MASJID AL-MUSABBIHIN

MASJID AL-MUSABBIHIN
Sumber Dakwah dan Informasi DKM AL-MUSABBIHIN PERUM KOMPAS INDAH TAMBUN
Latest Post

Undangan Kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 H di Masjid Al Musabbihin

Written By Rudi Yanto on Kamis, 07 Desember 2017 | 12/07/2017

Assalamualaikum wr.wb

DKM Al-MUSABBHIHIN, akan mengadakan Kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 H .
Insya Allah akan di adakan pada :

Hari /Tanggal : Sabtu/ 16 Desember 2017
Jam                 : 19.30 (ba'da sholat Isya Berjemaah)
Acara              : 1. Pembukaan dan Sambutan
                          2. Istighosah
                          3. Pembacaan Maulid Al Barzanji
                          4. Tausiah : Ustazd  Munib
                          5. Doa Penutup
                          6. Makan Malam Bersama

Mohon kehadirannya kepada kaum muslimin dan muslimat yang ada di sekitaran Kompas Indah , ayo kita ramaikan dan makmurkan masjid kita dan menumbuhkan ukhuwah Islamiyah antar Warga.


Wassalamualaikum wr.wb

PHBI DKM AL-MUSABBIHIN

Gema Ramdhan Al-Musabbihin 2017/1438 H

Written By Rudi Yanto on Selasa, 20 Juni 2017 | 6/20/2017


Assalamualaikum wr.wb

Pengurus DKM Al Musabbihin Mengadakan beberapa acara rangkaian Kegiatan, diantaranya :

1. Tadarus Alqur'an
2. I'tikaf
3. Santunan anal yatim (Ibu-ibu RW.08)
4. BAZIS
5. Pelaksanaan sholat Ied.


"Kenapa Harus Bermadzhab dan Taqlid Kepada Ulama?''

Written By Rudi Yanto on Sabtu, 14 Januari 2017 | 1/14/2017

Image result for kitab kuning

Di sadur dari : Ngaji.web.id - Sebenarnya judul yang lebih tepat seharusnya ''Kenapa Harus Bermadzhab dan Taqlid Kepada Ulama?'' karena yang dimaksud dengan menggunakan kitab kuning ialah ikut salah satu Madzhab dalam arti taqlid kepada Ulama. mari kita ulas  kenapa kita harus Taqlid dan bermadzhab.

Fenomena penolakan sebagian kalangan terhadap konsep Taqlid untuk kaum awam menimbulkan polemik bagi ummat Islam, terutama bagi orang seperti kita yang tiada memiliki kemampuan untuk memahami agama langsung dari sumbernya yakni al qur’an dan as sunnah(Hadits).
Disamping itu keengganan untuk bermadzhab (baca ; Taqlid) telah serta merta membangkitkan semangat sebagian ummat islam untuk beristinbath (menggali hukum langsung dari sumbernya, yakni al qur’an dan as sunnah) tanpa disertai sarana yang memadahi. Dan akibatnya dapat kita rasakan, betapa spirit agama yang semestinya adalah “Rahmatan Lil ‘Alamiin” berubah menjadi “Fitnah Perpecahan” diantara sesama ummat islam.

Oleh karenanya sebelum kita melepaskan diri dari mata rantai bermadzhab (Taqlid) sebaiknya kita bercermin diri setidaknya tentang beberapa hal :

Pertama : ADAKAH KITA TELAH MEMAHAMI BAHASA ARAB DENGAN BENAR ?
Memahami bahasa arab dengan benar adalah sarana pertama yang mesti kita kuasai, mengingat dua sumber utama dalam islam yakni al qur’an dan as sunnah yang notabene menggunakan Berbahasa Arab dengan mutu yang sangat tinggi. Ilmu yang mesti kita kuasai dalam bidang ini setidaknya meliputi Gramatika Arab (Nahwu-Shorof), Sastra Arab /Balaghoh (Badi’, Ma’ani, Bayan), Logika Bahasa (Manthiq) Sejarah Bahasa, Mufrodat, dst... Hal ini penting guna meminimalisir kesalahan dalam mengidentifikasi makna yang dikehendaki syari’at dari sumbernya secara Harfiyah (Tekstual), juga untuk mengidentifikasi nash-nash yang bersifat ‘Am, Khosh, berlaku Hakiki, Majazi dst...
Adalah hal yang naif  jika kita berani mengatakan “Halal-Haram, Sah-Bathil, Shohih-‘Alil” hanya berdasar pemahaman dari terjemah al qur’an atau as sunnah. Sebagai ilustrasi sederhan berikut kami kutipkan peran pemahaman bahasa arab yang baik dan benar dalam memahami al qur’an dan as sunnah :
Contoh Fungsi Gramatika Arab
Firman Alloh yang menjelaskan tata cara berwudhu :
ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุฅِุฐَุง ู‚ُู…ْุชُู…ْ ุฅِู„َู‰ ุงู„ุตَّู„َุงุฉِ ูَุงุบْุณِู„ُูˆุง ูˆُุฌُูˆู‡َูƒُู…ْ ูˆَุฃَูŠْุฏِูŠَูƒُู…ْ ุฅِู„َู‰ ุงู„ْู…َุฑَุงูِู‚ِ ูˆَุงู…ْุณَุญُูˆุง ุจِุฑُุกُูˆุณِูƒُู…ْ ูˆَุฃَุฑْุฌُู„َูƒُู…ْ ุฅِู„َู‰ ุงู„ْูƒَุนْุจَูŠْู†ِ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian hendak melaksanakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan usaplah kepalamu dan kedua kakimu sampai kedua mata kaki.” (QS. Al Maidah : 6)
Coba anda perhatikan kalimat ูˆَุงَุฑْุฌُู„َูƒُู…ْ (dan kedua kaki kalian) dalam firman Alloh diatas, dimana kata tsb dibaca Nashob (dibaca Fathah pada huruf lam) padahal kata tersebut lebih dekat dengan kata ุจِุฑُุกُูˆุณِูƒُู…ْ (kepala kalian)yang dibaca Jar (dibaca kasroh pada huruf Ro’) dengan konsekwensi makna sebagai berikut :

a. Jika kata ูˆَุงَุฑْุฌُู„ِูƒُู…ْ (dan kedua kaki kalian) dibaca Jar (kasroh) maka yang harus dilakukan untuk kaki ketika berwudhu adalah Mengusap bukan Membasuh, hal ini disebabkan kata ูˆَุงَุฑْุฌُู„ِูƒُู…ْ disambung dengan kata ุจِุฑُุกُูˆุณِูƒُู…ْ yang berarti amil (kata kerjanya) adalah ูˆَุงู…ْุณَุญُูˆุง (dan Usaplah)
b. Jika kata ูˆَุงَุฑْุฌُู„َูƒُู…ْ (dan kedua kaki kalian) dibaca Jar (kasroh) maka yang harus dilakukan untuk kaki ketika berwudhu adalah Membasuh bukan Mengusap, hal ini disebabkan kata ูˆَุงَุฑْุฌُู„َูƒُู…ْ disambung dengan kata ูˆُุฌُูˆู‡َูƒُู…ْ yang berarti amil (kata kerjanya) adalah ูَุงุบْุณِู„ُูˆุง (Basuhlah)

Coba anda perhatikan: betapa dengan sedikit perbedaan, berimplikasi makna dan kewajiban yang berbeda. Dimana ketika kata ูˆَุงَุฑْุฌُู„َูƒُู…ْ dibaca fathah/Nashab maka kewajibannya adalah Membasuh, sedang jika kata ูˆَุงَุฑْุฌُู„ِูƒُู…ْ dibaca Kasroh/Jarr, maka kewajibannya adalah Mengusap. Adakah hal ini kita dapati dari al qur’an terjemah ?....

Contoh Fungsi Balaghoh/Sastra Arab
Masih dalam tema ayat diatas, coba anda perhatikan kata ุฅِุฐَุง ู‚ُู…ْุชُู…ْ dengan menggunakan Fiil Madhi (kata kerja masa lampau) yang jika dialih bahasakan secara harfiyah memberi makna : “Apabila kalian telah berdiri /menjalankan”... sedang yang dimaksud adalah sebelum sholat. Inilah yang dalam pelajaran sastra arab disebut dengan “Ithlaqul Madhii Wa Uridal Mustaqbal”

Contoh Fungsi Manthiq
Diantara fungsi “Manthiq”/Logika Bahasa dalam konteks ayat diatas adalah guna men-Tashowwur-kan (menjelaskan dengan makna yang Jami’ dan Mani’) dari masing-masing kata dalam ayat diatas, misal yang dimaksud dengan “Yad” (tangan) adakah ia adalah “Tangan” dalam bahasa kita? “Wajah” seberapakah daerah yang masuk kategori “Wajah”? dan “Ru’us” (kepala), Membasuh, Mengusap, dst.... adakah semuanya dapat kita definisikan dengan kamus bahasa indonesia? Sedang al qur’an menggunakan bahasa arab dengan mutu paling tinggi ?

Kedua : SUDAHKAH ANDA MENGHAFAL AL QUR’AN (Seluruhnya) DAN JUGA SEKURANG-KURANGNYA SERATUS RIBU HADITS ?
Syarat kedua diatas sangatlah diperlukan karena dengan terpenuhunya syarat tersebut akan tergambar semua ayat dan hadits terkait jika anda hendak memutuskan suatu perkara, dengan demikian keputusan/pendapat anda akan terhindar dari bertabrakan dengan nash-nash yang lain.

Sebagai ilusrtrasi sederhana kita gunakan ayat ayat diatas dengan terjemah sbb : “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian hendak melaksanakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan usaplah kepalamu dan kedua kakimu sampai kedua mata kaki.” (QS. Al Maidah : 6)

Jika kita memahami hanya dari ayat tersebut, maka akan kita dapati hukum wajibnya berwudhu adalah bagi setiap orang yang hendak melaksanakan sholat, baik ia orang yang masih dalam keadaan suci maupun berhadats. mengingat keumuman perintah pada ayat diatas yang ditujukan pada setiap orang yang hendak melaksanakan sholat.

Syarat kedua tsb, juga berguna untuk menghindarkan anda menempatkan dalil bukan pada tempatnya, misal menempatkan ayat-ayat yang sejatinya untuk orang-orang kafir namun anda hantamkan untuk orang-orang islam. Bukankah Abdulloh Ibn Umar –rodhiyallohu ‘anhu- pernah berkata, ketika beliau ditanya tentang tanda-tanda kaum Khowarij ?
ูˆَูƒَุงู†َ ุงุจْู†ُ ุนُู…َุฑَ ูŠَุฑَุงู‡ُู…ْ ุดِุฑَุงุฑَ ุฎَู„ْู‚ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَู‚َุงู„َ ุฅِู†َّู‡ُู…ْ ุงู†ْุทَู„َู‚ُูˆุง ุฅِู„َู‰ ุขูŠَุงุชٍ ู†َุฒَู„َุชْ ูِูŠ ุงู„ْูƒُูَّุงุฑِ ูَุฌَุนَู„ُูˆู‡َุง ุนَู„َู‰ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠู†َ

Dan adalah Ibnu Umar, ia memandang mereka (Khowarij) sebagai seburuk-buruk makhluk Alloh, dan ia berkata : “Mereka (Khowarij) berkata tentang ayat-ayat yang (sejatinya) turun terhadap orang-orang kafir, mereka timpahkan ayat tersebut untuk orang-orang beriman”. (HR. Al Bukhori, Bab Qotlil Khowaarij)

Ketiga : SUDAHKAH ANDA MENGUASAI ILMU-ILMU PENDUKUNG YANG LAIN GUNA MEMAHAMI AL QUR’AN DAN AS SUNNAH ?
Perangkat lain yang mesti anda kuasai dalam menggali hukum dari Al Qur’an dan As Sunnah yang memang luas dan dalamnya melebihi luas dan dalamnya samudera, diantaranya adalah ; - anda harus mengetahui “Asbaabun Nuzul” dari setiap ayat dan juga “Asbaabul Wuruud” dari setiap hadits, hal ini penting agar anda mampu menempatkan dalil-dalil sesuai porsinya dan mampu membedakan dalil-dalil yang “Nasikh” (Pengganti/penyalin) dari dalil-dalil yang “Mansukh” (diganti/disalin)

- anda juga harus menguasai sekurang-kurangnya “Qiro’ah Sab’ah” dalam ilmu qur’an, mengingat akan Naif rasanya seorang “Calon Mujtahid” melafadzkan al qur’an tidak dengan pengucapan yang fashih.
Disamping itu anda juga harus menguasai ilmu-ilmu pendukung guna memahami As Sunnah, seperti Mushtholah Hadits, Jarh Wat Ta’dil, Taroojim, dst... hai ini penting setidaknya agar anda tidak berhukum dengan hadits yang lemah dengan menabrak hadits yang shohih.

Keempat : SUDAHKAH ANDA MENGUASAI KAIDAH BER-ISTINBATH DARI PARA IMAM MUJTAHID ?
Syarat keempat diatas juga sangat penting setidaknya guna mengetahui cara mensikapi nash-nash yang Mujmal, Mubayyan, ‘Am, Khosh, dan cara men-Jami’-kan (mencari titik temu) jika terdapat nash-nash yang dzahirnya Mukholafah (berselisih) atau Ta’aarudh (bertentangan).
Sebagai ilustrasi sederhana kami kutipkan Firman Alloh berikut :
ุฅِู†َّ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ู‡َุงุฏُูˆุง ูˆَุงู„ู†َّุตَุงุฑَู‰ ูˆَุงู„ุตَّุงุจِุฆِูŠู†َ ู…َู†ْ ุขู…َู†َ ุจِุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَุงู„ْูŠَูˆْู…ِ ุงู„ْุขุฎِุฑِ ูˆَุนَู…ِู„َ ุตَุงู„ِุญًุง ูَู„َู‡ُู…ْ ุฃَุฌْุฑُู‡ُู…ْ ุนِู†ْุฏَ ุฑَุจِّู‡ِู…ْ ูˆَู„َุง ุฎَูˆْูٌ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ูˆَู„َุง ู‡ُู…ْ ูŠَุญْุฒَู†ُูˆู†َ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, dan orang-orang Shobiin, siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al Baqoroh : 62)
Sepintas ayat diatas memberi pemahaman adanya peluang yang sama bagi orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, dan orang-orang Shobiin, untuk mendapat pahala disisi Alloh atas kebajikan yang mereka perbuat. Sehingga seakan ayat tsb menyatakan bahwa orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, dan orang-orang Shobiin, bisa masuk sorga. Adakah kenyataannya memang demikian ? sedang dalam ayat lain Alloh berfirman :
ูˆَู…َู†ْ ูŠَุจْุชَุบِ ุบَูŠْุฑَ ุงู„ْุฅِุณْู„َุงู…ِ ุฏِูŠู†ًุง ูَู„َู†ْ ูŠُู‚ْุจَู„َ ู…ِู†ْู‡ُ ูˆَู‡ُูˆَ ูِูŠ ุงู„ْุขุฎِุฑَุฉِ ู…ِู†َ ุงู„ْุฎَุงุณِุฑِูŠู†َ

“Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (QS. Alu Imron : 85)
Perhatikan dua ayat diatas !!! adakah pengetahuan yang memadahi pada diri anda untuk men-Jami’-kan dua nash yang dzahirnya Mukholafah (tidak sejalan) tsb ?.... sungguh apa yang kami sampaikan diatas hanyalah sebagian kecil perangkat yang harus anda kuasai untuk Ber-Istinbath (menggali hukum langsung dari sumbernya)

Saudaraku... kami sampaikan hal-hal diatas bukan dalam rangka mematahkan semangat belajar anda, akan tetapi ketika anda mencoba menggali hukum dari sumbernya langsung tanpa perangkat yang memadai, maka yakinlah Kelancangan Anda Hanya Akan Berakibat Perpecahan Ummat Islam.

LIKULLI SYAIIN AHLUN, IDZA WUSIDAL AMRU LIGHOIRI AHLIHI.. FANTADZHIRIS SAA’AH : “Setiap segala sesuatu ada ahlinya, Jika suatu perkara diembankan (diserahkan) pada yang bukan ahlinya, maka nantikanlah saat kehancurannya”.

 Sebagaimana fenomena yang terjadi saat ini banyak kehancuran, musibah, dan saling menjatuhkan pendapat di dunia maya(media sosial) dikarenakan banyak orang berfatwa menyesatkan yang sebenarnya disebabkan ia langsung menggali hukum dari alqur'an dan Hadits tanpa melalui prosedur ijtihad dan tanpa mempelajari kitab Kuning.

Wallahu A’lam...

Para Tokoh Pencetus Mawlid Al-Nabi

Written By Rudi Yanto on Kamis, 29 Desember 2016 | 12/29/2016

Sultan Shalahuddin Al Ayyubi ketika hendak menyerang Jerussalem, perlu mengadakan suatu gerakan batin sebagai pengangkat moril dan semangat pasukan sebelum menuju medan laga. Maka beliau mengadakan maulid Kanjeng Nabi Muhammad SAW pertama kali dalam sejarah Islam. Dan karena dorongan moril yang terangkat itulah, Jerussalem dapat ditaklukkan.
Ibnu Katsir punya dawuh berbeda. Peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh Raja Irbil (wilayah Irak sekarang), bernama Muzhaffaruddin Al-Kaukabri, pada awal abad ke 7 Hijriyah.
Ibn Katsir dalam kitab Tarikh berkata:
Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan Maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awal. Dia merayakannya secara besar-besaran. Dia adalah seorang yang berani, pahlawan, alim dan seorang yang adil, semoga Allah merahmatinya.
Dijelaskan oleh Sibth (cucu) Ibn Al-Jauzi bahwa dalam peringatan tersebut, Sultan Al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh ulama dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama dalam bidang ilmu Fiqh, ulamaHadits, ulama dalam bidang ilmu kalam, ulama usul, para ahli tasawuf, dan lainnya. Sejak tiga hari, sebelum hari pelaksanaan Maulid Nabi, dia telah melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para hadirin yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut. Segenap para ulama saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh Sultan Al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua berpandangan dan menganggap baik perayaan Maulid Nabi yang digelar untuk pertama kalinya itu.
Nah, bagaimana di Nusantara? Tidak ada keterangan pasti kapan diadakan pertama kali, namun sejak zaman sebelum kesultanan Demak ada dugaan sudah sering diadakan untuk mengangkat moril dan semangat pasukan. Dari Mbah Iwan Mahmoed Al Fattah, ada keterangan dari kitab Al Fatawwi karya Al Allamah Ratu Bagus Kh. Ahmad Syar’i Mertakusuma Betawi, yang konon merupakan salah satu anggota Pitung. Di dalam Kitab Al Fatawi tertulis :
“Sebelum memasuki wilayah Sunda Kelapa untuk menahan kedatangan Pasukan Tempur Kerajaan Paringgi (Portugis), seluruh pasukan mujahidin yang berasal dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul di alun alun Kesultanan Demak untuk mendengarkan Petuah Sultan Trenggono dan Fattahillah. Pada saat itu untuk mengangkat moral pasukan Jihad jilid 3 setelah jihad Malaka, maka Sultan Trenggono mengadakan Maulid Nabi secara besar besaran, dan itu terjadi pada tanggal 12 Robiul Awal tahun 933 Hijriah. Penyerangan itupun mampu membebaskan sunda Kalapa dari Portugis dan diubah namanya menjadi Jayakarta, kota kemenangan.”
Dan inilah maulid yang tercatat di kitabnya orang Betawi.
Dalam keterangan Mbah Yai Muchit Muzadi, dulu di Tebuireng di zaman Mbah Hasyim Asy’ari, para santri secara gotong royong mengadakan sendiri perayaan maulid Nabi Muhammad. Mulai perencanaan hingga eksekusi acara dilaksanakan secara mandiri dan penuh tanggung jawab. Hal inilah yang membuat santri-santri Mbah Hasyim Asy’ari menjadi tokoh semua ketika pulang ke daerah masing-masing, baik tokoh tingkat kampung hingga internasional, begitu dawuh Mbah Muchit Muzadi.
Masih banyak dampak positif dari maulid Nabi Muhammad SAW ini di berbagai belahan daerah. Tak pelak, keampuhan perayaan Maulid Nabi Besar Sayyidina Muhammad SAW ini sangat berdampak positif bagi umat Islam seluruhnya. Dibalik sejarah kemenangan dan kemajuan umat Islam zaman dahulu ternyata ada barokah perayaan Maulid Nabi yang mampu menjadi inspirasi dan semangat tersendiri bagi umat muslim, sehingga mampu mengubah sejarah.
Semoga kita juga mendapat berkah yang demikian. Aamiin.
ุงู„ู„ู‡ู… ุตู„ ูˆ ุณู„ู… ุนู„ูŠ ุณูŠุฏู†ุง ูˆ ู…ูˆู„ู†ุง ู…ุญู…ุฏ
Di sadur dari : http://www.sarkub.com/para-tokoh-pencetus-mawlid-al-nabi/

Selamat Tahun Baru Hijriah 1438 H

Written By Rudi Yanto on Rabu, 05 Oktober 2016 | 10/05/2016

Image result for 1 muharram 1438

Imam as Suyuthi di dlm kitabnya as syamarikh fit taarikh menyebutkan bahwa permulaan kalender Islam dimulai pada masa Umar bin Khottob ra, beliau memahami bahwa dawuhipun Gusti Alloh (lamasjidun ussisa ‘alat taqwaa min awwali yaumin) adalah indikasi kuat bahwa permulaan hari dihitung bersama masjid yang dibuat Kanjeng Nabi saw (Quba) di bulan Shofar-Robiul Awwal.
Lalu mengapa memulainya dengan Muharam/Asyuro ?
ini adalah mengikuti tradisi Arab Jahiliah yang tidak ada larangan dalam agama untuk ditetapkan.
Sebuah pelajaran menarik bahwa apabila adat kebiasaan di suatu tempat itu tidak ada syariat tegas yang melarangnya, maka tidak perlu kita tergesa-gesa mengharamkannya.
“Andaikan kaummu tidak saja masuk Islam maka akan aku kembalikan Ka’bah ke masa Ibrahim a.s.,” sabda Nabi saw ke Sayidatuna Aisyah pada suatu hari, tetapi beliau membiarkan adat itu terjadi asalkan tidak ada nuansa haram yang jelas di dalamnya, ini diceritakan dalam al Adaabus syariah.
Sekali lagi Selamat Tahun baru sahabat, saatnya kita menunduk kembali kepadaNya bertanya:


Yaa Tuhanku terima kasih atas karunia-MU selama ini, izinkan hamba untuk menjadi lebih baik di kemudian hari… Aamiin,
 
Contact Support: Twitter | Facebook
Copyright © 2012. AL-MUSABBIHIN - All Rights Reserved
Published by TakadaTapiono Creative