MASJID AL-MUSABBIHIN

MASJID AL-MUSABBIHIN
Sumber Dakwah dan Informasi DKM AL-MUSABBIHIN PERUM KOMPAS INDAH TAMBUN
Latest Post

Rahasia Di Balik Shalawatnya Allah SWT Kepada Rasulullah SAW

Written By Rudi Yanto on Jumat, 24 Juli 2015 | 7/24/2015


Rais Am Jam’iyah Ahlut Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah, sekaligus ketua umum thariqah sufi sedunia, Maulana al-Habib M. Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan, menjelaskan perihal rahasia di balik bacaan shalawat Allah kepada nabiNya.
“Saya kagum terhadap satu ayat yang mengangkat kebesaran Nabi Muhammad saw dan memerintahkan untuk membaca shalawat,” Kemudian Habib Luthfi membacakan ayat al-Quran yang berisi perintah shalawat Nabi Saw, Surat Al Ahzab ayat 56
إِنَّ اللَّـهَ وَمَلٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِىِّ ۚ يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya.”
Beliau dawuh dalam bahasa Jawa: “Yen Allah ta’ala merintahake shalat, ning mustahil Allah shalat. Allah ta’ala merintahake zakat, Allah ta’ala mboten usah zakat. Allah ta’ala merintahake haji neng Alah ta’ala mboten haji. Tapi nek shalawat Nabi, Allah ta’ala paring shalawat dumateng Kanjeng Nabi. Niku bedane adoh, niku istimewane kebesarane shalawat.”
(Allah Swt. telah memerintahkan shalat, tetapi Allah mustahil shalat. Allah Swt. memerintahkan zakat, tetapi Allah Swt. tidak zakat. Allah Swt. memerintahkan haji, tetapi Allah Swt. tidak haji. Namun kalau shalawat Nabi, Allah Swt. bershalawat kepada Baginda Nabi Saw. Itulah tingkat perbedaan yang sangat jauh, menunjukkan keistimewaan dan keagungan shalawat).
Kenapa redaksi pada ayat memakai “’ala an-Nabiy”, bukan “‘ala Muhammad”? Karena yang dijunjung oleh Allah adalah pangkatnya Kanjeng Nabi Saw. Allah Swt. memberikan contoh langsung kepada hambaNya tentang bgaimana memberikan penghargaan kepada Nabi Saw. dengan tidak mengucapkan namanya saja (Muhammad), akan tetapi dengan pangkatnya. Tak ada satupun ayat dalam al-Quran Allah Swt. memanggil Nabi Muhammad Saw. dengan namanya belaka.
Sedangkan kalimat “yushalluna ‘ala an-Nabiy”, bukan menggunakan kalimat madhi (masa lampau) tetapi mudhari’ (masa sekarang dan seterusnya). Artinya rahmat Allah Swt. kepada Kanjeng Nabi Saw. sampai besok di akherat. Dan shalawatnya Allah Ta’ala bukan “Allahumma shalli ‘ala Muhammad”, tetapi rahmatan maqrunatan bita’dzimin (rahmat kasih sayang yang dibarengi dengan pengagungan). Maksudnya, Allah memberi shalawat kepada Nabi Saw. bukan sejak beliau diangkat menjadi Nabi, tetapi sudak sejak zaman azali.
Ayat itu juga merupakan bentuk kemuliaan yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Kemuliaan yang membedakan beliau dengan makhluk yang lain. Segala sesuatu yang diciptakan Allah tidak diciptakan percuma, semuanya juga memiliki kelebihan tersendiri, yang membedakan satu dengan yang lain. Maka tidak mustahil kalau Allah memberi kemuliaan (perintah shalawat) ini kepada Kanjeng Nabi Saw.
Kemuliaan yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. itu merupakan kewenangan Allah. Jangankan untuk memuliakan nabi, bahkan setiap tumbuhan dan segala sesuatu diciptakan Allah dengan kemuliaannya masing-masing. Yen Allah Ta’ala ngersaake niku mboten onten seng mustahil, serba mungkin (Jika Allah Swt. menghendaki itu tidak ada yang mustahil, semuanya serba mungkin).
Ketika kita mengucapkan shalawat kepada Nabi Saw., maka akan timbul cinta kepada beliau Saw. Dengan demikian, kita akan semakin banyak melakukan sunnah-sunnah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw.”
Mari kita bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Saw.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا وَ شَفِيْعِنَا وَزُخْرِنَا وَ مَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ

Sumber : Rais Am Jam’iyah Ahlut Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah, sekaligus ketua umum thariqah sufi sedunia, Maulana al-Habib M. Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan,



Simak di: http://www.sarkub.com/2015/rahasia-di-balik-shalawatnya-allah-swt-kepada-rasulullah-saw/#ixzz3gnbCGfNF
Powered by Menyansoft
Follow us: @T_sarkubiyah on Twitter | Sarkub.Center on Facebook

Hukum Sholat Jum'at ketika Hari Raya Jatuh Pada Hari Jum'at

Written By Rudi Yanto on Selasa, 14 Juli 2015 | 7/14/2015

disadur dari : http://www.muslimedianews.com/2015/07/ini-hukum-shalat-jumat-ketika-hari-raya.html

Ketika Hari Raya Idul Adha atau Idul Fitri jatuh pada hari Jumat, apakah kewajiban shalat Jum'at menjadi gugur? Apakah cukup dengan shalat Ied saja tanpa melakukan shalat Jumat?

JAWABAN :
Permasalahan yang ditanyakan merupakan satu masalah yang menjadi perbedaan pendapat para ulama. Perbedaan ini berangkat dari perbedaan mereka dalam menshahihkan hadits dan asar seputar masalah ini dalam satu sisi, dan makna yang dimaksud olehnya dalam sisi lain.





Di antara hadits tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nasa`I, Ibnu Majah dan Hakim dari Iyas bin Abi Ramlah asy-Syami, dia berkata, "Saya melihat Mu'awiyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Zaid bin Arqam r.a., "Apakah ketika bersama Rasulullah saw. engkau pernah menjumpai dua hari raya bertemu dalam satu hari?" Zaid bin Arqam menjawab, "Ya, saya pernah mengalaminya". Mu'awiyah bertanya lagi, "Apa yang dilakukan Rasulullah saw. ketika itu?" Dia menjawab, "Beliau melakukan shalat Ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jumat. Beliau bersabda, "Barang siapa ingin melakukan shalat Jumat maka lakukanlah."

Juga hadits riwayat Abu Hurairah r.a., dari Nabi saw., beliau bersabda, "Pada hari ini telah bertemu dua hari raya. Barang siapa tidak ingin menunaikan shalat Jumat, maka shalat Ied ini sudah menggantikannya. Sedangkan kami akan tetap menunaikan shalat Jumat." (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Hakim).

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa pelaksanaan shalat Ied tidak mengakibatkan gugurnya kewajiban shalat Jumat. Mereka berdalil dengan keumuman dalil kewajiban shalat Jumat untuk seluruh hari. Di samping itu shalat Jumat dan shalat Ied adalah ibadah yang masing-masing berdiri sendiri dan tidak bisa saling menggantikan. Di sisi lain hadits dan atsar tentang keringanan untuk tidak menunaikan shalat Jumat tidaklah kuat untuk mengkhususkan hadits tentang kewajiban shalat Jumat tersebut, karena di dalam sanadnya terdapat masalah. Ini adalah mazhab Hanafi dan Maliki.

Sedangkan Imam Ahmad berpendapat –dan ini adalah salah satu pendapat dalam Mazhab Syafi'i— bahwa kewajiban shalat Jumat menjadi gugur bagi orang yang menunaikan shalat Ied, namun orang itu tetap wajib menunaikan shalat zhuhur. Hal ini juga berdasarkan hadits dan atsar yang telah disebutkan sebelumnya.

Adapun jumhur ulama –termasuk Imam Syafi'I dalam pendapatnya yang paling shahih—berpendapat wajibnya shalat Jumat bagi orang-orang yang tinggal dalam kawasan yang di dalamnya dilaksanakan shalat Jumat dan gugur dari orang-orang yang tinggal di daerah pedalaman yang syarat-syarat kewajiban shalat Jumat terealisasi pada mereka. Karena mewajibkan mereka untuk menunaikan shalat Jumat setelah shalat Ied dapat menyebabkan kesulitan bagi mereka. Dalil jumhur ulama adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwatha` bahwa Utsman bin Affan r.a. berkata dalam khutbanya, "Sesungguhnya pada hari ini telah bertemu dua Ied. Maka orang yang tinggal di daerah gunung jika ingin menunggu pelaksanaan shalat Jumat maka hendaknya dia menunggu, sedangkan orang yang ingin kembali ke rumahnya maka aku telah mengizinkannya."

Perkataan Utsman ini tidak ditentang oleh seorang sahabat pun, sehingga dianggap sebagai ijmak sukuti. Berdasarkan penjelasan Utsman inilah jumhur ulama memahami hadits keringanan untuk tidak melaksanakan shalat Jumat bagi orang yang telah melakuan shalat Ied.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka selama masalah ini merupakan masalah khilafiyah maka ia bersifat lapang, dan tidak sepatutnya seseorang membenturkan pendapat satu mazhab dengan pendapat mazhab yang lain. Dengan demikian, shalat Jumat tetap dilaksanakan di masjid-masjid, sebagai pengamalan terhadap hukum asalnya dan sebagai suatu kehati-hatian dalam pelaksanaan ibadah. Dan barang siapa yang kesulitan untuk menghadiri shalat Jumat atau ingin mengambil rukhshah dengan mentaklid pendapat yang menggugurkan kewajiban shalat Jumat karena menunaikan shalat Ied, maka dia boleh melakukannya dengan syarat dia tetap melakukan shalat zhuhur sebagai ganti dari shalat Jumat. Juga dengan tidak menyalahkan orang yang menghadiri shalat Jumat, mengingkari orang yang menunaikannya di masjid-masjid atau memicu fitnah dalam perkara yang di dalamnya para salaf saleh menerima adanya perbedaan pendapat.

Adapun gugurnya shalat Zhuhur karena telah dilaksanakannya shalat Ied maka pendapat yang diambil oleh jumhur ulama baik dahulu maupun sekarang adalah bahwa shalat Jum'at jika gugur karena suatu rukhshah (keringanan), uzur atau terlewatkan waktunya maka harus dilaksanakan shalat Zhuhur sebagai gantinya. Sedangkan Atha' berpendapat bahwa shalat Jum'at dan Zhuhur dianggap gugur karena telah dilaksanakannya shalat Ied. Dalil yang digunakan oleh Atha' adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, "Ibnu Zubair r.a. melaksanakan shalat Ied yang jatuh pada hari Jum'at pada awal siang (pagi hari) bersama kami. Lalu kami pergi untuk melaksanakan shalat Jum'at, namun ia tidak datang. Akhirnya, kami pun melaksanakan shalat sendiri. Ketika itu Ibnu Abbas r.a. sedang berada di Thaif. Ketika ia datang, maka kami menceritakan hal itu. Beliau pun berkata, "Ia telah melaksanakan sunnah."

Hanya saja riwayat ini tidak dapat dijadikan sebagai dalil karena memiliki kemungkinan makna yang lain. Sebuah dalil yang mengandung berbagai kemungkinan menjadi batal nilai kedalilannya. Hadits ini tidak menunjukkan bahwa Ibnu Zubair tidak melaksanakan shalat Zhuhur di rumahnya. Bahkan penjelasan Atha' bahwa mereka melaksanakan shalat sendiri (shalat Zhuhur) mengisyaratkan bahwa tidak ada yang mengatakan bahwa shalat Zhuhur menjadi gugur. Pendapat ini mungkin dapat ditafsirkan sebagai mazhab yang berpendapat kebolehan melaksanakan shalat Jum'at sebelum tergelincir matahari (zawal). Pendapat ini diriwayatkan dari Imam Ahmad. Bahkan diriwayatkan dari Atha' sendiri, dimana ia pernah mengatakan, "Setiap shalat Ied dilaksanakan ketika telah masuk waktu Dhuha: shalat Jum'at, Iedul Adha dan Iedul Fitri." Penafsiran ini diperkuat oleh riwayat Wahb bin Kaysan yang diriwayatkan oleh Nasa`i: "Dua Ied telah berkumpul pada masa Ibnu Zubair. Maka ia pun mengakhirkan keluar rumah hingga siang semakin tinggi. Ia lalu keluar dan berkhutbah serta memanjangkan khutbahnya. Lalu ia turun dan melaksanakan shalat lalu tidak melasakanakan shalat Jum'at bersama masyarakat." Sebagaimana diketahui bahwa khutbah Jum'at dilaksanakan sebelum shalat, sedangkan khutbah Ied dilaksanakan setelah shalat. Oleh karena itu, Abul Barakat Ibnu Taimiyah berkata, "Penjelasannya adalah bahwa ia memandang kebolehan mendahulukan shalat Jum'at sebelum tergelinciri matahari. Zubair mensegerakan shalat Jum'at dan menjadikannya sebagai pengganti shalat Ied."

Ditambah lagi bahwa syariat tidak pernah menjadikan shalat fardhu empat kali dalam keadaan apapun, bahkan dalam keadaan sakit parah atau di tengah-tengah pertempuran. Shalat fardhu tetap dilaksanakan lima kali sebagaimana ditetapkan dalam dalil-dalil qath'I, seperti sabda Rasulullah saw. kepada seorang Arab badui yang bertanya tentang kewajiban Islam,

خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ
"Lima shalat dalam sehari semalam." (Muttafaq alaih dari hadits Thalhah bin Ubaidillah r.a.).

Nabi saw. juga pernah bersabda kepada Muadz bin Jabal r.a. ketika mengutusnya ke Yaman,

فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ
"Beritahulah mereka bahwa Allah 'azza wa jalla mewajibkan mereka melakukan shalat lima kali dalam sehari semalam." (Muttafaq alaih dari hadits Ibnu Abbas r.a.).

Rasulullah saw. juga bersabda,

خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهُ عَلَى الْعِبَادِ
"Lima shalat yang diwajibkan Allah kepada para hamba-Nya." (HR. Malik, Abu Dawud, Nasa`I dari hadits Ubadah bin Shamit r.a.).

Dan masih banyak lagi dalil yang menjelaskan mengenai hal ini. Jika shalat fardhu tidak dapat gugur dengan melaksanakan shalat fardhu lainnya, maka bagaimana mungkin dapat gugur dengan melaksanakan shalat Ied yang hukumnya hanyalah fardhu kifayah dalam skala komunitas dan sunah dalam sekala pribadi?
Syariat Islam telah mewajibkan shalat lima waktu ini dalam keadaan, tempat, person dan keadaan apapun, kecuali yang dikecualikan seperti wanita haid dan nifas. Bahkan, ketika Nabi saw. menjelaskan lama hidup Dajjal di dunia, beliau bersabda,

أَرْبَعُوْنَ يَوْماً، يَوْمٌ كَسَنَةٍ، وَيَوْمٌ كَشَهْرٍ، وَيَوْمٌ كَجُمُعَةٍ، وَسَاِئُر أَيَّامِهِ كَأَيَّامِكُمْ
"Empat puluh hari. Satu hari seperti setahun, satu hari seperti sebulan dan satu hari seperti satu jum'at. Sisa hari-harinya seperti hari-hari kalian."

Para sahabat bertanya, "Pada hari yang seperti setahun itu, apakah kita cukup melaksanakan shalat satu hari saja?" Beliau menjawab, "Tidak. Tapi perkirakan kadar waktu-waktu shalat itu." (HR. Muslim).


Ini adalah nash bahwa shalat fardhu tidak dapat gugur pada keadaan atau waktu apapun.

Dengan demikian, pendapat yang menyatakan bahwa shalat Jum'at dan Zhuhur menjadi gugur dengan melaksanakan shalat Ied adalah tidak dapat dipegangi karena kelemahan dalilnya dalam satu sisi dan karena ketidakpastian penisbatan pendapat ini kepada ulama yang mengatakannya.

Wallahu subhânahu wa ta'âlâ a'lam.

Mufti Agung Prof. Dr. Syaikh Ali Jum'ah Muhammad
via Darul Ifta

FATWA ULAMA AL-AZHAR: MEMBANGUNKAN ORANG SAHUR BUKANLAH BID’AH

Written By Rudi Yanto on Jumat, 10 Juli 2015 | 7/10/2015

Di sadur dari :https://generasisalaf.wordpress.com/2015/07/08/fatwa-ulama-al-azhar-membangunkan-orang-sahur-bukanlah-bidah/
Bagi Mufti al Azhar, membangunkan orang sahur pertama kali dilakukan di Mesir pada tahun 238 H, saat Uqbah bin Ishaq menjadi Gubernur Mesir di masa Abbasiyah. Di akhir kesimpulan fatwa itu berbunyi:
ﻧﺮﻯ ﻣﻦ ﻫﺬا ﺃﻥ اﻹﻋﻼﻡ ﺑﻮﻗﺖ اﻟﺴﺤﻮﺭ ﻟﻪ ﺃﺻﻞ ﻓﻰ اﻟﺪﻳﻦ، ﻓﻜﺎﻥ ﻓﻰ ﺃﻳﺎﻡ اﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﺄﺫاﻥ ﺑﻼﻝ، ﻭﻛﺎﻥ ﻓﻰ اﻟﻌﺼﻮﺭ اﻟﺘﻰ ﺗﻠﺖ ﺫﻟﻚ ﺑﻮﺳﺎﺋﻞ ﺷﺘﻰ، ﺑﺈﺿﺎءﺓ اﻷﻧﻮاﺭ، ﻭﺑﺈﻧﺸﺎﺩ اﻷﺷﻌﺎﺭ، ﻭﺑﺎﻟﻀﺮﺏ ﻋﻠﻰ اﻵﻻﺕ، ﺛﻢ ﺑﺈﻃﻼﻕ اﻟﺼﻔﺎﺭاﺕ ﻭﺿﺮﺏ اﻟﻤﺪاﻓﻊ ﻭﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ اﻟﻮﺳﺎﺋﻞ
Kami berpendapat bahwa memberi tahu waktu sahur memiliki dasar dalam agama dari adzan Bilal di masa Rasulullah. Di masa berikutnya dengan menyalakan alat penerangan, juga dengan melantunkan syair, menabuh alat, bunyi-bunyian dan media lainnya (Fatawa al Azhar).
Dalil membangunkan orang Sahur-03 Dalil membangunkan orang Sahur-02 Dalil membangunkan orang Sahur-01
Selamat menikmati sahur.
Source: Ust. Ma’ruf Khozin

TAHQIQ KITAB FATHUL BAARY OLEH ULAMA SALAFY MENSYIRIKKAN AMALAN SAHABAT NABI SAW


Di atas pula adalah isi kandungannya dalam permulaan kitab tadi yang dicetak dengan nama 4 buat syarikat pencetakan menyatakan kitab tersebut telah di tahkik oleh Abdul Aziz bin Baz. Lihat line yang telah dimerahkan.
Di atas adalah isi kandungan kitab tersebut yang ditambah nota kakinya oleh BinBaz dan kesemua wahhabi mengakuinya. Tertera pada line yang berwarna merah hadith Nabi yang sahih dalam kitab Fathul Bary tersebut menyatakan bahawa Sahabat Nabi yang bernama Bilal al-harith almuzany telah melakukan amalan tawassul yaitu meminta hujan dari Allah bertawassulkan Nabi dinamakan “Istisqo’ “.
Pada line yang berwarna biru pula adalah pernyataan resmi Bin baz dan kesemua wahhabi menyetujuinya dimana pernyataan tersebut amat jelas pentahqiq mengkafirkan dan menghukum syirik Sahabat Nabi (bilal) karana bertawassulkan nabi ketika ” istisqo’ “.
Dan perhatikan pada pernyataan diatas: و ان �…ا فغله هذا الرجل �…نكر ووسيلة الى الشرك
yang diartikan “sesungguhnya apa dilakukan oleh lelaki ini yaitu Sahabat Nabi Muhammad (Bilal) adalah satu-satunya pembawa syirik”.
Dan perhatikan tulisan berikutnya lebih jelas pentahkik mengkafirkan Sahabat Nabi dan menghukum Sahabat Nabi Muhammad (Bilal) sebagai musyrik.
****   Bertawasul Dengan Maqam Nabi Dimasa Kekhalifahan Umar al-Khattab رضي الله عنه
Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani menyebutkan didalam Syawahidul Haq fil Istighosah bi Sayyidil Khalaq. Kisah ini diriwayat oleh Imam al-Baihaqi dan Abi Syaibah dengan isnad yang shohih.
“Bahawa kemarau telah menimpa manusia di zaman kekhalifahan Amirul Mu’minin Sayyidina Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه. Maka datanglah Bilal bin al-Harits رضي الله عنه ke qubur Junjungan Nabi صلى الله عليه وسلم dan berkata : “Wahai Rasulullah, mohonlah (kepada Allah) supaya diturunkan hujan untuk umatmu kerana mereka hampir binasa (dari kerna kemarau)”. Selepas itu lelaki tersebut bermimpi Junjungan Nabi صلى الله عليه وسلم datang kepadanya dan mengkhabarkan bahawa hujan akan diturunkan kepada mereka. Maka turunlah hujan tersebut. Dan di dalam hadits tersebut juga disebut bahawa Junjungan Nabi صلى الله عليه وسلم menyuruh lelaki tersebut untuk menyampaikan salam baginda kepada Sayyidina Umar رضي الله عنه. dan memberitahunya bahawa hujan akan diturunkan. Seterusnya dinyatakan bahawa Sayyidina Umar رضي الله عنه telah menangis kesukaan kerana mendapat kiraman salam dan khabar gembira tersebut daripada Junjungan Nabi صلى الله عليه وسلم. [Syawahidul Haq fil Istighosah bi Sayyidil Khalaq, Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani, Cetakan Dar al-Fikr – 1983, halaman 155]
Didalam kitab Mafahim Yajibu an Tushahah juga menyebutkan:
التوسل بقبر النبي صلى الله عليه وسلم في خلافة عمر رضي الله عنه
وقال الحافظ أبو بكر البيهقي : أخبرنا أبو نصر بن قتادة وأبو بكر الفارسي قالا : حدثنا أبو عمر بن مطر حدثنا إبراهيم بن علي الذهلي حدثنا يحيى بن يحيى حدثنا أبو معاوية عن الأعمش عن أبي صالح عن مالك قال : أصاب الناس قحط في زمن عمر بن الخطاب فجاء رجل إلى قبر النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله استسق الله لأمتك فإنهم قد هلكوا ، فأتاه رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام فقال : ((ائت عمر فأقرئه مني السلام وأخبرهم أنهم مسقون ، وقل له : عليك بالكيس الكيس)). فأتى الرجل فأخبر عمر ، فقال : يارب ! ما آلو إلا ما عجزت عنه . وهذا إسناد صحيح . [كذا قال الحافظ ابن كثير في البداية (ج1 ص91) في حوادث عام ثمانية عشر] . وروى ابن أبي شيبة بإسناد صحيح من رواية أبي صالح السمان عن مالك الداري – وكان خازن عمر – قال : ((أصاب الناس قحط في زمن عمر رضي الله عنه فجاء رجل إلى قبر النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يارسول الله ! استسق لأمتك فإنهم قد هلكوا فأتى الرجل في المنام فقيل له : ائت عمر ، الحديث .
وقد روى سيف في الفتوح : أن الذي رأى في المنام المذكور هو بلال ابن الحارث المزني أحد الصحابة . قال ابن حجر : إسناده صحيح اهـ . (صحيح البخاري كتاب الاستسقاء) ، [ فتح الباري ص415 ج2 ]
Telah berkata al-Hafidz Abu Bakar al-Baihaqi: Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Nasr ibn Qatadah dan Abu Bakar al-Farisi dengan katanya: Telah menceritakan kepada kami Abu Umar ibn Mathor, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibn ‘ali al-Zuhli, telah menceritakan kepada kami Yahya Ibn Yahya, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah daripada al-A’mash, daripada Abu Sholeh daripada Malik, katanya:
Pada zaman kekhalifahan Umar ibn al-Khattab, orang ramai ditimpa kemarau yang panjang. Maka seorang lelaki pergi ke maqam Rasulullah lalu berkata: Wahai Rasulullah! Mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada umatmu kerana mereka semua telah menderita”. Maka Rasulullah telah datang di dalam tidurnya dan bersabda: “Pergilah bertemu mar dan sampaikan salamku kepadanya. Khabarkanlah kepadanya bahwa mereka semua akan diturunkan hujan. Katakanlah kepadanya: Hendaklah kamu melakukan perkara yang baik dan bersifat bijaksana (dalam urusan umat),”
Maka lelaki tersebut menemui umar dan menceritakan kepadanya tentang hal tersebut. Lalu Umar berkata: Wahai Tuhanku! Aku tidak melengah-lengahkan urusan umat kecuali apa yang tidak terdaya aku lakukannya.” – Isnad hadits ini shohih. Demikianlah yang dikatakan oleh Ibn Katsir didalam al-Bidayah [wa an-Nihayah]
Ibn Abi Syaibah telah meriwayatkan dengan sand yang shohih dan beliau berkata, telah menyampaikan kepada kami Abu Mu’awiyah daripada al-A’mash daripada Abu Sholah al-Samman daripada Malik ad-Dar (beliau merupakan penjaga perbendaharaan Umar) berkata: Pada zaman Sayyiduna Umar, manusia ditimpa kemarau panjang. Maka datang seorang lelaki ke maqam Nabi lalu berkata: Wahai Rasulullah! Mintalah agar diturunkan hujan kepada umatmu kerana mereka telah menderita.” Maka Rasulullah datang dalam mimpinya dan dikatakan kepadanya: Berjumpalah dengan Umar …. (seperti hadits diatas)
Saif telah meriwayatkan di dalam al-Futuh: Orang yang bermimpi melihat Rasulullah ialah Bilal bin al-Harits al-Muzani, seorang shahabat. Ibn Hajar berkata: Sanad hadits ini shohih. [Mafahim Yajibu an Tushahah oleh al-‘Allamah al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad ‘Alwi al-Maliki, Cetakan ke-10, Daairah al-awqaf wa asy-Syu`uun al-Islamiyah Dubai, halaman 150]
Maka dari hadits diatas bukankah shahabat tersebut memohon kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم agar baginda memohon kepada Allah agar diturunkan hujan? Dan pada ketika itu Rasulullah telah wafat. Apakah Tok Peti mahu mensyirikkan perbuatan shahabat tersebut? Allahu Allah …. Bertaubatlah daripada mensyirikkan manusia.
Bertawassul Dengan Maqam Nabi Dengan Petunjuk Sayyidah ‘Aisyah رضي الله عنها
Qubbatul Khadra’ atau Kubah Hijau dimana di bawah kubah itulah bersemadinya jasad Sayyidul Kawnain wats Tsaqalain صلى الله عليه وسلم Menurut sejarah, maqam Junjungan Nabi صلى الله عليه وسلم sentiasa mempunyai bumbung untuk menaunginya kerana ia asalnya adalah rumah (bilik) Sayyidatina ‘Aisyah رضي الله عنها. Pernah berlaku dalam sejarah bahawa penduduk Kota Madinah tatkala menghadapi musim kemarau yang teruk telah dinasihatkan untuk membuat satu bukaan pada bumbung atas maqam Junjungan صلى الله عليه وسلم sebagai upaya berwasilah dengan baginda. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam ad-Daarimi dalam sunannya seperti berikut:
حدّثنا أبو النُعمانِ حدثنا سعيدُ بنُ زيدٍ ، حدثنا عَمْرُو بنُ مالكٍ النكريُّ ، حدثنا أبو الجوزاء أوسُ بنُ عبدِ اللَّهِ قال: قحطَ أهل المدينة قَحْطاً شديداً، فشَكَوْا إلى عائشةَ فقالَتْ: انظُروا قبرَ النبيِّ صلى الله عليه وسلّم فاجعلُوا منه كواً إلى السماءِ، حتى لا يكون بَيْنَهُ وبينَ السماءِ سقْفٌ. قال: فَفَعَلُوا فمطِرْنا مطراً حتى نَبَتَ العشبُ، وسَمِنَتِ الإبِلُ حتى تَفَتَّقَتْ من الشحمِ، فسُمِّيَ عامَ الفتقِ….انتهى
Diriwayatkan daripada Abu an-Nu’maan daripada Sa`id bin Zaid daripada ‘Amr bin Malik daripada Abul Jawzaa` Aus bin Abdullah yang telah berkata: “Penduduk Kota Madinah telah menghadapi kemarau teruk, lalu mereka mengadu kepada Sayyidatina ‘Aisyah رضي الله عنها. Ummul Mu’minin Sayyidatina ‘Aisyah berkata kepada mereka: (Pergilah) lihat kubur Nabi صلى الله عليه وسلم dan buatkanlah satu lubang atasnya yang tembus ke langit sehingga tidak ada atap (naungan) di antara kubur tersebut dengan langit. Maka mereka pun melakukannya, lalu turunlah hujan lebat sehingga tumbuh-tumbuhan hidup dengan subur dan unta-unta menjadi gemuk sehingga kulitnya seakan-akan pecah, maka dinamakan tahun tersebut “aamul fatqi” (tahun pecah-pecah (yakni melambangkan kesuburan kerana kulit unta-unta tersebut seolah-olah pecah-pecah kerana terlalu gemuk).”
Hadits ini telah dijadikan antara dalil yang mengharus bertawassul dengan Junjungan Nabi صلى الله عليه وسلم sebagaimana dinyatakan oleh ulama dan ahli sejarah Kota Madinah yang masyhur, Sayyid as-Samhudi, dalam “Khulashatul Wafa`“. Imam as-Samhudi menyatakan bahawa membuat lubang pada atap atas maqam Junjungan Nabi صلى الله عليه وسلم supaya ada lubang terus ke langit telah menjadi amalan penduduk Madinah sewaktu musim kemarau. Selanjutnya beliau menyatakan bahawa pada kebelakangannya penduduk Madinah tidak lagi membuat lubang pada atas maqam Junjungan صلى الله عليه وسلم tetapi mereka akan membuka pintu yang menghadap wajah baginda yang mulia dan bertawassul dengan baginda serta memohon syafaat baginda di situ. Mulla ‘Ali al-Qari dalam “Mirqaatul Mafaatiih” turut menukilkan hadits ini dan menyebut bahawa Aus bin ‘Abdullah al-Azdi adalah ahli Bashrah dan seorang tabi`in masyhur yang meriwayatkan hadits daripada Sayyidatina ‘Aisyah, Sayyidina Ibnu ‘Abbas dan Sayyidina Ibnu ‘Umar رضي الله عنهم. Hadhratusy Syaikh KH Hasyim Asy`ari [pendiri Nahdhatul Ulama’] juga memuatkan hadits ini sebagai antara dalil bagi mengharuskan tawassul, istighosah dan memohon syafaat kepada Nabi, para wali dan sholihin sebagaimana dimuatkannya dalam kitabnya “an-Nuurul Mubiin fi Mahabbati Sayyidil Mursaliin“. Maka apakah kita mahu mensyirikkan Ummul Mu’minin ‘Aisyah رضي الله عنها dan penduduk Madinah ketika itu? Allahu Allah …. Berhati-hatilah dalam membuat tuduhan.
Kisah Abdullah bin Umar رضي الله عنهما Kebas Kaki
عن الهيثم بن خنس قال : كنا عند عبد الله بن عمر رضي الله عنهما فخدرت رجله فقال له رجل : أذكر أحب الناس إليك ، فقال : يا محمد ، فكأنما نشط من عقال .
Daripada Haitsam bin Khannas, dia berkata: “Kami berada disisi Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنهما yang sedang kebas kakinya. Tiba-tiba seorang lelaki berkata: “Sebutlah nama orang yang paling engkau cintai.” Maka Abdullah bin ‘Umar pun berkata: “Wahai Muhammad, sehingga seakan-akan dia tidak pernah sakit.”
وعن مجاهد قال : خدرت رِجْل رَجُل عند ابن عباس رضي الله عنهما ، فقال له ابن عباس : أذكر أحب الناس إليك ، فقال : محمد صلى الله عليه وسلم فذهب خدره
Mujahid meriwayatkan bahawa dia melihat seorang yang kebas kaki di sisi Ibnu Abbas. Lalu Ibnu Abbas berkata kepadanya. “Sebutlah nama orang yang paling engkau cintai.” Maka orang yang sakit itu pun menyebut nama Muhammad صلى الله عليه وسلم. Lalu rasa kebas kakinya pun lenyap.”
Hadits ini boleh dirujuk dalam kitab ‘Amalul Yaumi wal Lailati oleh ibn Sunni. Juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari di dalam Adab al-Mufrad sepertimana berikut:
حدثنا أبو نعيم قال حدثنا سفيان عن أبي إسحاق عن عبد الرحمن بن سعد قال خدرت رجل بن عمر فقال له رجل اذكر أحب الناس إليك فقال يا محمد
Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim dengan katanya: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari Abdurrahman bin Sa’d, dia berkata: Kaki Ibn Umar mengalami sakit kebas. Maka telah berkata kepadanya seorang lelaki: Sebutlah nama manusia yang paling engkau cintai. Maka Ibn Umar pun menyebut: Ya Muhammad.
Hadits ini juga disebut oleh Imam an-Nawawi di dalam kitab al-Adzkar didalam bab “Ma Yaquuluhu Idza Khadirat Rijluh” – Apa Yang Diucapkan Apabila Kaki Kebas (Kejang/Krem).
Nah, rasanya cukup dulu untuk kali ini. InsyaAllah andaikata punya kesempatan aku sambung lagi mengenai pendapat para ulama yang mengharuskan bertawassul, isti’anah, istighosah dengan mereka yang telah wafat. Bagi mereka yang inginkan yang lebih terperinci silalah rujuk kitab-kitab berkenaan antaranya:-
  • al-Ifham wal Ifham au Qadaya al-Wasilah wal Qubur dan Usul al-Wushul oleh Syaikh Muhammad Zaki Ibrahim
  • Syawahidul Haq fil Istighosah bi Sayyidil Khalaqi oleh Syaikh Yusuf an-Nabhani
  • al-Jauhar al-Munazzham oleh Ibn Hajar al-Haithami
  • Ithafu Azkiya bi Jawazi at-Tawassul bin Anbiya wal Auliya oleh al-Muhaddits Syaikh Abdullah Siddiq al-Ghumari
  • Bahjah an-Nazir fi Tawassul bi an-Nabi at-Thohir oleh as-Sayyid Hasaan as-Saqqaf
  • ad-Darurus Saniyah fi Raddi ‘Ala al-Wahabiyah oleh Syaikh Ahmad Zaini Dahlan
  • Mafahim Yajibu an Tushahhah oleh al-Muhaddits as-Sayyid Muhamad ibn ‘Alawi ibn Abbas ibn Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani (kitab ini telah diterjemahkan oleh guru kami asy-Syaikh Muhammad Fuad bin Kamaluddin al-Maliki. Kitab ini sangat baik untuk dibaca)
  • Haqiqah at-Tawassul wa al-Wasilah ‘ala Dhau` al-Kitab wa as-Sunnah oleh Syaikh Musa Muhammad ‘Ali (kitab ini telah diterjemah ke bahasa Melayu)
  • al-Mausu’ah al-Yusufiah fi Bayan Adillah as-Shufiyah oleh Syaikh Yusuf Khattar Muhammad
  • al-Ajwibah al-Ghaliyah fi ‘Aqidah al-Firqah an-Najiyah oleh al-‘Allamah al-Habib Zain al-‘Abidin al-‘Alawi
  • Raf’ul Minaarah li Takhrij Ahadits at-Tawassul wa al-Ziyaarah oleh Syaikh Mahmud Said Mamduh
  • Intabih Diinuka fi Khatrin oleh al-‘Allamah Abu Abdullah ‘alawi al-Yamani (kitab ini telah diterjemahkan oleh guru kami asy-Syaikh Muhammad Fuad bin Kamaluddin al-Maliki)
  • Al-Bayan Lima Yashghulul Adzhan (pertanyaan ke-44) dan al-Bayan al-Qawiim li Tashhiih Ba’dhi al-Mafaahim (pertanyaan ke-8) oleh Shaikh Dr. ‘ali Jum’ah, Mufti Mesir.
  • Wahabisme Dari Neraca Syara’ oleh Syaikh Muhammad Fuad bin Kamluddin al-Maliki (buku yang bagus untuk dibaca)
  • dan banyak lagi.

Tiga Tingkatan Dalam Berpuasa (Khutbah Jum’at)

Written By Rudi Yanto on Selasa, 07 Juli 2015 | 7/07/2015


الحمد لله, الحمد لله الذى أعظم على عباده المنة, بما دفع عنهم كيد الشيطان وفنه, ورد أمله وخيب ظنه, إذ جعل الصوم حصنا لأوليائه وجنة, وفتح لهم به أبواب الجنة, وعرفهم أن وسيلة الشيطان إلى قلوبهم الشهوات المستكنة وإن بقمعها تصبح النفس المطمئنة ظاهرة الشوكة فى قصم خصمها قوية المنة, أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شهادَةَ أدخرها ليوم الزحام, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الداعى بقوله وفعله إلى دار السلام. اللهمّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدِ وعَلى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ وَمَصَابِيْحِ الظُّلاَمِ. أمَّا بعْدُ, فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهِ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ وَتَرْكِ الأَثَامِ تدخلوا جنة ربكم بسلام
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Sudah separoh lebih perjaalnan kita di bulan suci ini. Sudahkah kita meningkatkan ketaqwaan kita kepada-Nya? demikianlah seharusnya. Bukankah taqwa itu sendiri yang menjadi tujuan diwajibkannya puasa bagi umat muslim. Taqwa yang lebih mengutamakan penghindaran diri dari berbagai larangannya, bukan hanya sekedar menta’ati perintahnya. Oleh karena itu capaian nilai tqwa dalam puasa berada dalam satu rumpun dengan kesabaran. Karena pada hakikatnya bertaqwa adalah bersabar terhadap segala ujian.

Imam Ghazali dalam Ihya Ulumiddin mengatakan bahwa posisi ibadah puasa adalah seperempat bagian dari iman. Artinya barang siapa yang tidak puasa maka imannya kurang sepermpat. Hal ini merupakan kesimpulan dari dua sabda Rasulullah saw yang pertama berbunyi “ الصوم نصف الصبر” puasa merupakan setengah dari kesabaran. Dan hadits kedua berbunyai “ الصبر نصف الإيمان ” sabar adalah setengah dari iman. Oleh karena itulah Imam Ghazali menyimpulkan bahwa puasa adalah seperempat bagian dari iman.
Dua hadits tersebut sebenarnya tidaklah hanya menunjukkan bagian puasa dalam iman, tetapi juga menghubungkan puasa, kesabaran dan iman. Jika dicermati maka sesungguhnya ketiganya memiliki hubungan yang erat. Sabar adalah inti dari puasa. Kesabaran dalam menahan segala larangan dhahiriah yang dapat membatalkan puasa, dan larangan batiniyah yang mengurangi makna puasa. Keduanya  merupakan ujian yang berat. Sekaligus juga merupakan barometer kwalitas keimanan seseorang.
Jama’ah Jum’ah Rohimakumullah
Mengukur barometer iman seseorang bukanlah hal yang sulit, meskipun iman adalah soal kepercayaan dan kepercayaan tersimpan rapat-rapat dalam dunia batin. Akan tetapi, iman itu membutuhkan aktualisasi diri dalam dunia kenyataan. Tidak mungkin seseorang mengaku iman dan cinta kepada Allah swt, tetapi ia menenggelamkan diri dalam selimut ketika Allah memanggilnya melalui adzan. Bukankah orang yang cinta akan segera menyambut panggilan yang dicintainya?

Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menerangkan tingkatan dalam berpuasa. Shaumul umum,shaumul khushus, dan shaumul khushusil khushus. Ketiganya bagaikan tangga yang selalu menarik siapapun untuk menaikinya agar sampai di tempat yang lebih tinggi. 
Pertama shaumul umum,  yang bisa diterjemahkan dengan puasa biasa-biasa saja (puasanya orang awam). Yaitu puasa dengan menahan lapar, dahaga dan syahwat, menjaga mulut dan alat kelamin dari hal-hal yang mebatalkan puasa.
Kedua shaumul khushus, atau puasa spesial (puasanya orang khusus) yaitu puasa dengan menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan segala anggota badan dari dosa dan ma’shiyat. Dan ketiga shaumul khususil khusus, atau puasa istimewa (puasanya orang istimewa) yaitu puasa dengan menahan hati dari keraguan mengenai hal-hal keakhiratan, dan menahan pikiran untuk tidak memikirkan masalah kedunyawiyahan, serta menjaga diri dari berpikir selain Allah swt.
Maka, standar ke-batal-an puasa istimewa ini adalah apabila telah terbersit dalam hati pikiran selain Allah, apalagi memikirkan harta kekayaan yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat kelak. Bahkan menurut kelompok ketiga puasa dapat terkurangi nilainya, dan dianggap batal apabila didalam hati tersirat keraguan atas kekuasaan-Nya. Misalkan dengan meniatkan diri untuk bekerja dan mencari penghidupan sepanjang siang hanya karena khawatir tidak bisa mendapat sesuatu yang dipakai berbuka puasa, sungguh hal ini sama artinya dengan tidak percaya kepada janji Allah, bahwa Allah Yang Maha Pemberi Riziqi itu sungguh-sungguh menghormati dan memuliakan orang yang berpuasa. Tidak mungkin ada orang berpuasa yang tidak berbuka.
Para Hadirin Jama’ah Jum’ah yang Dirahmati Allah
Jika selama dua minggu lebih ini kita berpuasa seperi puasanya orang yang biasa-biasa saja (shaumul umum) maka di sisa puasa yang ada marilah kita bersma-sama meningkatkan puasa kita menju tingkatan puasa spesial (shaumum khushus), dengan penuh harapan dan keyakinan akan mampu meraih puasa istimewa (shaumul khusushil khusus) itulah puasanya para nabi, shiddiqin, dan muqarrabin.
Tidak, tidak, janganlah kita pesimis setelah mendengar bahwa puasa tingkat ketiga adalah puasa para nabi, dengan membandingkan diri ini yang masih hina-dina tak mengerti persoalan agama, jangan. Jangan dulu psimis. Karena sesungguhnya tingakatan-tingkatan ini diciptakan sebagaimna tangga yang mempermudah manusia mendaki ke tempat yang lebih tinggi. Ketiga tingkatan ini harus menjadi pendorong diri kita menjadi individu dengan kadar puasa yang berkwalitas, seperti puasanya para nabi.
Jama’ah Rahimakumullah
Untuk itulah kemudian al-Ghazali dalam lanjutan keterangannya memberikan tratmen atau gaiden mendaki ketiga tingkatan itu, ia kemudian jelaskan bahwa puasa spesial (shaumul khusus) itu adalah puasanya shalihin. Yang dapat digapai dengan menyempurnakan enam hal, pertama menjaga mata dan penglihatan dari segala hal yang dicela agama dan dibenci Allah swt, dan menghindarkan dari melihat segala hal yang akan melalaikan hati kita ingat dari Allah. Semisal menyibukkan mata dengan menonton film selama puasa, bermain game, memanjakan mata dengan pemandangan duniawi di seputar mall dan mini market yang yang menggiurkan dan seterusnya.
Dalam sebuah hadits Rasulullah saw pernah bersabda:
النظرة سهم من سهام إبليس من تركها خوفا من الله آتاه الله إيمانا يجد حلاوته في قلبه
Pandangan adalah saham bagian dari sahamnya iblis, barang siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberikannya iman dalam hati yang manis.
Kedua, dengan menjaga lisan dari berbohong, menggunjing, berbicara jorok dan berbagai keburukan lisan lainnya, serta memperkerjakan lisan untuk dzikir kepada Allah swt dan memperbanyak membaca Al-Qur’an. Inilah makna puasa bagi  lisan.
Ketiga, mencegah pendengaran dari hal-hal yang dibenci Allahs swt. diantara perkara yang dilarang adalah mendengarkan peergunjingan. Baik yang menggunjing maupun yang mendengarkannya terkena hukum haram. Begitu buruknya perkerjaan mennggunjing dan mendengarkan gunjingan hingga Allah swt berforman.
 سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ
Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram
Keempat, mencegah anggota badan yang lain seperti tangan, kaki, dan perut dari makanan-makanan syubhat ketika berpuasa. Puasa bukanlah menahan makanan halal dan berbuka dengan yang haram, tetapi menahan diri dari makanan yang haram. Diantara menjaga makanan haram adalah menghindarkan diri dari memakan daging manusia sesama saudaranya. Artinya, menghindarkan diri dari menggunjing orang lain.
Kelima, menjaga diri untuk tidak berlebih-lebihan ketika berbuka puasa. Meskipun makanan itu sudah jelas halalnya. Karena diantara hal yang dibenci Allah swt adalah perut yang dipenuhi makanan halal. Hal ini dianggap menghambat diri memecahkan hawa nafsu.
Keenam, hendaklah setelah berbuka puasa seseorang menjadi bermuhasabah, mengintrospeksi diri adakah puasa yang diakukannya hari ini diterima, atau ditolak? Sungguh hal ini akan menjadi pelajaran dan membawa seseorang lebih berhati-hati di hari kemudian.
Demikianlah khotbah kali ini, semoga memberi manfaat bagi diri khatib sendiri khususnya dan pendengar pada umumnya. Pada hakikatnya ketiga tingkat puasa ini berfungsi untuk memberikan semangat pada diri kita menjadi individu yang berkembang memiliki makna lebih. Sebagaimana anak tangga yang ada dihadapan kita, bukankah itu menarik hati kita untuk menaikinya?

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Sumber : http://jombang.nu.or.id/tiga-tingkatan-dalam-berpuasa-dan-cara-mencapainya


Simak di: http://www.sarkub.com/2015/tiga-tingkatan-dalam-berpuasa-khutbah-jumat/#ixzz3fBQEphY0
Powered by Menyansoft
Follow us: @T_sarkubiyah on Twitter | Sarkub.Center on Facebook
 
Contact Support: Twitter | Facebook
Copyright © 2012. AL-MUSABBIHIN - All Rights Reserved
Published by TakadaTapiono Creative