Home » » Palembang Sebagai Pusat Keilmuan Islam Nusantara

Palembang Sebagai Pusat Keilmuan Islam Nusantara

Written By Rudi Yanto on Rabu, 07 November 2018 | 11/07/2018

Kalau kita membaca karya-karya yang membahas tentang jaringan ulama Nusantara terutama abad ke 18 hingga awal 20 masehi, kita akan menemukan begitu banyak nama ulama Nusantara yang berasal dari Palembang. Tentu hal ini menjadi hal yang menarik untuk disimak, sejauh mana pengaruh para ulama Palembang tersebut terhadap perkembangan keilmuan Islam, terutama ilmu hadits ini. Seperti kita tahu, zaman keemasan jejaring ulama Nusantara, seperti yang disebutkan Prof. Azyumardi Azra dalamdesertasinya, adalah sekitar abad 18 hingga awal abad 20. Sepanjang masa itu, para ulama Nusantara ikut menjadi pioneer ulama di bidang keilmuan masing-masing yang pusatnya berada di Haromain. Dan dalam ilmu hadits, kebanyakan para mualif (pengarang kitab) tidak lupa mengambil sanad dari para ulama Nusantara, terutama ulama Palembang.
Disebutkan dalam Qurrotu ‘Ainil Muhtaj Fi Syarhi Muqaddimati Shohih Al Imam Muslim bin Al Hajaaj karya Syaikh Muhammad bin Ali bin Adam bin Musa Al Ithyubi, bahwa penulis mengambil sanad “Kitab Shohih Muslim” dari beberapa ulama Nusantara terlebih kebanyakan ulama Palembang. Beberapa ulama Palembang tersebut adalah :
  1. Syaikh Muhammad bin Kenan Al Falimbangi, guru dari Syaikh Nawawi bin Umar Al Bantani
  2. Syaikh Abdus Shomad Al Falimbangi, wafat 1203 H/ 1788 M
  3. Syaikh Aqib bin Hasanuddin Al Falimbangi
  4. Syaikh Hasanuddin bin Ja’far Al Falimbangi, murid dari Imam ‘Id bin Ali Al Namrasi Al Mishri (w. 1140 H/ 1727 M), seorang ulama besar abad 12 H/ 18 M
Hal ini menjadi fakta bahwa ulama Nusantara terutama ulama Palembang , sudah berkiprah dan menjadi musnid bertaraf internasional sejak paruh pertama abad ke 12 H atau 18 M.
Ada pula fakta lain merujuk pada riset yang bertajuk Daurun Nisaa’ Fil ‘Inaayati Bis Shohihaini (riwaayat) Minal Quruunir Robii’ Hijri Hattal Quruuni Robi’ ‘Isyril Hijri (Peran Perempuan DalamMelestarikan Kitab Shahih Bukhari-Muslim [Dengan Transmisi] Sejak Abad ke-4 hingga 14 H), karya Shafiyya Idris Fallata dari Universitas Jordan, tahun 2010. Dari riset tersebut ditemukan data penting lainnya, yaitu :
  1. Salah satu dari sedikit ulama perempuan yang disebutkan di buku tersebut (ulama perempuan ahli hadits sepanjang abad ke-4 H sampai 14 H) adalah seorang ulama perempuan asal Nusantara, tepatnya dari Palembang. Ulama perempuan tersebut adalah Syaikhah Fathimah, puteri dari Syaikh ‘Abdus Shamad al-Falambani.
  2. Syaikhah Fathimah adalah satu dari tiga ulama perempuan ahli hadits di abad ke-14 H (19 M). Ketiga ulama perempuan ahli hadits tersebut adalah : Syaikhah Ummatullah binti Abdul Ghani Al Dahlawi (Delhi, India), Syaikhah Fathimah binti Abdus Shamad Al Falimbani (Palembang, Nusantara), dan Syaikhah Fathimah binti Ya’qub Al Makki (Mekkah).
Lalu ada pula dari kitab Natsirul Jawahir Wad Duror Fil Ulamail Qurunir Rabi’ ‘Asyar karya Prof. Dr. Yusuf Ar Mar’ashli, profesor hadits, Fakultas Syari’ah Universitas Islam Beirut, yang memuat biogrfi ulama abad ke 14 H (19-20 M). Di dalamnya terdapat berbagai fakta sebagai berikut :
  1. Terdapat lebih dari 60 ulama asal Nusantara, beberapa ulama tersebut berasal dari Falimbani (Palembang).
  2. Beberapa ulama tersebut banyak berkiprah di dunia keilmuan Islam skala internasional dengan menjadi Syaikh, Khatib, Muallif, Katib, Dosen, Jurnalis, Musnid, dan lain-lain. Kiprah mereka sangat berpengaruh terhadap keilmuan Islam di dunia saat itu.
  3. Lebih dari 150 buah karya ulama Nusantara yang ditulis lalu diterbitkan di Mekkah, Kairo, Istanbul, Bombay, Singapura, Pattani dan Nusantara (Jawi).
Dalam kitab tersebut, juga disebutkan berbagai tokoh ulama Nusantara yang berasal dari Palembang, yaitu :
  1. Hasyim bin Kemas Al Falimbangi
  2. Muhammad Nur bin Abdullah Al Falimbangi
  3. Husain bin Abdurrahim Al Falimbangi
  4. Abdullah bin Azhuri Al Falimbangi
  5. Wahyudin bin Abdul Ghani Al Falimbangi
  6. Muhsin bin Al Musawwa Al Falimbangi
  7. Muhammad Muhkraruddin Al Falimbangi
Dari berbagai fakta tersebut, kita bisa menarik kesimpulan bahwa pertama, menandakan kajian keilmuan Islam terutama ilmu hadits, sudah berkembang sangat pesat di Palembang, menimbang dari banyaknya tokoh ulama Palembang yang menjadi rujukan para pengampu hadits. Kedua, menandakan bahwa Palembang sudah menjadi pusat keilmuan hadits di masa itu, terutama di Asia Tenggara, yang terkoneksi dengan berbagai pusat keilmuan Islam di daerah Nusantara lainnya.
Dengan fakta tersebut, semoga santri generasi sekarang lebih bersemangat untuk menghidupkan lagi kejayaan keilmuan keislaman di Nusantara, terkhusus santri dari Palembang.
Allahul muwaffiq ilaa aqwamith Thariiq.
Sumber : Disarikan dari desertasi Kyai Ginanjar Sy’ban, Pasca Sarjana UIN Raden Fatah tahun 2010. Penyusun, Fahmi Ali N H (Tim Sarkub)
Share this article :
 
Contact Support: Twitter | Facebook
Copyright © 2012. AL-MUSABBIHIN - All Rights Reserved
Published by TakadaTapiono Creative