MASJID AL-MUSABBIHIN

MASJID AL-MUSABBIHIN
Sumber Dakwah dan Informasi DKM AL-MUSABBIHIN PERUM KOMPAS INDAH TAMBUN
Latest Post

MUTIARA HIKMAH KEUTAMAAN SHOLAWAT : KISAH RASULULLAH SAW DAN MALAIKAT PENGHITUNG TETESAN AIR HUJAN

Written By Rudi Yanto on Rabu, 31 Juli 2013 | 7/31/2013


Sumber : Facebook Persatuan Pemuda Pemudi Majelis Rasulullah
Diriwayatkan (Al-Mustadrah Syeikh An-Nuri, jilid 5: 355, hadis ke 72) bahwa Rasulullah saw bersabda, “Disaat aku tiba di langit di malam Isra’ Miraj, aku melihat satu malaikat memiliki 1000 tangan, di setiap tangan ada 1000 jari. Aku melihatnya menghitung jarinya satupersatu. Aku bertanya kepada Jibril as, pendampingku,
‘Siapa gerangan malaikat itu, dan apa tugasnya?.’
Jibril berkata, Sesungguhnya dia adalah malaikat yang diberi tugas untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi.
’ Rasulallah saw bertanya kepada malaikat tadi,
‘Apakah kamu tahu berapa bilangan tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi sejak diciptakan Adam as?.
’ Malaikat itupun berkata,
‘Wahai Rasulallah saw, demi yang telah mengutusmu dengan hak (kebenaran), sesungguhnya aku mengetahui semua jumlah tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi dari mulai diciptakan Adam assampai sekarang ini, begitu pula aku mengetahui jumlah tetetas yang turun ke laut, ke darat, ke hutan rimba, ke gunung-gunung, ke lembah-lembah, ke sungai-sungai, ke sawah-sawah dan ke tempat yang tidak diketahui manusia.’
Mendengar uraian malaikat tadi, Rasuluallah saw sangat takjub dan bangga atas kecerdasannya dalam menghitung tetesan air hujan. Kemudian malaikat tadi berkata kepada beliau,
‘Wahai Rasulallah saw, walaupun aku memiliki seribu tangan dan sejuta jari dan diberikan kepandaian dan keulungan untuk menghitung tetesan air hujan yang yang turun dari langit ke bumi, tapi aku memiliki kekurangan dan kelemahan.
’ Rasulallah saw pun bertanya, ‘Apa kekurangan dan kelemahan kamu?.
’ Malaikat itupun menjawab, ‘Kekurangan dan kelemahanku, wahai Rasulallah, jika umatmu berkumpul di satu tempat, mereka menyebut namamu lalu bershalawat atasmu, pada saat itu aku tidak bisa menghitung berapa banyaknya pahala yang diberikan Allah kepada mereka atas shalawat yang mereka ucapkan atas dirimu.”
Allahumma Shalli’ala Sayyidina Muhammad Wa ala alii Sayyidina Muhammad..

Mengenal Al Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa (Pimpinan Majelis Rasululah)

Written By Rudi Yanto on Senin, 29 Juli 2013 | 7/29/2013






Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa atau lebih dikenal dengan Munzir bin Fuad bin Abdurrahman Almusawa (lahir di Cipanas, CianjurJawa Barat23 Februari 1973; umur 40 tahun - 19 Muharram 1393 H) adalah pimpinan Majelis Rasulullah.


Kehidupan Awal
Ia merupakan anak keempat dari empat bersaudara dari pasangan Fuad bin Abdurrahman Al-Musawa dan Rahmah binti Hasyim Al-Musawa. Ayahnya bernama Fuad yang lahir di Palembang dan dibesarkan di Mekkah. Setelah lulus pendidikan jurnalistik di New York University, Amerika Serikat, ayahnya kemudian bekerja sebagai seorang wartawan di harian 'Berita Yudha' yang lalu menjadi Berita buana. Masa kecilnya dihabiskan di daerah Cipanas, Jawa barat bersama-sama saudara-saudaranya, Ramzi, Nabiel Al-Musawa, serta Lulu Musawa. Ayahnya meninggal dunia tahun 1996 dan dimakamkan di Cipanas, Jawa Barat.[1]
Setelah ia menyelesaikan sekolah menengah atas, ia mulai mendalami Ilmu Syariah Islam di Ma’had Assaqafah Al Habib Abdurrahman Assegaf di Bukit Duri Jakarta Selatan, lalu mengambil kursus bahasa arab di LPBA Assalafy Jakarta timur. Ia memperdalam lagi Ilmu Syari’ah Islamiyah di Ma’had Al Khairat, Bekasi Timur,yang di pimpin oleh habib naqib bin muhammad bin syehk abu bakar bin salim,beliau banyak menimba ilmu di ma'had al khairat dan di sinilah beliau kenal dengan habib umar bin hafidz, yang kemudian diteruskan belajar ke Ma’had Darul Musthafa di pesantren Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Syech abubakar bin Salim di Tarim Hadhramaut Yaman pada tahun 1994 untuk mendalami bidang syari'ah selama empat tahun. Di sana ia mendalami ilmu fiqh, ilmu tafsir Al Qur'an, ilmu hadits, ilmu sejarah, ilmu tauhid, ilmu tasawwuf, mahabbaturrasul, ilmu dakwah, dan ilmu ilmu syariah lainnya.

silsilah/ nasab habib munzir :
Munzir bin Fuad bin Abdurrahman bin Ali bin Abdurrahman bin Ali bin Aqil bin Ahmad bin Abdurrahman bin Umar bin Abdurrahman bin Sulaiman bin Yaasin bin Ahmad Almusawa bin Muhammad Muqallaf bin Ahmad bin Abubakar Assakran bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Alghayur bin Muhammad Faqihil Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Khali' Qasim bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Almuhajir bin Isa Arrumiy bin Muhammad Annaqibm Ali Al Uraidhiy bin Jakfar Asshadiq bin Muhammad Albaqir bin ALi Zainal Abidin bin Husein Dari Fathimah Azahra Putri Rasul saw.



Majelis Rasulullah SAW
Nama "Majelis Rasulullah." dalam aktifitas dakwah ini berawal ketika Hb Munzir Almusawa lulus dari Study-nya di Darulmustafa pimpinan Al Allamah Al Habib Umar bin Hafidh Tarim Hadramaut, Yaman. Beliau kembali ke Jakarta dan memulai berdakwah pada tahun 1998 dengan mengajak orang bertobat dan mencintai nabi saw yang dengan itu ummat ini akan pula mencintai sunnahnya, dan menjadikan Rasul saw sebagai Idola.
habib Munzir mulai berdakwah siang dan malam dari rumah kerumah di Jakarta, ia tidur dimana saja dirumah-rumah masyarakat, bahkan pernah ia tertidur di teras rumah orang karena penghuni rumah sudah tidur dan ia tak mau membangunkan mereka di larut malam. Setelah berjalan kurang lebih enam bulan, Hb Munzir memulai membuka Majelis setiap malam selasa *(mengikuti jejak gurunya Al Habib Umar bin Hafidz yang membuka Majelis minggu-an setiap malam selasa), dan ia pun memimpin Ma'had Assa'adah, yang di wakafkan oleh Al Habib Umar bin Hud Alattas di Cipayung, setelah setahun, munzir tidak lagi meneruskan memimpin ma'had tersebut dan melanjutkan dakwahnya dengan menggalang majelis-majelis di seputar Jakarta.
Hb Munzir membuka majelis malam selasa dari rumah kerumah, mengajarkan Fiqh dasar, namun tampak ummat kurang bersemangat menerima bimbingannya, dan Hb munzir terus mencari sebab agar masyarakat ini asyik kepada kedamaian, meninggalkan kemungkaran dan mencintai sunnah sang Nabi saw, maka Hb Munzir merubah penyampaiannya, ia tidak lagi membahas permasalahan Fiqih dan kerumitannya, melainkan mewarnai bimbingannya dengan nasehat-nasehat mulia dari Hadits-hadits Rasul saw dan ayat Alqur'an dengan Amr Ma'ruf Nahi Munkar, dan lalu beliau memperlengkap penyampaiannya dengan bahasa Sastra yang dipadu dengan kelembutan ilahi dan tafakkur penciptaan alam semesta, yang kesemuanya di arahkan agar masyarakat menjadikan Rasul saw sebagai idola, maka pengunjung semakin padat hingga ia memindahkan Majelis dari Musholla ke musholla, lalu Musholla pun tak mampu menampung hadirin yang semakin padat, maka Munzir memindahkan Majelisnya dari Masjid ke Masjid secara bergantian.
Mulailah timbul permintaan agar Majelis ini diberi nama, Hb Munzir dengan polos menjawab, "Majelis Rasulullah?", karena memang tak ada yang dibicarakan selain ajaran Rasul saw dan membimbing mereka untuk mencintai Allah dan Rasul Nya, dan pada dasarnya semua Majelis taklim adalah Majelis Rasulullah saw..
ImageMajelis kian memadat, maka Munzir mengambil empat masjid besar yang bergantian setiap malam selasa, yaitu masjid Raya Almunawar Pancoran Jakarta Selatan, Masjid Raya At Taqwa Pasar minggu Jakarta Selatan, Masjid Raya At Taubah Rawa Jati Jakarta Selatan, dan Ma`had Daarul Ishlah Pimp. KH. Amir Hamzah di Jalan Raya Buncit Kalibata Pulo, Namun karena hadirin semakin bertambah, maka Hb Munzir akhirnya memusatkan Majelis Malam selasa ini di Masjid Raya Almunawar Pancoran Jakarta Selatan, kini acara ini dihadiri berkisar antara 10.000 hadirin setiap minggunya, Hb Munzir juga meluaskan wilayah da'wah di beberapa wilayah Jakarta dan Sekitarnya, lalu mencapai hampir seluruh wilayah Pulau Jawa, Majelis Rasulullah tersebar di sepanjang Pantai Utara Pulau jawa dan Pantai Selatan, dan terus makin meluas ke Bali, Mataram, Irian Barat, bahkan Singapura, Johor dan Kualalumpur, demikian pula di stasion stasion TV Swasta, bahkan VCD, Majalah bulanan dll, dan kini Anugerah ilahi telah merestui Majelis Rasulullah untuk meluas ke Jaringan internet dengan nama asalnya "Website Majelis Rasulullah".
Semoga Allah memberikan anugerah kemudahan pada Hb Munzir Almusawa untuk terus menjadi Khadim Nabinya saw, memberikan padanya kesehatan Jasmani dan Rohani, dan selalu membimbingnya di Jalan yang di Ridhoi Allah swt, dan juga melimpahkan Anugerah Agung pada para aktifis Majelis Rasulullah khususnya, dan semua Pecinta Rasulullah saw pada umumnya, Amin.

Sumber :
1.www.Majelisrasulullah.org

Data Akurat Wahhabi Pengikut Dajjal

Written By Rudi Yanto on Kamis, 25 Juli 2013 | 7/25/2013


Sumber :http://warkopmbahlalar.com
Rabu, 8 Mei, 2013, 13:39
Membaca artikel ustadz Ibnu Abdillah yang mengkaji hadits-hadits tentang keterkaitan khowarij dengan dajjal dan membuahkan hasil yang cukup akurat bahwa kaum wahhabi kelak akan menjadi pengikut dajjal, membuat saya tertarik untukmengkaji lebih dalam data-data dan bukti-buktinya.
Semoga artikel ustadz Ibnu Abdillah tersebut membuka mata hati para korban doktrin wahabi dan mau kembali ke ajaran Ahlus sunnah waljama’ah. Dan pada kesempatan ini, saya akan mengetengahkan kepada pembaca data dan bukti tentang ini yang lebih akurat dan valid lagi, sehingga lengkap sudah data dan bukti bahwa kelak kaum wahhabi/salafi akan menjadi pengikut dajjal bersama-sama kaum yahudi.
Kunci informasi tentang hal ini adalah hadits Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut :
يَخْرُجُ نَاسٌ مِنَ اْلمَشْرِقِ يَقْرَؤُونَاْلقُرْانَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ كُلَّمَا قَطَعَ قَرْنٌ نَشَأَ قَرْنٌ حَتَّىيَكُوْنَ آخِرُهُمْ مَعَ اْلمَسِيْخِ الدَّجَّالِ
“ Akan muncul sekelompok manusia dari arah Timur, yang membacaal-Quran namun tidak melewati tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn (kurun /generasi) mereka putus, maka muncul generasi berikutnya hingga generasi akhirmereka akan bersama dajjal “ (Diriwayatkan imam Thabrani di dalamAl-Kabirnya, imam imam Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya dan imam Ahmad di dalammusnadnya)
Dalamriwayat yang lain :
وقال عبد الله بن عمر سمعت رسول الله -صلى اللهعليه وسلم- يقول « يخرج قوم من قبل المشرق يقرءون القرآن لا يجاوز تراقيهم كلماقطع قرن نشأ قرن حتى يخرج فى بقيتهم الدجال
“Abdullah bin Umar berkata : “ Aku telah mendengar Rasulullah shallahu ‘alaihiwa sallam bersabda : “ Akan keluar suatu kaum dari arah Timur yang membaca al-Quran namun tidak melewati kerongkongan mereka, tiap kali putus generasi,maka tumbuhlah generasi berikutnya hingga generasi sisa mereka akan keluar besama dajjal “(HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya )
Dalam hadits panjang tentang kaum khowarij, di akhir disebutkan :
لا يزالون يخرجون حتى يخرج آخرهم مع المسيح الدجال
“Mereka akan terus muncul hingga generasi akhir mereka keluar bersama dajjal “ (Ditakrij oleh imam an-Nasai danal-Bazzar)
Kesimpulan pasti hadits-hadits di atas yang tak boleh diingkarinya adalah :
-Kaum khowarij akan memiliki generasi di setiap zamannya
-Generasi akhir kaum khowarij akan menjadi pengikut dajjal
-Ciri-ciri generasi kaum khowarij tersebut antara lain ; Munculnya dari arah Timur, Selalu membaca al-Quran.
Tiga kesimpulan di atas, adalah informasi tetap (nash) dari Nabi yang tidak bisa dingkari dan tidak boleh mengingkarinya.
Sekarang siapakah tepatnya generasi akhir kaum khowarij tersebut yang akan menjadi pengikut dajjal?? Yuk kita simak hadits-hadits lainnya dari Nabi yang telah menginformasikan sifat, karakter dan cirri-ciri mereka itu. Jadi semua ini bukanlah bualan atau sok jadi paranormal yang belagak tahu hal gaib atau masa depan, tapi ini semua murni berdasarkan hadits-hadits Nabi yang sahih.
Ingat kunci ciri-ciri pokok adalah : Senang membaca al-Quran namun tidak melewati kerongkongan mereka, keluar dari arah Timur. (Pegang ini..)
Hadits pertama :
إنَّمِن بعْدِي مِنْ أُمَّتِي قَوْمًا يَقْرَؤُنَ اْلقُرآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَلاَقِمَهُمْيَقْتُلُوْنَ أَهْلَ اْلإسْلاَمِ وَيَدَعُوْنَ أَهْلَ اْلأَوْثَانِ، يَمْرُقُوْنَمِنَ اْلإسْلاَمِ كمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مَنَ الرَّمِيَّةِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْلَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ
“ Sesungguhnya setelahwafatku kelak akan ada kaum yang pandai membaca al-Quran tetapi tidak sampaimelewati kerongkongan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala, mereka lepas dari Islam seperti panah yang lepas daribusurnya seandainya (usiaku panjang dan) menjumpai mereka (kelak), maka aku akan memerangi mereka seperti memerangi (Nabi Hud) kepada kaum ‘Aad “.(HR. Abu Daud, kitab Al-Adab bab Qitaalul Khawaarij : 4738)
Penjelasan: Dalam hadits ini setelah Nabi menyebutkan ciri pokoknya yaitu suka membaca al-Quran, nabi menambahkan cirriselanjutnya yaitu ; Memerangi orang Islam dan membiarkan kaum kafir. Ciri ini juga ada pada kaum khowarij yang pertama..
Melihatsejarah kaum wahhabi di awal, sangat jelas bahwa mereka penuh dengan pertumpahan darah dengan selalu memerangi kaum muslimin yang mereka anggap menyimpang dari ajaran mereka, di antara muslimin yang mereka bunuh adalah seorang amir Uyainah yaitu Ustman bin Mu’ammir yang mereka bunuh di dalam masjid,setelah sholat jum’at dan masih di tempat sholatnya di hari jum’at yang mulia. Tanpa rasa takut kepada Allah, tanpa memandang hari yang mulia, tanpa memandang tempat yang mulia bahkan di rumah Allah, tanpa takut mengotori masjid dengan najis darah dan perbuatan nista, dengan bangganya mereka membunuh Ustman bin Mu’ammir tersebut..
Tapi sekarang kita lihat sikap wahabi kepada kaum kafir..! tidak ada satu kalimat pun sejarahnya sejak awal kemunculannya hingga kini mereka berani memerangi kaum kafir, malah sekarang semakin terlihat jelas kekaraban mereka bersama kaum kafir dan yahudi..
Maka jelas, hadits di atas sesuai dengan sifat dan cirri-ciri kaum wahhabi karena memang mereka lah yang Nabi maksudkan tidak ada lainnya..
Hadits kedua :
سَيَكُونُفِى أُمَّتِى اخْتِلاَفٌ وَفُرْقَةٌ قَوْمٌ يُحْسِنُونَ الْقِيلَ وَيُسِيئُونَالْفِعْلَ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَالدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ لاَ يَرْجِعُونَ حَتَّى يَرْتَدَّعَلَى فُوقِهِ هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ طُوبَى لِمَنْ قَتَلَهُمْوَقَتَلُوهُ يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ مَنْقَاتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا سِيمَاهُمْ قَالَ : التَّحْلِيقُ
“ Akan ada perselisihan dan perseteruan pada umatku, suatu kaum yang memperbagus ucapan dan memperjelek perbuatan, mereka membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan, mereka lepas dari Islam sebagaimana anak panah lepas dari busurnya, mereka tidak akankembali (pada Islam) hingga panah itu kembali pada busurnya. Mereka seburuk-buruknya makhluk. Beruntunglah orang yang membunuh mereka atau dibunuhmereka. Mereka mengajak pada kitab Allah tetapi justru mereka tidak mendapatbagian sedikitpun dari Al-Quran. Barangsiapa yang memerangi mereka, maka orangyang memerangi lebih baik di sisi Allah dari mereka “, para sahabat bertanya “Wahai Rasul Allah, apa cirri khas mereka? Rasul menjawab “ Bercukur gundul “.(SunanAbu Daud : 4765)
Penjelasan: Dalam hadits ini setelah Nabi menyebutkan cirri-ciri pokoknya yaitu suka membaca al-Quran, nabi menambahkan ciri selanjutnya yaitu ; Selalu mengajak kepada al-Quran dan bercukur gundul..
Ciri-ciri berikutnya yang ini, begitu sangat jelas dan kentara, bahwasanya kaum wahhabilah yang selalu gembor-gembor kembali kepada al-Quran kapanpun , di manapun hingga kaum awam pun mengetahui hal ini..subhanallah cirri yang ini Allah tampakkan dengan jelas sejelas-jelasnya kepada mereka untuk kita..kita sering membaca dantemui slogan kaum wahhabi di dalam situs-situs mereka, majalah, bulletin,radio, tv dan media lainnya selalu mereka meneriakkan kembali kepadaal-Quran…cirri ini begitu nyata pada mereka. Cirri ini semakin meyakinkan kita bahwa wahhabilah yang Nabi maksudnya dalam haditsnya tersebut..
Hadits ketiga :
سَيَخْرُجُ فِي آخِرِالزَّمانِ قَومٌ أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ قَوْلَخَيْرِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُوْنَمِنَ الدِّيْنَ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، فَإذَا لَقِيْتُمُوْهُمْفَاقْتُلُوْهُمْ ، فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْراً لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللهِ يَوْمَاْلقِيَامَة
“ Akan keluar di akhirzaman, suatu kaum yang masih muda, berucap dengan ucapan sbeaik-baik manusia(Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka,mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya,maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangimereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.(HR. Imam Bukhari 3342)
Penjelasan: Sebelum Nabi menyebutkan ciri pokoknya, nabi menyebutkan cirri lainnya yaitu kaum yang berusia muda, daya pikirnya lemah dan selalu berucap dengan hadits-hadits Nabi shallahu ‘alaihi wasallam..
Ciri ini juga tampak jelas kepada mereka, di Malaysia justru kaum wahabi disebut kaum mude (kelompok orang berusia muda) yang suka menghujat kaum tue (kelompok ulama terdahulu)..wahabi muncul tidak lama yaitu saat Muhammad bin Abdul wahhab secara terang-terangan mendakwahkan doktrin-doktrin menyimpangnya itu di kurun kedua belas hijriyyah. Istilahnya mereka adalah anak kemaren sore..
Daya pikir mereka juga dungu, lemah dan bodoh, terbukti sering kali salah di dalam memahami nash-nash al-Quran dan hadits Nabi juga ucapan para ulama..sehingga sering kali bertentangan dengan pemahaman mayoritas umat muslim di belahan dunia ini.
Ciri selanjutnya, mereka kaum wahabi juga suka membawakan hadits-hadits Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam..lengkap sudah ciri kaum wahabi selalu mengajakkepada al-Quran dan sunnah…mungkin dalam hati kaum wahhabi mengeluh : “Kenapa sih Nabi memberikan ciri-ciri yang baik seperti itu kepada kaum yang buruk itu ?? “, ya saya Cuma menimpali : “ Agar kaum muslimin tidak mudah tertipu dengan slogan manis kaum wahhabi, agar kaum muslimin tidak tertipu dengan topeng kaum wahhabi “.
Maka sangat jelas, ciri-ciri yang disebutkan oleh Nabi di atas adalah yanthabiqu (terealisasi) kepada kaum wahhabi/salafi, bukan yang lainnya..terlebih Nabi lebih menentukan kembali letak kaum yang memiliki cirri pokok tsb yaitu muncul dari tempat di mana kaum Rabi’ah dan Mudhar berada, renungkan hadits Nabi berikut :
مِنْ هَا هُنَا جَاءَتِ اْلفِتَنُ ، نَحْوَ اْلمَشْرِقِ ، وَاْلجَفَاءُوَغِلَظُ اْلقُلوْبِ فيِ اْلفَدَّادِينَ أَهْلُ اْلوَبَرِ ، عِنْدَ أُصُوْلِ أَذْنَابِاْلإِبِلِ وَاْلَبقَرِ ،فِي رَبِيْعَةْ وَمُضَرً
“Dari sinilah fitnah-fitnah akan bermunculan,dari arah Timur, dan sifat kasar juga kerasnya hati pada orang-orang yang sibuk mengurus onta dan sapi, kaum Baduwi yaitu pada kaum Rabi’ah dan Mudhar “. (HR.Bukhari)
Parabadui yang menggembalakan sapi dan unta ada dan terbanyak sedunia hanya diSaudi Arabiah. Dan tidak bisa menghindar dan mengelak lagi, bahwasanya kaum Rabi’ah dan Mudhar hanya ada di Saudi Arabiah, maka dengan ini semakin mnguatkan keyakinan kita bahwa wahhabi lah yang nabi maksudkan dalam hadits-hadits tersebut.
Setelah data dan bukti akurat saya tampilkan dari hadits-hadits Nabi di atas, makaselanjutnya saya akan membuktikan dengan bukti dan data-data realistisnya yang begitumudah ditemukan yang menyimpulkan keterkaitan kuat kaum wahhabi dengan dajjaldan yahudi.
Bukti pertama : Aqidah wahhabi sama persis dengan akidah Yahudi, untuk hal ini silakan baca artikel saya di blog saya ini :
http://semuatentangwahabi.blogspot.com/2012/07/bukti-kongkrit-akidah-wahabi-salafi.html
Kita tahu bahwasanya termasuk kaum yang menjadi tentara dajjal adalah kaum Yahudi. Kesamaan akidah wahabi dengan akidah yahudi menyebabkan mudah terpengaruhnya mereka dengan yahudi dan dajjal, apalagi sudah dijelaskan oleh ustadz Ibnu Abdillah Al-Katibiy bahwa akidah tajsim mereka yang kelewat batas sangat mampu mempengaruhi mereka bahwa dajjal adalah Allah, bagi mereka Allah sangat mampu melakukan apapun, termasuk memiliki organ tubuh bahkan ulama mereka mengatakan jika Allah berkehendak duduk di punggung nyamuk, maka Allah pasti akanmelakukan hal itu..apalagi kalau hanya membentuk dalam rupa dajjal yang sangatmuda Allah lakukan menurut mereka…
Oleh sebab ini Nabi mewanti-wanti kepada kita :
إني حدثتكم عن الدجال، حتى خشيت أن لا تعقلوا
“ Sesungguhnya aku ceritkan pada kalian tentang dajjal, karena aku khawatir kalian tidak bisamengenalinya…..”
Lihat bagaimana Nabi mengatakan takut umatnya tidak bisa mengenali dajjal, tidak bisa mengetahui dajjal, bagi kaum Ahlus sunnah sulit terpengaruh dengan dajjalmelalui hal ini, sedangkan wahhabi sungguh sangat mudah terpengaruh dengandajjal dengan cara ini karena kita tahu wahhabi beraqidah tasybiih bahkan sampai taraf tajsim kepada Allah Ta’alaa..
Bukti Kedua : Simbol-simbol dajjal menjadi trend dan syi’ar kaum wahhabi di manapun mereka berada dan diberbagai aspek, khusunya di Saudi Arabiah. Sangat mudah kita temukan simbol-simboldajjal yang dipasang oleh kaum wahhabi, mustahil hal ini terjadi jika hanya kebetulan saja..
Simbol mata satu. Simbol ini adalah simbol dari dajjal atau Anti kristus. Simbol ini pun menjadi simbol ritual Fremasonry yaitu perkumpulan rahasia yang menanti-nanti kedatangan dajjal dan pemuja dajjal.
Simbol mata satu ternyata banyak ditemukan di Negara yang katanya paling bertauhid yaitu Saudi Arabia khususnya di Najd tempat munculnya kaum khowarij pertama dan tempat munculnya kaum wahhabi.
Perhatikan simbol-simbol wahhabi di bawah ini :
Data Akurat Wahhabi Pengikut Dajjal
Artikel no 48 oleh Shofiyyah

Hikmah Nuzulul Qur'an


Wahai saudaraku para perindu surga yang dirahmati Allah….

Puji syukur Al-hamdulillah, bahwa kita semua masih dikaruniai umur yang panjang oleh Allah SWT, sehingga pada tahun ini kita masih dipertemukan kembali dengan bulan yang sangat mulia, bulan agung yang terhampar lautan rahmat dan ampunan Allah. Bulan tempat mensucikan diri dari segala noda dosa. Tempat seorang hamba untuk lebih mendekatkan diri kepada sang Penciptanya, yakni bulan suci Ramadhan.

Dalam rangka kita memperingati Nuzulul Qur’an (bulan turunnya A-Qur’an) mari kita simak firman Allah SWT, dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 yang berbunyi ;

تلك الأيام { شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن } من اللوح المحفوظ إلى السماء الدنيا في ليلة القدر منه { هدى } حال هاديا من الظلالة { للناس وبينات } آيات واضحات { من الهدى } بما يهدي إلى الحق من الأحكام { و } من { الفرقان } بما يفرق بين الحق والباطل { فمن شهد } حضر { منكم الشهر فليصمه ومن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر }

Hari-hari tersebut adalah (bulan Ramadan yang padanya diturunkan Alquran) yakni dari Lohmahfuz ke langit dunia di malam lailatulkadar (sebagai petunjuk) menjadi 'hal', artinya yang menunjukkan dari kesesatan (bagi manusia dan penjelasan-penjelasan) artinya keterangan-keterangan yang nyata (mengenai petunjuk itu) yang menuntun pada hukum-hukum yang hak (dan) sebagai (pemisah) yang memisahkan antara yang hak dengan yang batil. (Maka barang siapa yang menyaksikan) artinya hadir (di antara kamu di bulan itu, hendaklah ia berpuasa dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan, lalu ia berbuka, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari yang lain)

Ayat ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa puasa dan Al-Qur’an memiliki kaitan yang sangat erat. Allah turunkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan, di bulan ini pula Allah mewajibkan kita berpuasa. Puasa yang merupakan ibadah pengendalian diri atas hawa nafsu dan syahwat, merupakan hakikat spiritual dalam diri manusia. Ini berarti ; jiwa, ruh, dan pemikiran manusia pada bulan Ramadhan akan menghindari tuntutan-tuntutan jasmani.

Dalam kondisi seperti ini, ruh manusia berada pada puncak kejernihannya, karena ia tidak disibukkan oleh syahwat dan hawa nafsunya. Ketika itulah ia dalam keadaan paling siap untuk memahami dan menerima ilmu dari Allah SWT. Karena itu bagi Allah SWT, membaca Al-Qur’an merupakan ibadah yang paling utama di bulan Ramadhan yang suci ini.

Ramadhan dan Al-Qur’an adalah dua kenikmatan yang tak ternilai, yang diberikan Allah kepada kita. Keduanya adalah kenikmatan yang saling berkaitan dan saling melengkapi, dan seolah tak terpisahkan antara yang satu dengan yang lain. Keduanya akan menjadi penolong kita di akhirat kelak, sebagaimana sabda Rasulullah saw,: “Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafa’at kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata,:”Ya Rabb, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwat di siang hari, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya”.  Sedangkan Al-Qur’an akan berkata : “Ya Rabb, aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya”. Maka Allah memperkenankan keduanya memberikan syafa’at”. (HR. Ahmad dan Thabrani).

Karena itulah, di bulan Ramadhan seperti ini, orang-orang shaleh terdahulu begitu dekat dengan Al-Qur’an. Perilaku dan perbuatan mereka yang tidak lepas dari AlQur’an, bisa menjadi nasehat bagi  kita.

Wahai saudaraku para perindu surga yang dirahmati Allah….

Bulan Ramadhan  merupakan bulan yang di dalamnya terlimpah berjuta ni'mat, dimana Allah telah turunkan  Al-Qur'an dan perintahkan kewajiban berpuasa, pada bulan ini pula Allah turunkan anugerah "lailatul qadar". Hal ini Allah telah terangkan dalam Surat Al-Qadr yang berbunyi :

1- { إنا أنزلناه } أي القرآن جملة واحدة من اللوح المحفوظ إلى السماء الدنيا { في ليلة القدر } أي الشرف العظيم

1. (Sesungguhnya Kami telah menurunkannya) yaitu menurunkan Alquran seluruhnya secara sekali turun dari lohmahfuz hingga ke langit yang paling bawah (pada malam kemuliaan) yaitu malam Lailatulkadar, malam yang penuh dengan kemuliaan dan kebesaran.

2 - { وما أدراك } أعلمك يا محمد { ما ليلة القدر } تعظيم لشأنها وتعجيب منه

2. (Dan tahukah kamu) Hai Muhammad (apakah malam kemuliaan itu?) ungkapan ini sebagai pernyataan takjub atas keagungan yang terdapat pada Lailatulkadar.

3 - { ليلة القدر خير من ألف شهر } ليس فيها ليلة القدر فالعمل الصالح فيها خير منه في ألف شهر ليست فيها

3. (Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan) yang tidak ada malam lailatulkadarnya; beramal saleh pada malam itu pahalanya jauh lebih besar dan lebih baik daripada beramal saleh yang dilakukan selama seribu bulan yang tidak mengandung malam lailatulkadar.

4 - { تنزل الملائكة } بحذف إحدى التاءين من الأصل { والروح } أي جبريل { فيها } في الليلة { بإذن ربهم } بأمره { من كل أمر } قضاه الله فيها لتلك السنة إلى قابل ومن سببه بمعنى الباء

4. (Turunlah malaikat-malaikat) bentuk asal dari lafal Tanazzalu adalah Tatanazzalu, kemudian salah satu huruf Ta-nya dibuang, sehingga jadilah Tanazzalu (dan Ar-Ruh) yakni malaikat Jibril (di malam itu) artinya pada malam kemuliaan/lailatulkadar itu (dengan izin Rabbnya) dengan perintah dari-Nya (untuk mengatur segala urusan) atau untuk menjalankan ketetapan Allah buat tahun itu hingga tahun berikutnya, hal ini terjadi pada malam kemuliaan itu. Huruf Min di sini bermakna Sababiyah atau sama artinya dengan huruf Ba; yakni mereka turun dengan seizin Rabbnya dengan membawa segala urusan yang telah menjadi ketetapan-Nya untuk tahun itu hingga tahun berikutnya.

5 - { سلام هي } خبر مقدم ومبتدأ { حتى مطلع الفجر } بفتح اللام وكسرها إلى وقت طلوعه جعلت سلاما لكثرة السلام فيها من الملائكة لا تمر بمؤمن ولا بمؤمنة إلا سلمت عليه

5. (Malam itu penuh dengan kesejahteraan) lafal ayat ini sebagai Khabar Muqaddam atau Khabar yang didahulukan, sedangkan Mubtadanya ialah (sampai terbit fajar) dapat dibaca Mathla'al Fajri dan Mathla'il Fajri, artinya hingga waktu fajar. Malam itu dinamakan sebagai malam yang penuh dengan kesejahteraan, karena para malaikat banyak mengucapkan salam, yaitu setiap kali melewati seorang mukmin baik laki-laki maupun perempuan mereka selalu mengucapkan salam kepadanya.

Lailatul Qadar yang Allah sebutkan sebagai malam yang lebih mulia dari seribu bulan adalah merupakan puncak keutamaan bulan Ramadhan. Rasulullah saw, mengajarkan kepada kita dengan sabdanya :

و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رِجَالًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

Dan Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata, saya telah membacakan kepada Malik dari Nafi' dari Ibnu Umar radliallahu 'anhuma bahwa seorang laki-laki dari sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bermimpi bahwa Lailatul Qadar terdapat pada tujuh hari terakhir (dari bulan Ramadlan). Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku juga bermimpi seperti mimpimu itu, melihat Lailatul Qadr itu jatuh bertepatan pada tujuh hari terakhir bulan Ramadlan. Maka siapa yang mencarinya, carilah dalam tujuh hari terakhir itu."

و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

Dan Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya ia berkata, saya telah membacakan kepada Malik dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar radliallahu 'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Carilah Lailatul Qadar pada tujuh malam terakhir (dari bulan Ramadlan)."

Seperti  apa ciri seseorang yang mendapatkan Lailatul Qadar ? Diantara ciri orang yang mendapatkan Lailatul Qadar ialah sebagaimana fitrah yang ada pada diri manusia, ia menghendaki segala kebaikan, suara kalbunya semakin tajam dan fitrah keilahianyang ada pada diri manusia akan berfungsi lebih tajam. Dari situlah perubahan hidup akan bermula. Pada malam itu merupakan titik awal perubahan baru dalam hidup untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan selanjutnya selama Ramadhan.

Sesuai namanya, al-Qadar yang berarti ukuran, pengaturan, ketentuan; maka Lailatul Qadar adalah malam penentuan bagi kesempurnaan ukuran kualitas pribadi dan pengaturan program dari suara hati. Jika seseorang tergerak hatinya untuk melakukan perbaikan sosial misalnya, lailatul qadar pertamanya adalah malam penentuan untuk perbaikan dirinya sendiri, dan upaya perbaikan diri akan tampak pada sebelas bulan setelahnya. Pada Ramadhan berikutnya, jika ia berhasil ia akan menemui malam penentuan baru untuk hal baru yang kemudian untuk dilaksanakan setelah Ramadhan. Begitu secara terus menerus hingga suara hati itu menjadi jalan hidupnya. Seorang shaleh menasehatkan : “Jika engkau ingin tahu apakah dirimu telah mendapatkan lailatul Qadar, maka lihatlah perubahan perilakumu setelah Ramadhan”

Wahai saudaraku para perindu surga yang dirahmati Allah….

Sisi lain diturunkannya Al-Qur'an adalah sebagai penyadaran bagi umat bahwa Al-Qur'an merupakan petunjuk yang sempurna dan paripurna bagi orang-orang yang bertaqwa. Allah SWT, berfirman dalam (QS. Al-Baqarah: 2). Yang berbunyi :

{ ذلك } اي هذا { الكتاب } الذي يقرؤه محمد { لا ريب } ولاشك { فيه } أنه من عند الله وجملة النفي خبر مبتدؤه ذلك والإشارة به للتعظيم { هدى } خبر ثان أي هاد { للمتقين } الصائرين إلى التقوى بامتثال الأوامر واجتناب النواهي لاتقائهم بذلك النار

(Kitab ini) yakni yang dibaca oleh Muhammad saw. (tidak ada keraguan) atau kebimbangan (padanya) bahwa ia benar-benar dari Allah swt. Kalimat negatif menjadi predikat dari subyek 'Kitab ini', sedangkan kata-kata isyarat 'ini' dipakai sebagai penghormatan. (menjadi petunjuk) sebagai predikat kedua, artinya menjadi penuntun (bagi orang-orang yang bertakwa) maksudnya orang-orang yang mengusahakan diri mereka supaya menjadi takwa dengan jalan mengikuti perintah dan menjauhi larangan demi menjaga diri dari api neraka.

Sebagai petunjuk kehidupan, mestinya Al-Qur'an kita jadikan sebagai pengarah langkah dan pijakan dalam segala kehidupan kita, sebagai parameter serta barometer dalam segala amal perbuatan  kita. Karena Allah telah menegaskan bahwa petunjuk Al-Qur'an lah yang paling "terjamin" segala kesempurnaannya, mengatur masalah syariat dan tata cara pelaksanaannya, (QS. Al-Maidah: 48,50)

Namun sayang, banyak kita saksikan umat Islam kembali kepada Al-Qur'an setelah mengalami berbagai krisis kehidupan. Al-Qur'an hanya dijadikan pelarian ketika tidak ada lagi "cara pemecahan" lainnya. Ini berarti Al-Qur'an yang asalnya adalah "cahaya kehidupan" yang harus kita letakkan di depan langkah kita, baru diambil cahaya itu ketika "tersandung dan jatuh". Kalau kita ingin sukses dunia akhirat, Al-Qur'an harus selalu ada di depan kita, kita jadikan imam kita dan memandu seluruh amal perbuatan kita.



Mengapa kita harus berpedoman pada Al-Quran?

Pertama, karena Al-Qur'an memuat segala aturan dan permasalahan kehidupan kita, dan jawabannya atas segala sisi kehidupan manusia.

Hal ini sangat logis karena Al-Qur'an diturunkan oleh Sang Maha Pencipta, Yang Maha Mengetahui seluruh ciptaan-Nya dan segala seluk-beluknya yang sangat rinci. Sehingga hanya Allah-lah yang paling pantas menentukan aturan kehidupan ini.

Kedua, Al-Qur'an adalah juklak kehidupan yang terjamin orisinalitasnya. Sebagai perundang-undangan kehidupan, Al-Qur'an satu-satunya  kitab yang tahan uji dan tahan terhadap berbagai upaya untuk menyelewengkan atau merusak Al-Qur'an. Sebagaimana janji atau komitmen Allah bahwa, :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

 Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.  (QS. Al-Hijr : 9). [Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al-Qur’an selama-lamanya].

Allah ‘Azza waJalla berfirman :

لا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

"...Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur'an) kebathilan, baik dari depan maupun dari belakang"        (QS. Fushshilat : 42).

Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang membatalkan ayat-ayat Alquran, baik yang membatalkan itu kitab-kitab Allah SWT yang terdahulu, seperti Taurat, Zabur, dan Injil dan tidak satupun kitab Allah yang datang setelah Alquran itu. Arti ini sesuai dengan pendapat Said bin Jubair dan Al Kalbi. Pada akhir ayat ini diterangkan bahwa seluruh Alquran itu adalah benar, tidak ada yang salah sedikit pun, karena Alquran itu berasal dari Allah, Tuhan semesta alam. Semua yang berasal dari Allah adalah benar belaka, tidak ada satu pun yang kurang, yang salah atau tidak sempurna, Dia Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.

Komitmen Allah ini dibuktikan dengan adanya mukjizat Al-Qur'an yang mudah dihafal, mudah dipahami dan diamalkan. Demikian juga banyak kita lihat ulama tafsir dan hafidz maupun hafidzah yang selalu menjaga kemurnian Al-Qur'an. Sehingga bila ada satu huruf yang diganti, pasti Allah akan membeberkan kejahatan orang-orang yang mencoba merusak Al-Qur'an lewat kecermatan para penghafal kalamullah tersebut..

Ketiga,  Al-Qur'an lah satu-satunya undang-undang kehidupan yang paling pas bagi manusia dan segenap semesta raya. Karena Al-Qur'an telah menjamin bagi orang berpijak di atasnya dengan benar, tidak akan sesat selamanya. Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

"Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus" 

(Al-Isra': 9)



Rasulullah SAW bersabda,
"Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara yang apabila berpegang kepadanya niscaya tidak akan tersesat selamanya, yaitu Al-Qur'an dan Sunah".

Al-Qur'an mampu menjawab pertanyaan besar yang ada dalam setiap pikiran manusia, min aina...ilaa ainaa...limadzaa? Dari mana kita berasal? Hendak kemana? Dan untuk apa kita hidup di dunia ini? Di dalam Al-Qur'an dipaparkan arah dan tujuan kehidupan, sejarah umat masa lalu dan prediksi (gambaran) kehidupan masa depan, berbagai peristiwa-peristiwa besar dalam kehidupan dan seluruh yang dibutuhkan. Kehidupan bermuamalah, social, ekonomi, hukum, maupun ubudiyyah, semuanya ada dalam Al-Qur'an.

Allah Ta'ala berfirman,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

"Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk ( Al-Qur'an) dan dienul haq (Agama Islam), agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama, meskipun orang-orang musyrik membencinya" (Ash-Shaff: 9).

Wahai saudaraku para perindu surga yang dirahmati Allah….

Ada beberapa hal yang perlu dicatat oleh setiap muslim tentang keutamaan Al-Qur'an, keutamaan membaca dan menghafalnya. Dalam rangka meningkatkan iman dan cinta kita kepada Al-Qur'an pada khususnya, serta Al-Islam secara keseluruhan.

a.       Al-Qur'an adalah kitab yang diberkahi (mubarak), pemberi cahaya (nuur), pembeda antara haq dan bathil (furqan), obat penyakit hati dan jiwa (syifa'ul limaa fish-shuduur), penjelas segala persoalan (al-bayan), petunjuk (al-huda) dan masih banyak nama Al-Qur'an sesuai fungsinya.



b.      Ahli Qur'an adalah sebaik-baik manusia.

عن أَبي أُمامَةَ رضي اللَّه عنهُ قال : سمِعتُ رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقولُ : " اقْرَؤُا القُرْآنَ فإِنَّهُ يَأْتي يَوْم القيامةِ شَفِيعاً لأصْحابِهِ " رواه مسلم .

Dari Abu Umamah r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bacalah olehmu semua akan al-Quran itu, sebab al-Quran itu akan datang pada hari kiamat sebagai sesuatu yang dapat memberikan syafaat - yakni pertolongan - kepada orang-orang yang mempunyainya." (Riwayat Muslim)

Maksud  mempunyainya ialah membaca al-Quran yang dilakukan dengan mengingat-ingat makna dan kandungannya lalu mengamalkan isinya, mana-mana yang merupakan perintah dilakukan dan yang merupakan larangan dijauhi. 

وعن عثمانَ بن عفانَ رضيَ اللَّه عنهُ قال : قالَ رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : " خَيركُم مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعلَّمهُ .  رواه البخاري .

Dari Usman bin Affan r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sebaik-baik engkau semua ialah orang yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya pula." (Riwayat Bukhari)

Orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur'an adalah sebaik-baik generasi, yakni generasi rabbani qur'ani, Allah Ta'ala berfirman, :

وَلَكِن كُونُواْ رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ

"Jadilah kalian orang-orang (generasi) rabbani (generasi yang sempurna iman dan taqwanya), karena kalian senantiasa mengajarkan Al-Qur'an dan disebabkan kalian senantiasa mempelajarinya"

 (Ali Imran: 79).

c.       Ahli Qur'an digolongkan sebagai keluarga Allah.

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah mempunyai dua keluarga di antara manusia". Mereka bertanya, "Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?" Beliau bersabda, "Ahli Qur'an adalah keluarga Allah dan orang-orang yang khusus (pilihan)" (HR. Nasa'i, Ahmad dan Ibnu Majah).

d.      Menduduki kedudukan sesuai akhir ayat yang dibacanya.

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الْحَفَرِيُّ وَأَبُو نُعَيْمٍ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ أَبِي النَّجُودِ عَنْ زِرٍّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ حَدَّثَنَا بُنْدَارٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَاصِمٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Abu Daud Al Hafari dan Abu Nu'aim dari Sufyan dari 'Ashim bin Abu Najud dari Zirr dari Abdullah bin 'Amru dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Kelak akan dikatakan kepada ahli Al Qur`an; Bacalah dan naiklah, kemudian bacalah dengan tartil sebagaimana kamu membacanya ketika di dunia, karena sesungguhnya tempatmu ada pada akhir ayat yang kamu baca." Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih. Telah menceritakan kepada kami Bundar telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Sufyan dari 'Ashim dengan sanad dan maksud yang sama.



Wahai saudaraku para perindu surga yang dirahmati Allah….

Mari kita merenung sejenak. Ramadhan telah datang dan sekarang kita semua berada di dalamnya. Hari demi hari selanjutnya akan silih berganti, dan tanpa terasa Ramadhan kembali akan meninggalkan kita. Akankah kita  menyesal kembali seperti tahun-tahun lalu. Sungguh kesalahan yang besar apabila kesalahan yang sama kembali terulang. Yang demikian itu kata Rasulullah bukanlah sifat seorang mukmin.

Marilah kita maksimalkan aktivitas ibadah kita pada Ramadhan ini, agar kesalahan-kesalahan kita di Ramadhan yang lalu tidak kita ulangi lagi pada Ramadhan berikutnya. Sebab Ramadhan adalah musim semi bagi sebuah pohon taqwa, setelah selama sebelas bulan lalu daun-daunnya berguguran ditimpa kemarau ibadah. Ranting-rantingnya nyaris patah diterpa angin maksiat. Ramadhan datang untuk mngembalikan keindahan pohon taqwa, dengan memberikan naungan berjuta kebaikan, serta memberi buah ibadah sepanjang musim dengan izin Rabb-nya. Sehingga memungkinkan kita berada dalam keadaan taqwa sepanjang tahun yang akan datang.

Seorang ulama besar Imam Malik memberikan contoh kepada kita, apa yang ia lakukan jika telah memasuki Ramadhan. Beliau menutup kitab-kitabnya, tidak berfatwa dan tidak melayani berdiskusi dengan orang lain. Ia hanya mengambil Al-Qur’an dan berkata, “Bulan ini adalah bulan Ramadhan, bulannya Al-Qur’an” ia lalu pergi ke masjid dan menetap di dalamnya, memperbanyak shalat, tilawah dan dzikir sampai bulan Ramadhan berlalu. Lihat pula Imam Ahmad ra. Apabila Ramadhan tiba, lelaki alim yang tekun beribadah ini memasuki masjid dan menetap di dalamnya. Di sana ia bertasbih dan beristighfar. Setiap kali wudhunya batal ia segera memperbaharui wudhunya, ia tidak pernah pulang ke rumahnya kecuali untuk makan, minum dan tidur. Ia berkata, “Bulan ini adalah bulan yang akan menghapus dosa-dosa, kami tidak ingin menyamakannya dengan bulan-bulan yang lain yang terkadang kami isi dengan perbuatan maksiat, salah dan dosa.”

Imam Malik dan Imam Ahmad melakukan itu karena mereka sadar, bahwa Ramadhan itu sangat mahal dan terbatas, sebatas hidup mereka di dunia. Mereka harus beribadah lebih banyak di bulan itu supaya tidak menyesal karena kehilangan kesempatan yang sangat berharga. Bagaimana dengan kita ?
 
Contact Support: Twitter | Facebook
Copyright © 2012. AL-MUSABBIHIN - All Rights Reserved
Published by TakadaTapiono Creative