MASJID AL-MUSABBIHIN

MASJID AL-MUSABBIHIN
Sumber Dakwah dan Informasi DKM AL-MUSABBIHIN PERUM KOMPAS INDAH TAMBUN
Latest Post

Fatwa-Fatwa Ulama Tentang Tarawih 20 Rakaat

Written By Rudi Yanto on Senin, 23 Juni 2014 | 6/23/2014


Fatwa-Fatwa Ulama Tentang Tarawih 20 Rakaat
1. Fatwa Syaikh Jalaluddin al-Suyuthi
(al-Hawi lil Fatawa II/13. Tema: al-Mashabih fi Shalat al-Tarawih)

      Segala puji bagi Allah. Semoga kedamaian selalu dilimpahkan kepada para hamba pilihan-Nya. Wa ba’du:
      Saya telah ditanya berkali-kali tentang apakah Nabi Muhammad Saw melakukan salat tarawih sebanyak 20 rakaat seperti yang ada saat ini? Saya akan menjawab dengan penuh kemantapan dalam masalah ini.
      Menurut pendapat saya (al-Suyuthi), 
yang pertama, hadis-hadis yang bernilai sahih, hasan atau dlaif kesemuanya menganjurkan untuk melakukan ibadah di malam bulan Ramadlan tanpa menyebut bilangan rakaatnya. Tidak ada penjelasan dari hadis sahih yang menyatakan Rasulullah Saw salat sebanyak 20 rakaat, beliau hanya salat beberapa malam saja tanpa menyebut bilangan rakaatnya, kemudian pada malam yang keempat beliau tidak datang ke masjid karena khawatir salat tersebut dianggap wajib, sehingga mereka tidak mampu melaksanakannya.
     
Sebagian ulama ada yang menggunakan sebuah hadis sebagai penguat bilangan tarawih 20 rakaat, sementara hadis tersebut tidak layak untuk dijadikan dalil. Hadis tersebut akan saya tampilkan dan saya jelaskan kedlaifannya. Hadis tersebut adalah:
رَوَى ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ فِي مُصَنَّفِهِ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيْدُ أَنْبَأَنَا أَبُو شَيْبَةَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ عُثْمَانَ عَنِ الْحَكَمِ عَنْ مِقْسَمٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً وَالْوِتْرَ.

 “Dari Ibnu Abbas diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw salat di bulan Ramadlan sebanyak 20 rakaat, dan (ditambah) salat witir.”
(Hadis tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Mushannaf-nya (No. Hadis 7692), juga oleh Abd bin Hamid dalam musnadnya (No. Hadis 653), juga oleh al-Baghawi dalam kitab al-Mu’jamnya, juga oleh al-Thabrani[1] (al-Mu’jam al-Kabir No. Hadis 11934 dan al-Ausath No. Hadis 5440), kesemuanya dari jalur Abu Syaibah Ibrahim bin Utsman). 
      Saya (al-Suyuthi) berpendapat bahwa hadis ini sangat lemah dan tidak dapat dijadikan dalil. Al-Dzahabi berkata dalam kitab Mizan al-I’tidal: Ibrahim bin Utsman dinilai dusta oleh Syu’bah, Yahya bin Ma’in menilainya: Dia bukan orang yang bisa dipercaya, Ahmad bin Hanbal menilainya sebagai perawi yang dlaif, Imam Bukhari berkata: Ulama mendiamkannya, al-Nasa’i berkata: Dia hadisnya ditinggalkan. Al-Dzahabi dan al-Muzani menilai sebuah hadis dari Ibrahim bin Utsman yang menyatakan bahwa ‘Rasulullah Saw melakukan salat 20 rakaat di luar jamaah’ sebagai hadis munkar. Oleh karena itu, jika seorang perawi sudah disepakati penilaiannya sebagai perawi dlaif oleh para ulama, maka perawi tadi tidak dapat dijadikan sebagai hujjah.
      Yang kedua, telah termaktub dalam sahih al-Bukhari bahwa Aisyah ditanya mengenai ibadah malam yang dilakukan oleh Rasulullah selama Ramadlan, Aisyah menjawab:

مَا كَانَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
‘Nabi Saw tidak pernah menambah dari bilangan 11 rakaat, baik di bulan Ramadlan atau bulan lainnya’ (HR al-Bukhari No. Hadis 2013 dan 3569).[2]
      Yang ketiga, telah termaktub pula dalam kitab sahih al-Bukhari dari Umar bin Khattab, beliau berkata: ‘Salat Tarawih ini adalah sebaik-baiknya bid’ah, dan salat yang dilakukan setelah tidur hukumnya lebih utama.’ (HR al-Bukhari No. Hadis 2010).
      Sayidina Umar menyebut salat Tarawih ini dengan ‘bid’ah’ dikarenakan tata cara salat Tarawih secara berjamaah di masjid dengan satu imam tidak dilakukan di masa Rasulullah Saw. Para ulama termasuk Imam Syafi’i dan ‘Izzuddin bin Abd al-Salam membagi bid’ah menjadi 5 macam, yaitu bid’ah wajib, haram, mubah, sunah dan makruh, sedangkan salat tarawih tersebut masuk kategori bi’dah yang sunah.
      Dalam kitab Manaqib al-Syafi’i (biografi Imam Syafi’i), al-Baihaqi berkata: Sesuatu yang baru ada dua macam. Pertama, sesuatu tersebut bertentangan dengan al-Quran, al-Hadis, atsar sahabat, atau ijma’ (konsensus) ulama, inilah yang disebut bid’ah yang menyesatkan.  Kedua, sesuatu yang baru namun memiliki nilai kebaikan, ini adalah bid’ah yang tidak tercela. Oleh sebab itu, Sayidina Umar menyebut salat Tarawih sebagai bid’ah.
      Al-Baihaqi meriwayatkan dalam kitab Sunan-nya (No. Hadis 4801) dengan sanad yang sahih bahwa:
عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ
فِى شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً
 ‘Diriwayatkan dari Saib bin Yazid (seorang sahabat Rasul), ia berkata bahwa umat Islam di masa Umar bim Khattab melaksanakan ibadah malam di bulan Ramadlan sebanyak 20 rakaat’.[3]
      Yang keempat, para ulama berbeda pendapat mengenai bilangan rakaat salat Tarawih. Seandainya bilangan rakaat Tarawih telah ditetapkan oleh Rasulullah saw, maka tidak akan terjadi perbedaan pendapat sebagaimana Nabi Saw. menjelaskan bilangan rakaat salat witir, salat sunah Rawatib dan sebagainya. Menurut riwayat Aswad bin Yazid jumlah rakaat Tarawih adalah 40 rakaat. Sementara menurut Imam Malik jumlah Tarawih adalah 36 rakaat selain salat witir. Hal ini didasarkan pada riwayat Nafi’: 
أَدْرَكْتُ النَّاسَ وَهُمْ يَقُوْمُوْنَ رَمَضَانَ بِتِسْعٍ وَثَلَاثِيْنَ رَكْعَةً يُوْتِرُوْنَ مِنْهَا بِثَلَاثٍ.
‘Saya menjumpai umat Islam melakukan ibadah malam di bulan Ramadlan sebanyak 39 rakaat, dan yang 3 rakaat adalah salat witir.’
      Yang kelima, disunahkan bagi penduduk Madinah untuk melakukan salat Tarawih sebanyak 36 rakaat, untuk menyamai pahala penduduk Makkah. Bagi umat Islam yang melakukan Tarawih di Makkah, mereka bisa melakukan Tawaf setiap selesai 2 kali salam sekaligus dapat melakukan salat sunah Tawaf 2 rakaat. Kemudian umat Islam yang berada di Madinah ingin mendapatkan pahala yang sama dengan yang ada di Makkah, maka mereka mengganti posisi setiap Tawaf dengan 4 rakaat salat (sehingga mereka menambah 16 rakaat, yang secara keseluruhan menjadi 36 rakaat). Dan seandainya bilangan salat Tarawih ditentukan dalam sebuah hadis, maka sudah pasti penduduk Madinah tidak akan menambah rakaat Tarawih menjadi 36 rakaat. Padahal masyarakat di Madinah saat itu adalah orang-orang menjauhkan diri dari hal-hal yang terlarang (wira’i).[4]
      Siapapun yang telah menelaah kitab-kitab madzhab, khususnya kitab Syarh al-Muhadzdzab [5](al-Majmu’ karya Imam al-Nawawi), menganalisa alasan-alasan yang terdapat dalam salat Tarawih, seperti tentang bacaannya, waktu pelaksanaannya, dan kesunahan melakukan Tarawih secara berjamaah, maka ia akan memperoleh ilmu yang mantap bahwa seandainya ada sebuah hadis marfu’ tentang Tarawih tentu akan dipakai sebagai dalil Tarawih. Inilah jawaban saya mengenai salat Tarawih, Wallahu A’lam.

2. Fatwa Ulama al-Azhar Kairo, Mesir
(Juz I hal. 48. Fatwa dikeluarkan pada 8 September 1955)
Mufti: Syaikh Hasan Ma’mun

Pertanyaan:
      Berapakah bilangan rakaat salat Tarawih, dan manakah yang lebih utama antara membaca al-Quran atau membaca pujian bagi para khalifah di setiap sela-sela duduk istirahat 4 kali rakaat?
Jawaban:
       Sebagaimana termaktub dalam kitab sahih al-Bukhari dan Muslim, Aisyah berkata:
مَا كَانَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
‘Nabi Saw tidak pernah menambah dari bilangan 11 rakaat, baik di bulan Ramadlan atau bulan lainnya’ [6]
      Hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa “Rasulullah Saw salat di bulan Ramadlan sebanyak 20 rakaat selain salat witir” adalah hadis dlaif. Adapun penetapan 20 rakaat salat Tarawih adalah berdasarkan konsensus para sahabat di masa Sayidina Umar. Sementara alasan yang dikemukakan bahwa tidak ada dalil sahih yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw. melakukan salat Tarawih 20 rakaat, tidak bisa dijadikan sebagai penghalang untuk meniadakan hukum sunah melakukan Tarawih 20 rakaat. Sebab Rasulullah Saw memerintahkan kita untuk mengikuti Khulafa’ al-Rasyidin, sebagaimana dalam sabdanya:
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِىْ عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
‘Berpeganglah dengan sunahku dan sunah Khulafa al-Rasyidin yang telah mendapatkan petunjuk setelahku, berpeganglah dengan sangat erat’
(HR Turmudzi No. 2891, Abu Daud No. 4609, Ibnu Majah No. 44, dan Ahmad No. 17608 dari ‘Irbadl bin Sariyah)
Rasulullah Saw juga bersabda:
سَتُحْدَثُ بَعْدِىْ أَشْيَاءُ فَأَحَبُّهَا إِلَىَّ أَنْ تَلْزَمُوْا مَا أَحْدَثَ عُمَرُ
‘Akan ada banyak hal-hal yang baru sesudahku, dan yang paling saya senangi untuk kalian ikuti adalah hal-hal baru yang dilakukan oleh Umar’
(HR. Abu Nuaim dalam kitab Ma’rifah al-Shahabah No. 4968 dan Ibnu ‘Asakir, 44/280 dari ‘Arzab al-Kindy)
      Diriwayatkan dari Abu Yusuf (santri Abu Hanifah): “Saya bertanya kepada Abu Hanifah tentang salat Tarawih dan yang dilakukan oleh Umar. Abu Hanifah menjawab: Tarawih hukumnya adalah sunah muakkad. Umar tidaklah melakukannya berdasarkan inisiatifnya sendiri, dia tidak melakukan perbuatan bid’ah dalam salat Tarawih ini. Umar tidak akan memberi perintah (kepada Ubay bin Ka’b untuk menjadi imam salat Tarawih 20 rakaat) kecuali berdasarkan sebuah dalil yang dia ketahui dari Rasulullah Saw.”
      Selama kita diperintah untuk mengikuti hal-hal baru yang diperbuat oleh para khalifah, khususnya Sayidina Umar, maka salat Tarawih 20 rakaat hukumnya adalah sunah. Dalam hal ini seolah yang memberi perintah adalah Rasulullah, bahkan menurut ulama Ushul Fiqih yang disebut dengan ‘sunah’ adalah setiap hal yang dilakukan oleh Rasulullah Saw, atau salah seorang dari sahabat Rasulullah. Sebab Ijma (konsensus) ulama merupakan bagian dari dalil agama yang harus dipegang.
      Kesimpulannya, Tarawih 20 rakaat adalah sunah Rasulullah Saw.[7] Siapa yang mengatakan bahwa Tarawih 20 rakaat adalah sunah perbuatan Umar, maka pendapat ini ditolak dengan argument di atas. Sebagaimana yang termaktub dalam Fatawa al-Hindiyah, bahwa Tarawih 20 rakaat adalah sunah Rasulullah Saw. Ada juga yang mengatakan sebagai sunah Umar. Dan yang kuat adalah pendapat yang pertama. Ini adalah kesimpulan yang dikutip dari mayoritas ulama Hanafiyah.
Hal yang wajib dipahami bahwa salat Tarawih tidak wajib, agama adalah mudah dan Allah tidak memberikan beban kepada makhluknya kecuali memberikan keleluasaan. ‘Kemudahan’ dari syariat menuntut kepada umat Islam untuk tidak terjerumus ke dalam perselisihan yang mengarah pada sikap merasa ‘paling benar’ dan perilaku keras yang meningkat ke arah keyakinan dan iman. Dengan demikian siapapun yang mampu melakukan salat Tarawih 20 rakaat maka dia telah melakukan hal yang sempurna dan telah melakukan ibadah dengan mendapatkan pahala yang sempurna. Barangsiapa yang tidak mampu melakukan 20 rakaat maka dia boleh melakukan salat Tarawih sesuai kesanggupannya, ia juga akan mendapatkan pahala tetapi tidak secara sempurna, namun orang tersebut tidak menginggalkan hal-hal yang wajib dalam agama.
Dan disunahkan untuk duduk sejenak setiap selesai 4 rakaat, begitu pula antara Tarawih dan Witir. Inilah tatacara yang telah dilakukan oleh ulama salaf sebagaimana salat yang dilaksanakan oleh Ubay bin Ka’b. diriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa kata ‘Tarawih’ diambil dari kata istirahat yang dilakukan di sela-sela antara 4 rakaat Tarawih. Hal yang disunahkan adalah berdiam diri diantara sela-sela rakaat salat, dan tidak ada riwayat dari ulama salaf tentang apa saja yang dibaca di waktu senggang tersebut. Umat Islam di masing-masing negaranya memilih bacaan yang sesuai dengan ‘tradisi’ mereka, ada yang membaca al-Quran, tasbih, salat 4 rakaat sendiri-sendiri, tahlil, takbir, ada juga yang sekedar menunggu tanpa membaca sesuatu.

3. Fatwa Ibnu Taimiyah[8]
(Majmu’ al-Fatawa V/163, Fashl Salat al-Khauf)

وَأَمَّا قُنُوتُ الْوِتْرِ فَلِلْعُلَمَاءِ فِيهِ ثَلَاثَةُ أَقْوَالٍ : قِيلَ : لَا يُسْتَحَبُّ بِحَالِ لِأَنَّهُ لَمْ يَثْبُتْ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَنَتَ فِي الْوِتْرِ . وَقِيلَ : بَلْ يُسْتَحَبُّ فِي جَمِيعِ السَّنَةِ كَمَا يُنْقَلُ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ وَغَيْرِهِ ؛ وَلِأَنَّ فِي السُّنَنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا - دُعَاءً يَدْعُو بِهِ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ وَقِيلَ : بَلْ يَقْنُتُ فِي النِّصْفِ الْأَخِيرِ مِنْ رَمَضَانَ . كَمَا كَانَ أبي بْنُ كَعْبٍ يَفْعَلُ . وَحَقِيقَةُ الْأَمْرِ أَنَّ قُنُوتَ الْوِتْرِ مِنْ جِنْسِ الدُّعَاءِ السَّائِغِ فِي الصَّلَاةِ مَنْ شَاءَ فَعَلَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ . كَمَا يُخَيَّرُ الرَّجُلُ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثِ أَوْ خَمْسٍ أَوْ سَبْعٍ وَكَمَا يُخَيَّرُ إذَا أَوْتَرَ بِثَلَاثِ إنْ شَاءَ فَصَلَ وَإِنْ شَاءَ وَصَلَ . وَكَذَلِكَ يُخَيَّرُ فِي دُعَاءِ الْقُنُوتِ إنْ شَاءَ فَعَلَهُ وَإِنْ شَاءَ تَرَكَهُ وَإِذَا صَلَّى بِهِمْ قِيَامَ رَمَضَانَ فَإِنْ قَنَتَ فِي جَمِيعِ الشَّهْرِ فَقَدْ أَحْسَنَ وَإِنْ قَنَتَ فِي النِّصْفِ الْأَخِيرِ فَقَدْ أَحْسَنَ وَإِنْ لَمْ يَقْنُتْ بِحَالِ فَقَدْ أَحْسَنَ . كَمَا أَنَّ نَفْسَ قِيَامِ رَمَضَانَ لَمْ يُوَقِّتْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهِ عَدَدًا مُعَيَّنًا ؛ بَلْ كَانَ هُوَ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لَا يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا غَيْرِهِ عَلَى ثَلَاثَ عَشْرَةِ رَكْعَةً لَكِنْ كَانَ يُطِيلُ الرَّكَعَاتِ فَلَمَّا جَمَعَهُمْ عُمَرُ عَلَى أبي بْنِ كَعْبٍ كَانَ يُصَلِّي بِهِمْ عِشْرِينَ رَكْعَةً ثُمَّ يُوتِرُ بِثَلَاثِ وَكَانَ يُخِفُّ الْقِرَاءَةَ بِقَدْرِ مَا زَادَ مِنْ الرَّكَعَاتِ لِأَنَّ ذَلِكَ أَخَفُّ عَلَى الْمَأْمُومِينَ مِنْ تَطْوِيلِ الرَّكْعَةِ الْوَاحِدَةِ ثُمَّ كَانَ طَائِفَةٌ مِنْ السَّلَفِ يَقُومُونَ بِأَرْبَعِينَ رَكْعَةً وَيُوتِرُونَ بِثَلَاثِ وَآخَرُونَ قَامُوا بِسِتِّ وَثَلَاثِينَ وَأَوْتَرُوا بِثَلَاثِ وَهَذَا كُلُّهُ سَائِغٌ فَكَيْفَمَا قَامَ فِي رَمَضَانَ مِنْ هَذِهِ الْوُجُوهِ فَقَدْ أَحْسَنَ . وَالْأَفْضَلُ يَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ أَحْوَالِ الْمُصَلِّينَ فَإِنْ كَانَ فِيهِمْ احْتِمَالٌ لِطُولِ الْقِيَامِ فَالْقِيَامُ بِعَشْرِ رَكَعَاتٍ وَثَلَاثٍ بَعْدَهَا كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي لِنَفْسِهِ فِي رَمَضَانَ وَغَيْرِهِ هُوَ الْأَفْضَلُ وَإِنْ كَانُوا لَا يَحْتَمِلُونَهُ فَالْقِيَامُ بِعِشْرِينَ هُوَ الْأَفْضَلُ وَهُوَ الَّذِي يَعْمَلُ بِهِ أَكْثَرُ الْمُسْلِمِينَ فَإِنَّهُ وَسَطٌ بَيْنَ الْعَشْرِ وَبَيْنَ الْأَرْبَعِينَ وَإِنْ قَامَ بِأَرْبَعِينَ وَغَيْرِهَا جَازَ ذَلِكَ وَلَا يُكْرَهُ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ . وَقَدْ نَصَّ عَلَى ذَلِكَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ الْأَئِمَّةِ كَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِ . وَمَنْ ظَنَّ أَنَّ قِيَامَ رَمَضَانَ فِيهِ عَدَدٌ مُوَقَّتٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُزَادُ فِيهِ وَلَا يُنْقَصُ مِنْهُ فَقَدْ أَخْطَأَ فَإِذَا كَانَتْ هَذِهِ السَّعَةُ فِي نَفْسِ عَدَدِ الْقِيَامِ فَكَيْفَ الظَّنُّ بِزِيَادَةِ الْقِيَامِ لِأَجْلِ دُعَاءِ الْقُنُوتِ أَوْ تَرْكِهِ كُلُّ ذَلِكَ سَائِغٌ حَسَنٌ . وَقَدْ يَنْشَطُ الرَّجُلُ فَيَكُونُ الْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ تَطْوِيلَ الْعِبَادَةِ وَقَدْ لَا يَنْشَطُ فَيَكُونُ الْأَفْضَلُ فِي حَقِّهِ تَخْفِيفَهَا . وَكَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعْتَدِلَةً . إذَا أَطَالَ الْقِيَامَ أَطَالَ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ وَإِذَا خَفَّفَ الْقِيَامَ خَفَّفَ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ هَكَذَا كَانَ يَفْعَلُ فِي الْمَكْتُوبَاتِ وَقِيَامِ اللَّيْلِ وَصَلَاةِ الْكُسُوفِ وَغَيْرِ ذَلِكَ .

“Mengenai doa Qunut dalam salat witir, ulama berbeda pendapat. Pendapat pertama mengatakan hukumnya tidak sunah, karena tidak ada riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw melakukan Qunut saat salat witir. Pendapat kedua mengatakan sunah melakukan Qunut dalam salat witir, sebagaimana yang dikutip dari sahabat Ibnu Mas’ud dan lainnya, juga dikarenakan Rasulullah Saw telah mengajarkan doa Qunut dalam salat witir kepada Hasan bin Ali, sebagaimana yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Sunan hadis. Pendapat ketiga mengatakan (disunahkan) Qunut saat separuh kedua dari bulan Ramadlan, sebagaimana dikutip dari Ubay bin Ka’b. Esensi permasalahannya, Qunut dalam salat witir tergolong sebuah doa yang boleh dilakukan dalam salat, siapa yang berkenan boleh melakukannya, dan yang tidak berkenan boleh meninggalkannya, sebagaimana seseorang diberi pilihan untuk melakukan salat witir sebanyak 3, 5, atau 7 rakaat, begitu pula diberi pilihan apakah ia memisah atau menyambung rakaat akhir dari salat witir dengan salam. Dengan demikian, ketika mereka melakukan salat malam di bulan Ramadlan kemudian mereka membaca doa Qunut satu bulan penuh, maka hal itu baik. Jika membaca doa Qunut sejak pertengahan bulan Ramadlan, maka hal itu juga baik. Begitu pula jika sama sekali tidak membaca doa Qunut.
Sebab, Rasulullah Saw tidak pernah menjelaskan bilangan tertentu dalam salatQiyamu Ramadlan, hanya saja Rasulullah tidak pernah menambah dari 11 rakaat, baik di bulan Ramadlan atau yang lain-, tetapi Rasulullah melakukannya dengan bilangan rakaat yang lama. Ketika Umar mengumpulkan umat Islam dengan menunjuk Ubay bin Ka’b sebagai imam mereka, maka ia melakukannya dengan 20 rakaat yang dilanjutkan dengan salat witir 3 rakaat. Dan ubay melaksanakannya tidak dengan memanjangkan bacaan salatnya, karena yang demikian lebih meringankan kepada makmum daripada memanjangkan 1 rakaat. Diantara segolongan ulama salaf ada yang melakukan Qiyamu Ramadlan sebanyak 40 rakaat, ditambah salat witir 3 rakaat. Ulama yang lain ada yang melakukannya sebanyak 36 rakaat, ditambah salat witir 3 rakaat.
      Hal yang utama (dalam melakukan salat Qiyamu Ramadlan) adalah dengan mempertimbangkan para jamaah. Jika mereka sanggup berdiri lama, maka sebaiknya melakukan Qiyamu Ramadlan 10 rakaat sebagaimana yang dilakukan oleh Raulullah baik di bulan Ramadlan atau yang lainnya. Jika tidak mampu melakukannya, maka yang lebih utama adalah 20 rakaat, dan salat inilah yang dilakukan oleh mayoritas umat Islam, karena 20 rakaat adalah bilangan yang tengah-tengah antara 20 dan 40. jika mereka melakukan 40 rakaat atau yang lain, maka hukumnya boleh dan sama sekali tidak makruh. Hal ini telah dijelaskan oleh para ulama seperti oleh Ahmad bin Hanbal dan lain-lain. Barangsiapa yang mengira bahwa salat Qiyamu Ramadlan meliliki bilangan tertentu dari Rasulullah Saw yang tidak boleh ditambahi atau dikurangi, maka itu adalah anggapan yang salah. Kalau dalam bilangan rakaatnya saja dapat ditolerir, maka bagaimana jika menambah bilangan rakaat untuk melakukan doa Qunut atau meninggalkannya, tentu kesemuanya itu hukumnya boleh dan baik. Terkadang seseorang memiliki semangat yang kuat, maka sebaiknya ia melakukan ibadah yang lama. Namun terkadang ia kurang semangatnya, maka yang utama baginya adalah ibadah yang ringan (tidak panjang). Rasulullah Saw melakukan ibadah salat secara ideal, yaitu ketika Rasul memanjangkan rakaatnya, maka rukuk dan sujudnya juga demikian. Dan ketika beliau meringankan rakaatnya, maka rukuk dan sujudnya juga tidak lama. Dengan cara inilah Rasulullah melakukan ibadah salat wajib lima waktu, salat malam, salat gerhana, dan sebagainya.”

Resume Penulis
Salat Tarawih merupakan salat sunah yang dilaksanakan di bulan Ramadlan. Salat ini tidak dijelaskan secara kongkrit bilangan rakaat dalam riwayat-riwayat hadis, kalaupun ada riwayat tersebut masih diperdebatkan oleh para ulama baik mengenai kesahihan hadisnya maupun arah penggunaan hadisnya yang tidak mengarah pada dalil Tarawih. Diantara alasan mengapa tidak ada kejelasan rakaat dikarenakan kekhawatiran Rasulullah Saw. pada persepsi umat yang menganggap bahwa ibadah malam di bulan Ramadlan adalah wajib, sehingga mereka tidak mampu melaksanakannya.
Dari sinilah kemudian muncul konsensus ulama, bahwa penetapan rakaat Tarawih ini berdasarkan ijma’ para sahabat, dalam hal ini adalah instruksi Sayidina Umar bin Khattab kepada Ubay bin Ka’b untuk melaksanakan Tarawih 20 rakaat. Dan sudah pasti apa yang dilakukan oleh Sayidina Umar ini tidak bertentangan dengan sunah Rasulullah Saw, terlebih lagi perintah Sayidina Umar ini diikuti oleh para sahabat Rasul yang lain. Seandainya saja apa yang diperintahkan oleh Sayidina Umar ini ‘keliru’, maka pasti para sahabat Rasul yang lain akan menentangnya.
Sebagai penutup, kami cantumkan riwayat al-Baihaqi mengenai komentar Imam Syafii tentang salat Tarawih dalam kitabnya Ma’rifat al-Sunan wa al-Atsar (IV/205):
قَالَ الشَّافِعِيُّ وَأَحَبُّ إِلَيَّ إِذَا كَانُوْا جَمَاعَةً أْنْ يُصَلُّوْا عِشْرِيْنَ رَكْعَةً وَيُوْتِرُوْنَ بِثَلَاثٍ. قَالَ وَرَأَيْتُ النَّاسَ يَقُوْمُوْنَ بِالْمَدِيْنَةِ تِسْعًا وَثَلَاثِيْنَ رَكْعَةً ، وَأَحَبُّ إِلَيَّ عِشْرُوْنَ وَكَذَلِكَ رُوِيَ عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَكَذَلِكَ يَقُوْمُوْنَ بِمَكَّةَ
‘al-Syafi’i berkata: Saya lebih senang jika mereka berjamaah untuk salat sebanyak 20 rakaat, dan witir sebanyak 3 rakaat. Saya menemukan umat Islam di Madinah salat malam di bulan Ramadlan sebanyak 39 rakaat, tetapi saya lebih senang yang 20 rakaat sebagaimana yang diriwayatkan dari Umar. 20 rakaat juga dilaksanakan oleh umat Islam di Makkah’.


Muhammad Ma’ruf Khozin                          
Ketua Lembaga Bahtsul Masail PCNU Surabaya


[1] Al-Hafidz al-Haitsami, ulama ahli hadis yang men-takhrij hadis-hadis riwayat al-Thabrani, menyatakan bahwa Abu Syaibah Ibrahim adalah seorang perawi yang dlaif, al-Haitsami tidak menilainya sebagai perawi yang sangat dlaif (Majma’ al-Zawaid, III/224). Penilaian yang sama juga disampaikan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitabFath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari, IV/254, Bab Qiyamu Ramadlan.
[2] Hadis ini, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian Ulama, tidak tepat jika dijadikan sebagai dalil salat Tarawih 11 rakaat. Sebab kelanjutan hadis ini berbunyi: Aisyah berkata:Apakah Engkau tidur terlebih dahulu sebelum melakukan salat Witir? Rasul Saw. menjawab: Dua mataku memang terpejam, tetapi hatiku tidak pernah tidur. Aisyah juga menyebutkan bahwa Rasulullah melakukannya masing-masing dengan 4 rakaat 1 kali salam dengan sangat lama. Perkataan Aisyah yang berbunyi baik di bulan Ramadlan atau bulan lainnya’mempertegas bahwa hadis ini bukan dalil salat Tarawih, karena salat Tarawih hanya ada di bulan Ramadlan. Bahkan al-Hafidz Ibnu Hajar menjadikan hadis ini sebagai dalil dari salat Witir dalam kitab Bulugh al-Maram No. Hadis 303. Berikut ini adalah teks hadisnya secara lengkap:
عَنْ أَبِى سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهَا عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ، يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثًا . فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ « يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَىَّ تَنَامَانِ وَلاَ يَنَامُ قَلْبِى »
[3] Imam Nawawi berkata dalam kitab al-Khulashah bahwa riwayat ini sanadnya adalah sahih (Al-Hafidz al-Zaila’i, Nashb al-Rayah fi Takhriji Ahadits al-Hidayah, III/228)
[4] Kota Madinah sebagai Dar al-Hijrah dan masyarakatnya adalah saksi dan pelaku utama dalam menjalankan syariat dari Rasulullah Saw serta tempat menetapnya paraKhalifah. Oleh karenanya, Imam Malik selalu mengedepankan amaliyah ahli Madinah dalam memutuskan beberapa hukum madzhabnya, sebab amaliyah mereka dinilai sebagai riwayat mutawatir yang bersifat ‘pasti’, meskipun bertentangan dengan hadis sahih, sebab hadis sahih sebagiannya bersifat perorangan (Mawahib al-Jalil, IV/120).
[5] Imam al-Nawawi: Hukum salat Tarawih adalah sunah, berdasarkan ijma’ ulama. Dalam madzhab kami, Tarawih dilaksanakan sebanyak 20 rakaat, boleh dilakukan sendiri atau berjamaah. Ulama Syafi’iyah sepakat bahwa salat Tarawih secara berjamaah hukumnya lebih utama… Para ulama yang mengatakan Tarawih 20 rakaat adalah madzhab Syafi’i, Abu Hanifah, Ahmad, Dawud dan sebagainya. Sementara al-Aswad bin Mazid melakukan Tarawih 40 rakaat dan witir 7 rakaat. Sedangkan madzhab Maliki sebanyak 36 rakaat dan witir 3 rakaat berdasarkan amaliyah penduduk Madinah (al-Majmu’ IV/32-33).
[6] Silahkan baca kembali footnote no. 2 dari Fatwa al-Suyuthi mengenai penggunaan dalil hadis tersebut.
[7] Kesimpulan dan argumen tersebut sekaligus menjadi sebuah bantahan kepada sebagian pihak yang menilai bahwa ‘Rakaat Tarawih menurut ulama ahli hadis adalah 8 rakaat, sedangkan yang 20 rakaat adalah pendapat ulama fikih.’
[8] Banyak dari pengikut Ibnu Taimiyah yang fanatis bersikukuh mengatakan bahwa salat Tarawih hanya 11 Rakaat dengan salat witirnya. Namun Ibnu Taimiyah tidak sekolot para pengikutnya, justru ia memiliki pendapat yang moderat dan arif dalam menjawab perbedaan para ulama mengenai rakaat salat Tarawih.
-  Hadis riwayat al-Bukhari (No. 2013) ini, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian Ulama, tidak tepat jika dijadikan sebagai dalil salat Tarawih 11 rakaat. Sebab kelanjutan hadis ini berbunyi: “Aisyah berkata: Apakah Engkau tidur terlebih dahulu sebelum melakukan salat Witir? Rasul Saw. menjawab: Dua mataku memang terpejam, tetapi hatiku tidak pernah tidur.” Aisyah juga menyebutkan bahwa Rasulullah melakukannya masing-masing dengan 4 rakaat dan 1 kali salam dengan sangat lama. Perkataan Aisyah yang berbunyibaik di bulan Ramadlan atau bulan lainnya’ mempertegas bahwa hadis ini bukan dalil salat Tarawih, karena salat Tarawih hanya ada di bulan Ramadlan. Bahkan al-Hafidz Ibnu Hajar menjadikan hadis ini sebagai dalil dari salat Witir dalam kitab Bulugh al-MaramNo. Hadis 303.

di sadur dari : http://hujjahnu.blogspot.com

Mengirim Doa Dengan Bacaan Al Fatihah

Written By Rudi Yanto on Sabtu, 24 Mei 2014 | 5/24/2014


Sebagian besar umat Islam Indonesia sering melakukan doa dengan bacaan al-Fatihah, apakah terkait pembukaan acara, mengirim doa untuk para almarhum, ziarah kubur dan sebagainya. Adakah dasar pembacaan al-Fatihah dalam doa? 

JawabanAl-Quran menyebutkan bahwa ada 7 ayat yang diulang-ulang (as-Sab'u al-Matsani. QS al-Hijr: 87), para ahli tafsir sepakat bahwa yang dimaksud 7 ayat tersebut adalah surat al-Fatihah.Dalam riwayat Bukhari (2276) dan Muslim (5863) Abu Said al-Khudri yang dimintai tolong oleh sekelompok suku yang pimpinannya sakit karena tersengat hewan. Abu Said mengobatinya dengan doa al-Fatihah. Setelah dilaporkan kepada Rasulullah Saw, beliau bertanya: "Darimana kamu tahu bahwa al-Fatihah untuk ruqyah (pengobatan)? Kalian sudah benar." Dalam riwayat Abu Dawud, Turmudzi dan Nasai ada juga seorang sahabat yang memakai al-Fatihah untuk mengobati orang yang kesurupan. Rasulullah pun tidak menyalahkannya.Dari hadis ini Imam an-Nawawi menganjurkan membaca al-Fatihah ketika menjenguk orang sakit (at-Tibyan fi adabi Hamalat al-Quran I/183). Membaca al-Fatihah untuk orang mati juga dillakukan oleh ulama sejak dahulu, misalnya ahli tafsir Syaikh al-Razi berkata: "Saya berwasiat kepada pembaca kitab saya dan yang mempelajarinya agar secara khusus membacakan al-Fatihah untuk anak saya (yang telah wafat) dan diri saya, serta mendoakan orang-orang yang meninggal nan jauh dari teman dan keluarga dengan doa rahmat dan ampunan. Dan saya sendiri akan mendoakan mereka yang telah berdoa untuk saya" (Tafsir al-Razi 18/233-234)
سنن أبي داود - (ج 2 / ص 286) 3420 - حدثنا عبيد الله بن معاذ ثنا أبي ثنا شعبة عن عبد الله بن أبي السفر عن الشعبي عن خارجة بن الصلت عن عمه : أنه مر بقوم فأتوه فقالوا إنك جئت من عند هذا الرجل بخير فارق لنا هذا الرجل فأتوه برجل معتوه في القيود فرقاه بأم القرآن ثلاثة أيام غدوة وعشية وكلما ختمها جمع بزاقه ثم تفل فكأنما أنشط من عقال ( أي حل من وثاق ) فأعطوه شيئا فأتى النبي صلى الله عليه و سلم فذكره له فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم " كل فلعمري لمن أكل برقية باطل لقد أكلت برقية حق " .قال الشيخ الألباني : صحيح
http://hujjahnu.blogspot.com/2013/02/doa-dengan-bacaan-al-fatihah.html

Kata 'Sayidina' dalam Tahiyat

Disadur dari : 
Ada suatu pertanyaan : Apakah benar dalam tahiyatul akhir seperti ini: "Allahumma shalli ala saydina Muhammad wa ala ali sayidina Muhammad, kama shallaita ala sayidina…." ??.

Dalam tahiyat (atau shalawat) yang diajarkan oleh Rasulullah Saw memang tidak ada lafadz 'Sayidina'. Namun penambahan tersebut bukan berarti tidak boleh.
Dalam hadis-hadis sahih Rasulullah Saw mengaku bahwa beliau adalah sayid. Yaitu: "Ana sayidu waladi Adam yaumal qiyamati wa la fakhra". Artinya" Saya adalah sayid (pemuka) putra Adam di hari kiamat, dan tidak sombong"  (HR Muslim, Turmudzi dan lainya).
Dalam hadis Bukhari (No 799) diriwayatkan bahwa ada seorang sahabat yang menambahkan bacaan setelah rukuk dan didengar oleh Nabi Saw, justru beliau memujinya. Dari hadis ini ahli hadis al Hafidz Ibnu Hajar berkata: "Hadis ini menunjukkan diperbolehkannya menambah bacaan yang tidak ada dalam salat, selama bacaan tersebut tidak bertentangan dengan riwayat dari Nabi" (Fath al Bari II/287). Dan kita ketahui kata 'Sayid' ada dalam hadis-hadis Nabi. Dalil lainnya adalah bacaan syahadat dalam tasyahhud oleh Ibnu Umar ditambah: "Wahdahu la syarika lahu"(HR Abu Dawud No 973).
Dengan demikian diperbolehkan menambah kata 'Sayidina' dalam tasyahhud sebagai bentuk menjaga etika kepada Rasulullah Saw (Ianatut Thalibin I/197)

وقوله: وأن محمدا رسول الله الاولى ذكر السيادة، لان الافضل سلوك الادب (حاشية إعانة الطالبين1 / 198)
وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى جَوَازِ إِحْدَاثِ ذِكْرٍ فِي الصَّلاَةِ غَيْرِ مَأْثُوْرٍ إِذَا كَانَ غَيْرَ مُخَالِفٍ لِلْمَأْثُوْرِ وَعَلَى جَوَازِ رَفْعِ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ مَا لَمْ يُشَوِّشْ عَلَى مَنْ مَعَهُ (فتح الباري لابن حجر 2 / 287)
عَنْ مُجَاهِدٍ يُحَدِّثُ عَنْ ابْنِ عُمَرَ (فِى التَّشَهُّدِ) أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ قَالَ ابْنُ عُمَرَ زِدْتُ فِيهَا وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ (رواه أبو داود رقم 973)

Amaliyah Malam Nishfu Sya'ban-1

Written By Rudi Yanto on Rabu, 21 Mei 2014 | 5/21/2014


Amaliyah Malam Nishfu Sya'ban
Moh. Ma'ruf Khozin
 (Anggota LBM PWNU Jatim)

Diantara keutamaan Sya'ban karena di dalamnya ada malam Nishfu Sya'ban. Banyak dari umat Islam yang di malam tersebut melakukan amalan tertentu, misalnya dzikir, membaca al-Quran dan sebagainya yang intinya adalah meminta ampunan kepada Allah. Amaliyah ini memang tidak dilakukan di awal generasi sahabat, namun Rasulullah dalam sabda-sabdanya yang masuk dalam kategori sahih telah memberi isyarat akan kemulian malam tersebut. Dan jika sebuah amaliyah memiliki dasar dalam Islam, maka amaliyah tersebut tidak termasuk bid'ah tercela, terlebih lagi telah diamalkan sejak generasi Tabi'in dan ulama Salaf.

Sejarah Pelaksanaan Malam Nishfu Sya'ban
Malam Nishfu Sya'ban dilakukan pertama kali oleh para Tabi'in (generasi setelah Sahabat Nabi) di Syam Syria, seperti Khalid bin Ma'dan (perawi dalam Bukhari dan Muslim), Makhul (perawi dalam Bukhari dan Muslim), Luqman bin 'Amir (al-Hafidz Ibnu Hajar menilainya 'jujur') dan sebagainya, mereka mengagungkannya dan beribadah di malam tersebut. Dari mereka inilah kemudian orang-orang mengambil keutamaan Nishfu Sya'ban. Ketika hal ini menjadi populer di berbagai Negara, maka para ulama berbeda-beda dalam menyikapinya, ada yang menerima diantaranya adalah para ulama di Bashrah (Irak). Namun kebanyakan ulama Hijaz (Makkah dan Madinah) mengingkarinya seperti Atha', Ibnu Abi Mulaikah, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari ulama Madinah dan pendapat beberapa ulama Malikiyah mengatakan: "Semuanya adalah bid'ah".
Ulama Syam berbeda-beda dalam melakukan ibadah malam Nishfu Sya'ban. Pertama, dianjurkan dilakukan secara berjamaah di masjid-masjid. Misalnya Khalid bin Ma'dan, Luqman bin Amir dan lainnya, mereka memakai pakaian terbaiknya, memakai minyak wangi, memakai celak mata dan berada di masjid. Hal ini disetujui oleh Ishaq bin Rahuwaih (salah satu Imam Madzhab yang muktabar), dan beliau mengatakan tentang ibadah malam Nishfu Sya'ban di masjid secara berjamaah: "Ini bukan bid'ah". Dikutip oleh Harb al-Karmani dalam kitabnya al-Masail. Kedua, dimakruhkan untuk berkumpul di masjid pada malam Nishfu Sya'ban untuk shalat, mendengar cerita-cerita dan berdoa. Namun tidak dimakruhkan jika seseorang salat (sunah mutlak) sendirian di malam tersebut. Ini adalah pendapat al-Auza'i, imam ulama Syam, ahli fikih yang alim. Inilah yang paling tepat, InsyaAllah. (Syaikh al-Qasthalani dalam Mawahib al-Ladunniyah II/259 yang mengutip dari Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma'arif 151)

Dalil-Dalil Hadis Nishfu Sya'ban
Hadis Pertama
عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ عَن ِالنَّبِيِّ e قَالَ يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ (رواه الطبراني في الكبير والأوسط قال الهيثمى ورجالهما ثقات. ورواه الدارقطنى وابنا ماجه وحبان فى صحيحه عن ابى موسى وابن ابى شيبة وعبد الرزاق عن كثير بن مرة والبزار)
 “Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah memperhatikan hambanya (dengan penuh rahmat) pada malam Nishfu Sya’ban, kemudian Ia akan mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan musyahin (orang munafik yang menebar kebencian antar sesama umat Islam)”. (HR Thabrani fi Al Kabir no 16639, Daruquthni fi Al Nuzul 68, Ibnu Majah no 1380, Ibnu Hibban no 5757, Ibnu Abi Syaibah no 150, Al Baihaqi fi Syu’ab al Iman no 6352, dan Al Bazzar fi Al Musnad 2389. Peneliti hadis Al Haitsami menilai para perawi hadis ini sebagai orang-orang yang terpercaya. Majma’ Al Zawaid 3/395)
Ulama Wahabi, Nashiruddin al-Albani yang biasanya menilai lemah (dlaif) atau palsu (maudlu') terhadap amaliyah yang tak sesuai dengan ajaran mereka, kali ini ia tak mampu menilai dlaif hadis tentang Nishfu Sya'ban, bahkan ia berkata tentang riwayat diatas: "Hadis ini sahih" (Baca as-Silsilat ash-Shahihah 4/86)
1563 - إن الله ليطلع في ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن (صحيح)  اهـ السلسلة الصحيحة للالباني (4/ 86)
Hadis Kedua
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنَّ اللهَ تَعَالَى يَدْنُوْ مِنْ خَلْقِهِ فَيَغْفِرُ لِمَنِ اسْتَغْفَرَ إِلاَّ الْبَغِيَّ بِفَرْجِهَا وَالْعَشَّارَ (رواه الطبراني في الكبير وابن عدي عن عثمان بن أبي العاص وقال الشيخ المناوي ورجاله ثقات اهـ التيسير بشرح الجامع الصغير 1/551)
"Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya (rahmat) Allah mendekat kepada hambanya (di malam Nishfu Sya'ban), maka mengampuni orang yang meminta ampunan, kecuali pelacur dan penarik pajak" (HR al-Thabrani dalam al-Kabir dan Ibnu 'Adi dari Utsman bin Abi al-'Ash. Syaikh al-Munawi berkata: Perawinya terpercaya. Baca Syarah al-Jami' ash-Shaghir 1/551)

Hadis Ketiga
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْزِلُ اللهُ تَعَالَى لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِكُلِّ نَفْسٍ إِلاَّ إِنْسَانًا فِي قَلْبِهِ شَحْنَاءُ أَوْ مُشْرِكًا بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ (قال الحافظ ابن حجر هذا حديث حسن أخرجه الدارقطني في كتاب السنة عن عبد الله بن سليمان على الموافقة وأخرجه ابن خزيمة في كتاب التوحيد عن أحمد بن عبد الرحمن بن وهب عن عمه اهـ الأمالي 122)
Qala Saw: "Yanzilu Allahu ta'ala lailatan nishfi min Sya'bana fa yaghfiru li kulli nafsin illa insanan fi qalbihi syahna' au musyrikan billahi azza wa jalla". Artinya “Rasulullah Saw bersabda: (Rahmat) Allah turun dimalam Nishfu Sya’ban maka Allah akan mengampuni semua orangkecuali orang yang di dalam hatinya ada kebencian kepada saudaranya dan orang yang menyekutukan Allah" (al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: "Hadis ini hasan. Diriwayatkan oleh Daruquthni dalam as-Sunnah dan Ibnu Khuzaimah dalam at-Tauhid, Baca al-Amali 122)
al-Hafidz Ibnu Hajar juga meriwayatkan hadis yang hampir senada dari Katsir bin Murrah:
عَنْ كَثِيْرِ بْنِ مُرَّةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ رَبَّكُمْ يَطَّلِعُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى خَلْقِهِ فَيَغْفِرُ لَهُمْ كُلِّهِمْ إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ مُشْرِكًا أَوْ مُصَارِمًا (المطالب العالية للحافظ ابن حجر العسقلاني 3 / 424)

Nishfu Sya'ban Menurut Para Ulama
Sahabat Abdullah bin Umar Ra
عَنِ ابْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ خَمْسُ لَيَالِيَ لاَ يُرَدُّ فِيْهِنَّ الدُّعَاءُ لَيْلَةُ الْجُمْعَةِ وَأَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَلَيْلَتَا الْعِيْدِ (أخرجه البيهقي في شعب الإيمان رقم 3711 وفي فضائل الأوقات رقم 149 وعبد الرزاق رقم 7927)
"Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Ada 5 malam yang doa tidak akan ditolak. Yaitu doa malam Jumat, malam pertama bulan Rajab, Malam Nishfu Sya'ban dan malam dua hari raya" (al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman No 3811 dan dalam Fadlail al-Auqat No 149, dan Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf No 7928)

Imam asy-Syafi'I (150-204 H / 767-820 M)
قَالَ الْبَيْهَقِي قَالَ الشَّافِعِي وَبَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ يُقَالُ إِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِي خَمْسِ لَيَالٍ فِي لَيْلَةِ الْجُمْعَةِ وَلَيْلَةِ اْلأَضْحَى وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ وَأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ (أخرجه البيهقي في السنن الكبرى رقم 6087 وفي معرفة السنن والآثار رقم 1958 وذكره الحافظ ابن حجر في تلخيص الحبير رقم 675)
Ahli hadis al-Baihaqi mengutip dari Imam Syafi'i: " Telah sampai kepada kami bahwa doa dikabulkan dalam lima malam, yaitu awal malam bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, dua malam hari raya dan malam Jumat" (as-Sunan al-Kubra No 6087, Ma'rifat as-Sunan wa al-Atsar No 1958, dan dikutip oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Talkhis al-Habir No 675)

Ulama Syafi'iyah
قَالَ الشَّافِعِي وَاَنَا اَسْتَحِبُّ كُلَّ مَا حُكِيَتْ فِي هَذِهِ اللَّيَالِي مِنْ غَيْرِ اَنْ تَكُوْنَ فَرْضًا هَذَا آخِرُ كَلاَمِ الشَّافِعِي وَاسْتَحَبَّ الشَّافِعِي وَاْلاَصْحَابُ اْلاِحْيَاءَ الْمَذْكُوْرَ (المجموع للنووي 5 / 43)
"asy-Syafii berkata: Saya menganjurkan semua yang diriwayatkan tentang ibadah di malam-malam tersebut (termasuk malam Nishfu Sya'ban), tanpa menjadikannya sebagai sesuatu yang wajib. asy-Syafii dan ulama Syafi'iyah menganjurkan ibadah dengan cara yang telah disebutkan" (Imam an-Nawawi dalam al-Majmu' 5/43)

Ahli Hadis al-Hafidz al-Iraqi (725-806 H / 1325-1404 M)
قَالَ الزَّيْنُ الْعِرَاقِي مَزِيَّةُ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ مَعَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْزِلُ كُلَّ لَيْلَةٍ أَنَّهُ ذُكِرَ مَعَ النُّزُوْلِ فِيْهَا وَصْفٌ آخَرُ لَمْ يُذْكَرْ فِي نُزُوْلِ كُلِّ لَيْلَةٍ وَهُوَ قَوْلُهُ فَيَغْفِرُ ِلأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ وَلَيْسَ ذَا فِي نُزُوْلِ كُلِّ لَيْلَةٍ وَلأَنَّ النُّزُوْلَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مُؤَقَّتٌ بِشَرْطِ اللَّيْلِ أَوْ ثُلُثِهِ وَفِيْهَا مِنَ الْغُرُوْبِ (فيض القدير للمناوي 2/ 402)
"Zainuddin al-Iraqi berkata: Keistimewaan malam Nishfu Sya'ban dimana setiap malam (rahmat) Allah turun ke langit terendah, adalah karena memiliki karakteristik tersendiri yang tidak ada dalam setiap malam, yaitu 'Allah akan memberi ampunan'. Juga karena di setiap malam ditentukan waktunya setelah lewat tengah malam atau sepertiga akhir, sementara dalam Nishfu Sya'ban dimulai setelah terbenam matahari" (Faidl al-Qadir, Syaikh al-Munawi, 2/402)

Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami (909-973 H / 1504-1567 M)
وَالْحَاصِلُ أَنَّ لِهَذِهِ اللَّيْلَةِ فَضْلاً وَأَنَّهُ يَقَعُ فِيْهَا مَغْفِرَةٌ مَخْصُوْصَةٌ وَاسْتِجَابَةٌ مَخْصُوْصَةٌ وَمِنْ ثَمَّ قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِيْهَا (الفتاوى الفقهية الكبرى لابن حجر الهيتمي 2/ 80)
"Kesimpulannya, bahwa Malam Nishfu Sya'ban ini memiliki keutamaan. Di dalamnya terdapat ampunan khusus dan terkabulnya doa secara khusus. Oleh karenanya as-Syafi'i berkata: Doa dikabulkan di Malam Nishfu Sya'ban" (Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah 2/80)

Syaikh Ibnu Taimiyah (661-728 H / 1263-1328 M. Ideolog Utama aliran Wahabi)
وَمِنْ هَذَا الْبَابِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقَدْ رُوِىَ فِي فَضْلِهَا مِنَ اْلأَحَادِيْثِ الْمَرْفُوْعَةِ وَاْلآثَارِ مَا يَقْتَضِي أَنَّهَا لَيْلَةٌ مُفَضَّلَةٌ وَأَنَّ مِنَ السَّلَفِ مَنْ كَانَ يَخُصُّهَا بِالصَّلاَةِ فِيْهَا وَصَوْمُ شَهْرِ شَعْبَانَ قَدْ جَاءَتْ فِيْهِ أَحَادِيْثُ صَحِيْحَةٌ وَمِنَ الْعُلَمَاءِ مِنَ السَّلَفِ مِنْ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ وَغَيْرِهِمْ مِنَ الْخَلَفِ مَنْ أَنْكَرَ فَضْلَهَا وَطَعَنَ فِي اْلأَحَادِيْثِ الْوَارِدَةِ فِيْهَا كَحَدِيْثِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ فِيْهَا ِلأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ بَنِي كَلْبٍ وَقَالَ لاَ فَرْقَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ غَيْرِهَا لَكِنِ الَّذِي عَلَيْهِ كَثِيْرٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَوْ أَكْثَرُهُمْ مِنْ أَصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ عَلَى تَفْضِيْلِهَا وَعَلَيْهِ يَدُلُّ نَصُّ أَحْمَدَ لِتَعَدُّدِ اْلأَحَادِيْثِ الْوَارِدَةِ فِيْهَا وَمَا يُصَدِّقُ ذَلِكَ مِنَ اْلآثَارِ السَّلَفِيَّةِ وَقَدْ رُوِِىَ بَعْضُ فَضَائِلِهَا فِي الْمَسَانِيْدِ وَالسُّنَنِ وَإِنْ كَانَ قَدْ وُضِعَ فِيْهَا أَشْيَاءٌ أُخَرُ (اقتضاء الصراط 302)
"Keutamaan malam Nishfu Sya'ban diriwayatkan dari hadis-hadis marfu' dan atsar (amaliyah sahabat dan tabi'in), yang menunjukkan bahwa malam tersebut memang utama. Dan sebagian ulama Salaf ada yang secara khusus melakukan salat sunah (mutlak) di malam tersebut … Kebanyakan ulama atau kebanyakan ulama dari kalangan kami mengatakan keutamaan malam Nishfu Sya'ban. Ini sesuai dengan penjelasan Imam Ahmad karena banyaknya hadis yang menjelaskan tentang malam Nishfu Sya'ban dan yang mendukungnya dari riwayat ulama Salaf. Sebab riwayat Malam Nishfu Sya'ban terdapat dalam kitab-kitab Musnad dan Sunan, meskipun di dalamnya juga ada sebagian hadis-hadis palsu"  (Iqtidla' ash-Shirat al-Mustaqim 302)
وَسُئِلَ عَنْ صَلاَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ ؟ (الْجَوَابُ) فَأَجَابَ: إذَا صَلَّى اْلإِنْسَانُ لَيْلَةَ النِّصْفِ وَحْدَهُ أَوْ فِيْ جَمَاعَةٍ خَاصَّةٍ كَمَا كَانَ يَفْعَلُ طَوَائِفُ مِنْ السَّلَفِ فَهُوَ أَحْسَنُ. وَأَمَّا اْلاِجْتِمَاعُ فِي الْمَسَاجِدِ عَلَى صَلاَةٍ مُقَدَّرَةٍ كَاْلاِجْتِمَاعِ عَلَى مِائَةِ رَكْعَةٍ بِقِرَاءَةِ أَلْفٍ: {قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ} دَائِمًا. فَهَذَا بِدْعَةٌ لَمْ يَسْتَحِبَّهَا أَحَدٌ مِنَ اْلأَئِمَّةِ. وَاللهُ أَعْلَمُ  (مجموع فتاوى ابن تيمية ج 2 ص 469)
“Ibnu Taimiyah ditanya soal shalat pada malam nishfu Sya’ban. Ia menjawab: Apabila seseorang shalat sunah muthlak pada malam nishfu Sya’ban sendirian atau berjamaah, sebagaimana dilakukan oleh segolongan ulama salaf, maka hukumnya adalah baik. Adapun kumpul-kumpul di masjid dengan shalat yang ditentukan, seperti salat seratus raka’at dengan membaca surat al Ikhlash sebanyak seribu kali, maka ini adalah perbuata bid’ah yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama”. (Majmú' Fatáwá Ibnu Taymiyyah, II/469)

Syaikh al-Mubarakfuri (1361-1427 H / 1942-2006 M)
وَهَذِهِ اْلأَحَادِيْثُ كُلُّهَا تَدُلُّ عَلَى عَظِيْمِ خَطَرِ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ وَجَلاَلَةِ شَأْنِهَا وَقَدْرِهَا وَأَنَّهَا لَيْسَتْ كَاللَّيَالِي اْلأُخَرِ فَلاَ يَنْبَغِي أَنْ يُغْفَلَ عَنْهَا بَلْ يُسْتَحَبُّ إِحْيَاءُهَا بِالْعِبَادَةِ وَالدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ وَالْفِكْرِ (مرعاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح 4/ 341)
"Hadis-hadis ini secara keseluruhan menunjukkan keagungan Malam Nishfu Sya'ban, dan malam tersebut tidak sama dengan malam-malam yang lain. Dan dianjurkan untuk tidak melupakannya, bahkan dianjurkan untuk menghidupinya dengan ibadah, doa, dzikir dan tafakkur" (Syaikh al-Mubarakfuri dalam Syarah Misykat al-Mashabih 4/341)

Membaca Yasin di Malam Nishfu Sya'ban
وَأَمَّا قِرَاءَةُ سُوْرَةِ يس لَيْلَتَهَا بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَالدُعَاءِ الْمَشْهُوْرِ فَمِنْ تَرْتِيْبِ بَعْضِ أهْلِ الصَّلاَحِ مِنْ عِنْدِ نَفْسِهِ قِيْلَ هُوَ الْبُوْنِى وَلاَ بَأْسَ بِمِثْلِ ذَلِكَ (أسنى المطالب فى أحاديث مختلفة المراتب ص 234)
“Adapun pembacaan surat Yasin pada malam Nishfu Sya’ban setelah Maghrib merupakan hasil ijtihad  sebagian ulama, konon ia adalah Syeikh Al Buni, dan hal itu bukanlah suatu hal yang buruk”. (Syaikh Muhammad bin Darwisy, Asná al-Mathálib, 234)
Kesimpulan
Berdasarkan hadis-hadis sahih diatas dan ijtihad para ulama hadis dan fikih menunjukkan bahwa amaliyah di malam Nishfu Sya'ban memiliki dasar yang kuat dan bukan perbuatan bid'ah yang sesat, karena telah diamalkan sejak generasi ulama salaf. Jika Tarawih di Madinah 39 rakaat yang baru dirintis di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Bani Umayyah tidak ada yang menghukumi bid'ah bahkan menjadi acuan sah ijtihad ulama Malikiyah, lalu bagaimana bisa amaliyah malam Nishfu Sya'ban dituduh bid'ah yang sesat? Wallahu A'lam
 
Contact Support: Twitter | Facebook
Copyright © 2012. AL-MUSABBIHIN - All Rights Reserved
Published by TakadaTapiono Creative