
Dari hadis hadis di atas jelaslah bagi kita bahwa melakukan amalan tertentu pada hari-hari tertentu pula, adalah amalan sunnah dalam Islam,  dan bukan merupakan  amalan bid’ah sebagaimana yang akhir- akhir ini sering dikumandangkan oleh segelintir orang yang anti beramal sholih.

 2.  Melakukan Sholat Idul Adha

      Diriwayatkan dalam sebuah hadis dari Abu Said al Khudri Radhiyallahu ‘Anhu: “Adalah  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keluar dari rumahnya menuju tanah lapang pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha’ dan amal yang pertama beliau kerjakan adalah melaksanakan sholat“ (HR. Bukhari dan Muslim).
Sholat Idul Fitri maupun sholat Idul Adha sunat dilaksanakan secara berjamaah. Akan tetapi jika dilaksanakan sendirian memadai juga bagi yang melaksanakannya. Pendapat ini diriwayatkan dari Imam Al Muzani, dengan alasan sholat Hari Raya adalah sholat sunat. (lihat Majmu’ Syarah Muhadzdzab jilid VI halaman 87)

 3. Menyembelih Hewan Korban

      Allah berfirman dalam Al Qur’an Surat Al Hajj ayat 36 - 37:
 Dan Telah kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan Telah terikat). Kemudian apabila Telah roboh (mati), Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah kami Telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur.
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah Telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Diriwayatkan dari Barra’ bin ‘Azib Radhiyallahu ‘anhuma. Telah berkhutbah untuk kami baginda Rasul pada Hari Raya Kurban: ”Sesungguhnya pada hari kita ini amal yang pertama kali kita buat adalah melaksanakan sholat Idul Adha kemudian kembali ke rumah kita masing-masing dan menyembelih hewan kurban. Barang siapa yang melakukan hal seperti ini telah mengikuti sunah kami. Barang siapa yang menyembelih hewan kurban sebelum melaksanakan sholat Id sesungguhnya daging sembelihannya itu hanyalah sedekah untuk ahli keluarganya, dan bukan termasuk ibadah kurban sedikitpun“. (HR. Bukhari Muslim).
Dalam hadis lain Rasulullah bersabda: “Janganlah seseorang menyembelih hewan kurbannya sebelum melaksanakan sholatnya.” (HR. Muslim)

4. Bertakbir

     Disunatkan bertakbir dengan suara keras pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha’, baik bersendirian atau secara berjamaah beramai-ramai. Hal ini penting ditekankan karena akhir-akhir ini ada segelintir umat islam yang bersuara nyaring menuduh bid’ah melakukan takbir dengan suara keras pada dua hari raya tersebut. Kami tidak mengerti apa maksud mereka sehingga begitu bernafsunya hendak memberangus amalan sunat kaum muslimin yang sudah dilaksanakan dan mashur sejak zaman Rasulullah, para sahabat, generasi Salafus Shalih, sampai kepada zaman kita sekarang ini. Semoga saja segelintir umat Islam ini tidak terkena ”racun” para musuh Islam yang ingin menghancurkan agama yang suci ini.

Telah diriwayatkan dalam sebuah hadis dari Nafi’ bin Abdullah: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam keluar dari rumahnya pada dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) bersama dengan Fadhal bin Abbas, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Thalib, Ja’far bin Abi Thalib, Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Al Husain bin Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Aiman bin Ummi Aiman  Radhiyallahu ‘anhum, mereka melakukan takbir dan tahlil dengan suara yang keras.”
Dalil dari Al Qur’an yang menunjukkan sunat bertakbir pada Hari Raya Idul Fitri adalah firman Allah Swt.

“...dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”(QS. Al Baqarah: 185)
Adapun dalil al Qur’an untuk melaksanakan takbir pada Hari Raya Idul Adha adalah firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 200:

Apabila kamu Telah menyelesaikan ibadah hajimu, Maka berdzikirlah dengan menyebut Allah
Di dalam hadis yang lain yang diriwayatkan dari Ummi ‘Athiyah Radhiyallahu ‘Anha: “Kami para wanita diperintahkan untuk membawa para wanita yang haid sekalipun ke tanah lapang untuk melaksanakan sholat Ied, dan kami para wanita ikut bertakbir dengan takbirnya para lelaki.” (HR. Bukhari dan Muslim). Pada riwayat yang lain: “Kami para wanita bertakbir bersama-sama dengan manusia yang bertakbir lainnya.” (HR Muslim).
Di dalam hadis yang lain diriwayatkan dari Umar bin Khatab dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhum : “Adalah Rasulullah Saw. bertakbir setiap selesai melaksanakan sholat, dimulai sejak selesai sholat subuh di Padang Arafah, sampai selesai sholat Ashar pada hari Tasyriq terakhir yaitu tanggal 13 Dzulhijjah”.
Suatu hari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu ditanya orang saat itu beliau sedang berada di Mina menuju Padang Arafah: “Apa yang kamu semua perbuat bersama Rasulullah di saat seperti ini? Beliau menjawab: “Rasulullah bertahlil dan kami semua para sahabat mengikuti bertahlil juga, dan beliau bertakbir, maka kami pun para sahabat bertakbir juga. Dan tidak ada seorang pun yang mengingkari perbuatan kami itu.” (HR. Bukhari Muslim)

Keseluruhan hadis yang kami kemukakan di atas adalah hadis-hadis shohih belaka. Kami tidak mempermasalahkan jika ada orang yang tidak mau bertakbir pada dua hari raya tersebut, sebab ada juga riwayat yang mengatakan tidak sunat bertakbir. Akan tetapi yang menjadi masalah jika kemudian ada segelintir umat Islam yang menuduh bertakbir pada dua hari raya adalah perbuatan bid’ah. Sementara mereka sangat meyakini bahwa semua bid’ah adalah sesat dan akan dicampakkan ke dalam neraka seluruh pelakunya. Alangkah berbahayanya pendapat  dan tuduhan ini……!
Lafazh takbir ada bermacam-macam jenisnya. Imam Syafi’i memilihkan lafazh takbir:

Allah Maha Besar! Allah Maha Besar! Allah Maha Besar!
Tiada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar!
Allah Maha Besar, dan milikNya segala puji.
Dan, ada beberapa lagi lafazh-lafazh lain yang masyhur.

5. Tidak mencukur rambut dan memotong kuku.

    jika seseorang sudah berniat hendak menyembelih hewan kurban pada Iedul Adha atau hari-hari  Tasyriq yang ada, orang tersebut disunatkan untuk tidak mencukur rambut dan memotong kukunya, mulai sejak tanggal 1 Dzulhijjah sampai disembelihnya hewan kurban tersebut.
Wallahu A’lam

Taklim : Tata Cara Shalat ( Bacaan Duduk antara dua sujud)

Written By Unknown on Selasa, 04 September 2012 | 9/04/2012

Bismillahirrahmanirrahim

Asalamualaikum wbt dan Salam Syawal..

         Alhamdulillah.... tak henti hentinya kita selalau memanjatkan puji syukur ke pada ALLAH SWT yang selalau memberikan nikmat ilmu yang banyak ke pada hamba-hambanya.
Setelah rehat selama satu bulan dalam rangka menghormati bulan suci ramadhan, Taklim fikih di Masjid AL-MUSABBIHIN dilanjukan kembali. Hari ini tanggal 01 September 2012, ba’da Sholat Maghrib sampai menjelang shalat ‘isa, dalakukan taklim pembelajaran tata cara sholat . dalam kajian kali ini yang masih di bimbing oleh KH Yusuf Abdulkarim Sag, masih melanjutkan bahasan tentang “Bacaan Duduk Antara 2 Sujud”.


      Jamaah Masjid  AL-MUSABBIHIN dan para pembaca yang  dirahmati Allah, kalau kita perhatikan dan renungkan kembali terkadang kita terlupa dan tak menghiraukan betapa bacaan dalam sholat terlalu besar artinya dan maknanya. padahal didalam kita membaca bacaan sholat itu sama artinya kita sedang berdo'a kepada Allah SWT, kali ini kita akan menelaah makna dan manfaat bacaan saat Duduk antara dua Sujud :

Bacaan saat Duduk antara dua Sujud :

 




 Artinya :
” Ya Tuhanku, Ampunilah aku.., Kasihanilah aku.., Tutuplah aibku.., Tinggikanlah darjatku.., Berilah aku Rizqi Tunjukilah aku.., Sejahterahkanlah aku..dan Maafkanlah  aku..”


Rabbi: wahai tuhanku (ALLAH). Kita memohon kepada Allah yang tiada Tuhan  selainNya, hanya Dia sahaja berkuasa di atas muka bumi ini serta menjadi raja di hari pembalasan. Kita mempercayai dan memperakui serta mengimani bahawa Allah itu ada dan Dia yang mentadbir alam maya ini. Mohonlah seberapa banyak permohonan pun, dengan penuh keinsafan dan rendah dia.

ighfirli: ampunilah segala dosa ku. Kita sebagai manusia yang sentiasa melakukan dosa baik sengaja atau sebaliknya mahupun dosa kecil ataupun dosa besar. Menjadi manusia yang sadar dengan dosa dan manusia yang takut dosa adalah satu anugerah Allah kepada kita. Perasaan takut dosa dan segera bertaubat hanya tercetus di dalam hati insan yang terpilih sahaja. Memang sedikit manusia yang suka bertaubat mahupun sedar dengan jalan dan cara hidup salah mereka.

warhamni: kasihanilah aku: kasih sayanga daripada Allah itu sangat penting untuk diisi dalam karung hidup setiap insan. Dengan kasih sayngaNya, Dia telah anugerahkan kepada kita nikmat yang sungguh banyak dan tidak terhingga. “Jika kamu mahu menghitung nikmat Allah nescaya tidak terhitung banyaknya” : quran.

wajburni: sempurnakanlah kekurangan aku. Kita mesti tahu dan sedar bahawa kita adalah insan yang lemah dan serba serbi kekurangan. Hanya kepada Allah kita merayu dan berharap, dengan qudrah dan iradatnya, moga moga kita di sempurnakan hidup kita dengan fizikal yang baik, akhlak yang baik dan rohani yang baik. lemahnya kita di sisi Allah, mudah mudahan Allah memperelokkan pandangan manusia terhadap kita dan golongkan kita dalam kelompok manusia yang bahagia di atas muka dunia ini dan seterusnya sampai ke akhirat nanti.

warfa’ni: angkatlah darjat ku. Rendah dan hinanya kita di sisi Allah, tatpi tidak di mata manusia (bukan erti kata kita menyombong diri dan riak) bahkan kita bangga menjadi manusia yang berpegang dengan nilai hidup yang betul dan sempurna serta kita bangga dengan agama Islam yang kita  anuti. Betapa hinanya manusia yang beragama tetapi tiada amalan darinya. Agama itu dapat memuliakan penganutnya jika mereka tidak ingkar. Darjat manusia menjadi penentu dengan amalan agamanya.

warzukkni: kurniakanlah rezeki kepada ku. soal halal dan haram menjadi pokok utama dalam urusan mencari rezeki. Kerana rezeki yang halal membawa ke syurga dan yang haram membawa ke neraka. Kita hendaklah sentiasa memohon dan berhajat untuk mendapat rezeki yang barokah dan bersih daripada perkara-perkara yang kotor. Kerana Allah sentiasa melimpah ruahkan rezekinya kepada seluruh manusia yang suka berusaha, tetapi halal ataupun haram adalah pilihan kita.

wahdini: tunjukilah aku jalan yang benar. Pimpinan  ke jalan yang diredhai Allah dan jalan yang tidak di murkai adalah perkara utama dan terpenting. Kerana hidayah Allah turun kepada manusia yang terpilih sahaja. Pilihlah aku ya Allah dan letaklah aku di landasan yang benar dan dirahmati. Husni khatimah adalah akhiran yang semua orang hajati, untuk mencapai husnu khatimah perlulah perjalanan hidup ini perlulah menerusi jalan yang lurus seterusnya menuju tepat ke destinasi husnu khatimah.

wa’afini: sehatkanlah badanku. kesihatan adalah perkara yang terpenting dalam penerusan hidup ini. Dengan pengambilan makanan dan diet yang baik lagi halal akan memberi kasihatan kepada rohani dan jasmani. Kesihatan kita hari ini, bila-bila masa sahaja Allah boleh mengambilnya. Maka rebutlah lima perkara sebelum datang lima perkara, antaranya ialah hargai dan manfaatkan masa sihat mu sebelum datang masa sakit, dan setrusnya hargailah masa hidup ini sebelum datang kematian. kerana kematiaan itu adalah ranjau hidup yang terakhir sebelum menuskan hidup di alam barzakh yang mendedahkan kepada kita baik atau buruk nasib kita di akhirat nanti.

wa’fu ‘anni: maafkanlah kesalahanku.

        Bayangkanlah sehari berapa kali kita ucapkan Do'a ini.. Memang sewajarnyalah orang yang rajin bersholat dengan niat ikhlas kerana Allah swt hidupnya kita lihat aman, damai, tenang dan harmoni..rezekinya juga bertambah dan tidak putus-putus..
Dalam keadaan tidak sadar setiap hari memohon didalam sholat kita.. tapi sayangnya kita hanya memohon tanpa memahami apa yang kita ucapkan hanya sekedar tersebut dibibir tetapi tidak tersentuh dari hati kita yang paling dalam. Mari kita mulai menghayati ketika kita bermunajat kepada Allah dengan rendah hati nyatakanlah permohonan ampun kepada Allah SWT.
Itulah sedikit banyak ringkasan dari Taklim ingguan yang diselenggarakan di Masjid  AL-MUSAABIHIN semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin...

Wasalam warohmatullah wabarokatuh
 
Contact Support: Twitter | Facebook
Copyright © 2012. AL-MUSABBIHIN - All Rights Reserved
Published by TakadaTapiono Creative